Lonjakan penggunaan Artificial Intelligence (AI), cloud computing, hingga layanan digital membuat kebutuhan data center di Indonesia terus meningkat. Di sisi lain, konsumsi listrik yang besar menjadi tantangan baru bagi industri tersebut. Menjawab kebutuhan itu, Pertamina Geothermal Energy (PGE) berencana membangun green data center pertama di Indonesia yang memanfaatkan energi panas bumi sebagai sumber listrik utama.
Langkah ini menunjukkan bahwa energi terbarukan tidak hanya berperan sebagai pembangkit listrik, tetapi juga menjadi fondasi bagi infrastruktur digital masa depan.
Kebutuhan Data Center Terus Melonjak
Transformasi digital di berbagai sektor membuat permintaan layanan data center tumbuh semakin cepat. Perkembangan AI, cloud, fintech, e-commerce, telekomunikasi, hingga layanan pemerintahan mendorong kebutuhan kapasitas komputasi yang semakin besar.
Melihat peluang tersebut, PGE menggandeng Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia untuk menyusun roadmap pengembangan green data center berbasis energi panas bumi. Roadmap ini akan menjadi dasar teknis sekaligus komersial sebelum proyek memasuki tahap implementasi.
Tidak Sekadar Menjual Listrik
PGE ingin mengambil peran lebih besar dalam ekosistem digital Indonesia. Perusahaan tidak hanya berencana memasok listrik dari pembangkit panas bumi, tetapi juga menyediakan layanan yang mendukung operasional data center.
Layanan tersebut mencakup:
- Pengolahan dan penyimpanan data
- Infrastruktur komputasi
- Hosting
- Operasional server
- Operasional jaringan
- Sistem pendukung data center
Dengan pendekatan tersebut, seluruh operasional data center nantinya akan memperoleh pasokan listrik langsung dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), sehingga menciptakan sistem yang lebih terintegrasi dan ramah lingkungan.
Kamojang Dipilih Sebagai Lokasi Awal
PGE merencanakan pembangunan green data center di kawasan Kamojang dengan luas sekitar 5.133 meter persegi.
Fasilitas ini akan didukung PLTP berkapasitas 5 MW yang memasok listrik secara khusus untuk operasional data center.
Keunggulan lainnya, lokasi tersebut telah dilalui dua penyedia jaringan telekomunikasi, yaitu Telkom dan PLN Icon Plus, sehingga mampu mendukung konektivitas multi-provider yang menjadi kebutuhan utama pusat data modern.
Hasil studi kelayakan independen juga menyatakan proyek ini layak dari sisi pasar, teknis, operasional, maupun finansial.
Mengapa Proyek Ini Layak Diperhatikan?
Pasar data center Indonesia diproyeksikan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Beberapa indikator yang menjadi perhatian antara lain:
- Segmen Tier III menguasai lebih dari 61,59% pasar data center Indonesia pada 2025.
- Kapasitas retail colocation diproyeksikan meningkat dari 388,11 MW menjadi 1.623,91 MW hingga 2031.
- Wholesale colocation diperkirakan mencapai 1.275,93 MW.
- Pertumbuhan didorong oleh perkembangan AI, cloud computing, ekonomi digital, fintech, e-commerce, telekomunikasi, dan digitalisasi sektor pemerintahan.
Data tersebut menunjukkan bahwa pembangunan data center bukan lagi sekadar menambah kapasitas server, tetapi juga memastikan tersedianya pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan.
Opini: Peluang Besar, Tetapi Tantangan Masih Ada
Rencana PGE membangun green data center menjadi langkah yang relevan di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi akibat perkembangan AI dan transformasi digital. Jika berhasil direalisasikan, proyek ini dapat menjadi contoh bagaimana sektor energi dan teknologi saling mendukung dalam menciptakan infrastruktur digital yang lebih berkelanjutan.
Namun, keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada ketersediaan energi panas bumi. PGE juga perlu memastikan kesiapan infrastruktur telekomunikasi, keamanan data, keandalan operasional, serta daya saing layanan agar mampu bersaing dengan penyedia data center yang telah lebih dulu beroperasi.
Apabila seluruh aspek tersebut dapat dipenuhi, Indonesia berpeluang memiliki pusat data yang tidak hanya berkapasitas besar, tetapi juga lebih efisien dan rendah emisi.
Penulis :Naswa
Baca lainya Kerja di Australia, Benarkah Gajinya Besar?






