Istilah “puber kedua” cukup sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya digunakan ketika seseorang yang sudah dewasa tiba-tiba mengalami perubahan, seperti lebih memperhatikan penampilan, ingin mencoba hal baru, kembali melakukan hobi, atau terlihat lebih bersemangat.
Perubahan seperti ini sering dianggap sebagai bahan bercanda. Padahal, perubahan di usia dewasa bisa memiliki banyak alasan.
Bukan Pubertas untuk Kedua Kalinya
Secara medis, “puber kedua” bukan istilah resmi. Istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan perubahan fisik, emosional, atau perilaku pada usia dewasa dan paruh baya.
Istilah tersebut sering dikaitkan dengan midlife crisis. Namun, tidak semua orang yang memasuki usia paruh baya akan mengalami krisis.
Pendapat American Psychological Association (APA):
Midlife crisis tidak dapat dianggap sebagai pengalaman psikologis yang pasti dialami setiap orang pada masa paruh baya.
Karena itu, perubahan pada usia dewasa tidak selalu berarti seseorang sedang mengalami masalah.
Ketika Mulai Ingin Menikmati Hidup Lagi
Setelah bertahun-tahun sibuk dengan pekerjaan, keluarga, pasangan, dan berbagai tanggung jawab, seseorang bisa mulai ingin memberikan perhatian lebih kepada dirinya sendiri.
Keinginan untuk memperbaiki penampilan, mencoba hobi baru, bepergian, berolahraga, atau menikmati waktu sendiri bukan sesuatu yang selalu buruk. Bisa jadi, ada bagian diri yang selama ini terabaikan karena kesibukan.
Pandangan psikolog Margie Lachman, PhD:
Masa paruh baya tidak selalu harus dipandang sebagai masa krisis. Bagi banyak orang, fase ini justru dapat menjadi masa pertumbuhan dan kesempatan untuk merasa lebih nyaman dengan diri sendiri.
Mulai Memikirkan Apa yang Benar-Benar Diinginkan
Di usia tertentu, pertanyaan tentang kehidupan juga mulai muncul. Apakah pekerjaan masih menyenangkan? Apakah hubungan masih nyaman? Apakah ada keinginan yang belum sempat diwujudkan?
Dalam teori perkembangan psikososial Erik Erikson, masa dewasa dikaitkan dengan fase generativity versus stagnation, ketika seseorang mulai mencari kehidupan yang lebih bermakna.
Konsep Erik Erikson tentang “generativity”:
Masa dewasa bukan hanya tentang menjalani kehidupan untuk diri sendiri, tetapi juga menghasilkan sesuatu yang berarti dan bermanfaat bagi orang lain.
Artinya, bertambahnya usia bukan berarti seseorang berhenti berkembang.
Dalam Hubungan, Perubahan Perlu Dipahami
Puber kedua juga sering dikaitkan dengan hubungan. Seseorang bisa menjadi lebih membutuhkan perhatian, mudah bosan, atau ingin merasakan kembali suasana romantis.
Namun, perubahan perasaan tidak selalu berarti hubungan harus berakhir. Terkadang yang dibutuhkan bukan orang baru, melainkan suasana baru, komunikasi yang lebih baik, atau waktu bersama yang lebih berkualitas.
Perubahan boleh terjadi, tetapi keputusan besar tetap perlu dipikirkan dengan matang.
Puber Kedua Tidak Selalu Berarti Krisis
Istilah “puber kedua” tidak seharusnya selalu digunakan untuk mengejek seseorang yang sedang berubah.
Ada yang berubah karena ingin menikmati hidup setelah lama sibuk. Ada pula yang sedang menemukan kembali hal-hal yang selama ini hilang dari kehidupannya.
Pada akhirnya, “puber kedua” mungkin bukan tentang ingin kembali menjadi muda. Bisa jadi, seseorang hanya sedang belajar menikmati hidup dengan cara yang berbeda.
Usia boleh bertambah dan tanggung jawab semakin banyak, tetapi keinginan untuk bahagia tidak harus ikut berhenti. Selama perubahan dilakukan dengan bijak dan tidak merugikan orang lain, tidak ada yang salah dengan keinginan untuk tumbuh, berubah, dan mengenal diri kembali.
Baca juga: Relationship Sehat Bukan yang Tanpa Masalah, tetapi Tahu Cara Menyelesaikannya
Penulis: Fitri Nur
Sumber gambar:






