Rayantara.com – Tangerang Selatan, 17 Juli 2026 – Di tengah perkembangan zaman, berbagai tradisi Jawa masih terus dijaga sebagai bagian dari warisan budaya. Salah satunya adalah selapanan, yaitu tradisi yang dilaksanakan ketika bayi berusia 35 hari atau satu siklus pasaran Jawa (selapan). Bagi sebagian masyarakat Jawa, momen ini menjadi bentuk rasa syukur atas kelahiran bayi sekaligus doa agar tumbuh sehat, selamat, dan membawa kebaikan bagi keluarga.
Meskipun pelaksanaannya berbeda-beda di setiap daerah, makna utama selapanan tetap berpusat pada ungkapan syukur dan harapan baik untuk masa depan anak.
Makna di Balik Tradisi Selapanan
Selapanan bukan sekadar acara keluarga. Tradisi ini menjadi simbol dimulainya perjalanan hidup bayi di tengah lingkungan sosial. Doa-doa dipanjatkan agar anak memperoleh kesehatan, keberkahan, serta tumbuh menjadi pribadi yang berbudi luhur.
Dalam beberapa keluarga, selapanan juga menjadi momen untuk memperkenalkan bayi kepada kerabat dan tetangga. Kehadiran keluarga besar memperkuat nilai kebersamaan yang telah lama menjadi ciri khas masyarakat Jawa.
Prosesi yang Beragam
Setiap daerah maupun keluarga memiliki tata cara yang berbeda dalam melaksanakan selapanan. Ada yang mengadakan doa bersama, kenduri sederhana, atau membagikan makanan kepada tetangga sebagai bentuk rasa syukur.
Sebagian keluarga juga melaksanakan prosesi cukur rambut bayi dan pemotongan kuku sebagai simbol kebersihan dan awal kehidupan. Namun, tidak semua keluarga menjalankan prosesi yang sama karena pelaksanaan selapanan umumnya disesuaikan dengan adat dan keyakinan masing-masing.
Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
Perubahan gaya hidup membuat pelaksanaan selapanan menjadi lebih sederhana dibandingkan dahulu. Namun, esensi tradisi ini tetap terjaga, yaitu mempererat silaturahmi, berbagi kebahagiaan, dan memanjatkan doa.
Tradisi yang diwariskan turun-temurun seperti selapanan menunjukkan bahwa budaya dapat terus hidup tanpa harus menolak perkembangan zaman. Justru dengan menyesuaikan pelaksanaannya, nilai-nilai luhur di dalamnya dapat terus dikenal oleh generasi muda.
Kesimpulan
Selapanan merupakan salah satu tradisi Jawa yang mengandung makna mendalam tentang rasa syukur, doa, dan kebersamaan. Lebih dari sekadar acara seremonial, tradisi ini menjadi pengingat bahwa setiap kelahiran adalah anugerah yang patut dirayakan dengan penuh harapan dan kasih sayang. Melestarikan selapanan berarti ikut menjaga salah satu kekayaan budaya Indonesia yang masih relevan hingga saat ini.
Baca juga: Kucing dan Kemandulan: Mitos yang Terlalu Lama Dipercaya?
Penulis: Fitri Nur
Sumber gambar: Orami.com





