Home / Teknologi / Taiwan Siaga Digital, Persiapkan Walkie-Talkie

Taiwan Siaga Digital, Persiapkan Walkie-Talkie

international.sigapnews.co.id

Kita hidup di era digital yang serba cepat. Namun Taiwan memilih bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: internet dan sinyal seluler lumpuh total.

Di tengah meningkatnya ancaman invasi dari China, warga sipil Taiwan berlatih menggunakan walkie-talkie. Mereka tidak menunggu jaringan mati untuk belajar berkomunikasi.

Langkah ini bukan simbol kepanikan. Ini adalah strategi antisipatif.

Latar Belakang: Ketegangan yang Kian Nyata

Hubungan Taiwan–China kembali memanas sejak awal 2026. Aktivitas militer di Selat Taiwan meningkat, sementara ancaman serangan siber dan blokade menjadi kekhawatiran utama.

Pemerintahan Presiden Lai Ching-te mendorong penguatan pertahanan sipil tanpa menciptakan kepanikan publik. Program latihan komunikasi alternatif pun digencarkan.

Latihan tersebut berlangsung 16–17 Februari 2026 dan difasilitasi kelompok pertahanan sipil lokal di Taipei. Mereka mengajarkan warga menggunakan walkie-talkie berbasis frekuensi VHF/UHF.

Frekuensi ini relatif sulit diblokir secara total. Oleh karena itu, koordinasi tetap bisa berjalan meskipun internet diputus.

Analisis: Strategi Sunyi yang Rasional

Banyak orang mungkin meremehkan walkie-talkie. Namun dalam skenario darurat, alat sederhana sering lebih andal daripada sistem kompleks.

Internet bergantung pada kabel bawah laut, server, dan infrastruktur global. Jika satu titik diserang, efeknya bisa meluas.

Sebaliknya, komunikasi radio lokal bekerja langsung antarperangkat. Tidak ada pusat yang mudah dilumpuhkan.

Taiwan memahami realitas ini. Mereka rutin menggelar simulasi seperti Wan An Exercise dan Han Kuang Exercise untuk melatih evakuasi dan koordinasi krisis.

Kini fokus diperluas pada komunikasi sipil. Peserta latihan bahkan mempraktikkan kode sederhana guna menghindari penyadapan.

Strategi ini menunjukkan satu hal penting: ketahanan nasional tidak hanya soal militer, tetapi juga kesiapan warga.

Gerakan Komunitas, Bukan Militerisasi

Menariknya, pelatihan ini digerakkan kelompok relawan, bukan tentara reguler. Mereka bekerja sama dengan pemerintah kota dan Kementerian Dalam Negeri Taiwan.

Inisiatif ini bersifat desentralisasi. Tidak ada satu lembaga pusat yang mendominasi.

Model ini memperkuat rasa tanggung jawab kolektif. Warga tidak menjadi objek perlindungan semata, melainkan subjek pertahanan sipil.

Selain itu, jadwal latihan tidak selalu dipublikasikan. Pendekatan ini mencegah pihak luar memprediksi pola kesiapsiagaan.

Langkah tersebut terukur dan realistis.

Pelajaran untuk Dunia Digital

Banyak negara terlalu percaya diri pada infrastruktur digital. Padahal serangan siber kini menjadi bagian dari strategi geopolitik modern.

Taiwan memberi pelajaran penting: sistem cadangan harus disiapkan sebelum krisis datang.

Walkie-talkie memang sederhana. Namun kesederhanaan itulah yang membuatnya tangguh.

Kita sering berbicara tentang transformasi digital. Namun jarang membahas transformasi ketahanan.

Taiwan tidak menolak teknologi modern. Mereka justru melengkapinya dengan sistem analog yang efektif.

Refleksi: Ketahanan Dimulai dari Warga

Ketahanan nasional tidak selalu ditentukan oleh senjata canggih. Kadang ia dimulai dari warga yang tahu cara berkomunikasi saat jaringan mati.

Taiwan menunjukkan bahwa kesiapan sipil adalah fondasi stabilitas negara. Mereka tidak menunggu serangan terjadi.

Di era serba online, keberanian untuk kembali ke teknologi dasar justru menjadi langkah maju.

Ketika koneksi global terputus, yang tersisa adalah solidaritas lokal.

Dan Taiwan sedang membangunnya, frekuensi demi frekuensi.

Referensi : Hadapi Serangan China, Warga Sipil Taiwan Berlatih Menggunakan Walkie Talkie

Baca lainya : 9 Rekomendasi Serial Detektif Jepang Terbaik

Penulis : Nasywa

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *