Puasa bukan sekadar ibadah agama — ia juga topik penelitian kesehatan modern yang makin mendapat perhatian ilmuwan.
Beberapa studi menyebutkan bahwa pembatasan asupan energi melalui puasa dapat berpengaruh positif terhadap mekanisme tubuh yang berkaitan dengan penyakit kronis, termasuk kanker. Sebabnya terletak pada perubahan biologis yang terjadi ketika tubuh beradaptasi dengan periode tanpa makanan.
Salah satu penemuan penting datang dari Jepang, di mana ilmuwan peraih Hadiah Nobel Dr. Yoshinori Ohsumi menemukan bahwa puasa meningkatkan proses autofagi — mekanisme pembersihan sel yang dapat menyingkirkan sel rusak dan mencegah akumulasi sel abnormal. Autofagi ini memiliki peran penting dalam membersihkan komponen sel yang berpotensi menjadi kanker atau penyakit degeneratif lainnya [3].
Penelitian dan Dampaknya pada Risiko Penyakit
Meski tidak semua studi secara langsung mengaitkan puasa dengan penurunan risiko kanker pada manusia, sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara pola puasa dengan faktor risiko penyakit kronis.
Misalnya, penelitian kesehatan tropis menyimpulkan bahwa puasa dapat memberikan manfaat serta potensi lebih kuat untuk mencegah penyakit tidak menular bila dikombinasikan dengan gaya hidup sehat secara menyeluruh [1].
Penelitian lain dari sisi perilaku metabolik di Jepang menyatakan bahwa kadar gula darah puasa berkaitan dengan mortalitas akibat kanker pankreas — menunjukkan bahwa kondisi metabolic tubuh saat puasa berpengaruh pada risiko penyakit serius itu [2].
Sementara itu, temuan dari berbagai literatur kesehatan umum menegaskan bahwa puasa dapat menurunkan resistensi insulin dan tingkat peradangan, dua faktor yang secara ilmiah terkait dengan risiko kanker dan penyakit kronis lainnya [4]
Bagaimana Puasa Bekerja dalam Tubuh

Ketika tubuh berpuasa, beberapa perubahan metabolik terjadi.
Pertama, kadar insulin cenderung turun. Insulin tinggi kronis merupakan faktor risiko untuk beberapa jenis kanker karena memicu proliferasi sel abnormal.
Kedua, proses autofagi yang diaktifkan saat puasa membantu tubuh memperbarui sel, memperbaiki DNA rusak, dan mengeliminasi akumulasi protein yang buruk. Proses ini bukan sekadar teori — ia dijelaskan oleh Dr. Ohsumi dalam mekanisme autophagy yang diakui secara internasional [3].
Ketiga, puasa bisa membantu menurunkan obesitas dan resistensi insulin — dua faktor yang diketahui meningkatkan risiko beberapa jenis kanker seperti kanker usus besar dan payudara.
Namun perlu diingat, efek ini tidak otomatis muncul pada semua orang. Faktor gaya hidup lain seperti pola makan seimbang, olahraga, dan genetika juga memainkan peran penting.
Mengintegrasikan Puasa dalam Gaya Hidup Sehat
Bagaimana kita menerapkan puasa secara bijak?
- Bukan berarti puasa ekstrem tanpa panduan medis. Puasa yang dilakukan tanpa perencanaan atau pada orang dengan kondisi tertentu bisa berdampak buruk. Bahkan satu studi menemukan bahwa puasa air sulit tapi penuh bisa memicu peradangan bagi beberapa individu. (Kompas Health)
- Perlu konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menjalani puasa panjang, terutama pada penderita penyakit kronis atau yang sedang dalam pengobatan.
- Puasa efektif bila dipadukan dengan nutrisi seimbang saat buka dan sahur, cukup protein, sayur, buah, dan hidrasi yang baik.
Terakhir, puasa bisa menjadi bagian dari strategi besar gaya hidup sehat yang mengurangi risiko kanker, namun ia bukan satu-satunya penangkal mutlak.
Penutup: Antara Ibadah dan Sains
Ilmu pengetahuan modern semakin menunjukkan bahwa praktik kuno seperti puasa memiliki basis biologis yang kuat dalam menjaga kesehatan.
Dari peningkatan autofagi hingga penurunan faktor risiko metabolik, puasa dapat ditempatkan bukan hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga strategi kesehatan preventif.
Namun demikian, setiap orang harus mempertimbangkan kondisi tubuhnya sendiri, berkonsultasi dengan profesional medis, dan memadukan puasa dengan gaya hidup sehat secara menyeluruh.
Puasa bukan sekadar menahan lapar — ia adalah diskusi antara sains dan perilaku hidup. Dan di sanalah letak manfaat sejatinya.
Referensi
- Manfaat Dan Potensi Puasa Dalam Mencegah Risiko Penyakit Tidak Menular, Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia.
- Fasting but not casual blood glucose is associated with pancreatic cancer mortality in Japanese: EPOCH-JAPAN.
- Ini Hasil Penelitian Dr Yoshinori Ohsumi tentang manfaat puasa menajemen autofagi.
- Manfaat Puasa untuk Tangkal dari Kanker.
Baca lainya : 5 Tren Olahraga yang Bikin FOMO
Penulis : Nasywa





