Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di pinggiran Kota Samarinda. Berdasarkan data Polresta Samarinda dan BPBD, hingga awal Agustus 2026 telah terjadi puluhan kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar hampir 14 hektare. Sebagian besar dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan, sementara satu titik masih diduga berasal dari unsur kesengajaan.
Peristiwa ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai persoalan hukum atau kelalaian masyarakat. Karhutla merupakan sinyal bahwa ekosistem Kalimantan terus menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia. Setiap hektare lahan yang terbakar membawa dampak jauh lebih besar daripada sekadar hamparan tanah yang menghitam.
Karhutla Bukan Sekadar Api, tetapi Hilangnya Kehidupan
Banyak orang melihat kebakaran hutan hanya sebagai kobaran api yang menghasilkan asap. Padahal, di baliknya terdapat kehidupan yang ikut musnah.
Pepohonan yang terbakar bukan hanya kumpulan batang kayu, melainkan rumah bagi burung, mamalia kecil, reptil, hingga berbagai jenis serangga yang berperan menjaga keseimbangan alam. Ketika api melahap kawasan tersebut, rantai makanan ikut terganggu dan habitat satwa menghilang dalam waktu singkat.
Di Kalimantan, hutan juga menjadi habitat berbagai spesies endemik, termasuk orangutan, bekantan, burung enggang, serta beragam flora yang tidak ditemukan di wilayah lain.
Ekosistem Tidak Pulih dalam Hitungan Hari
Sering kali masyarakat menganggap persoalan selesai ketika api berhasil dipadamkan. Kenyataannya, pemulihan ekosistem membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Lapisan tanah kehilangan unsur hara akibat panas yang tinggi. Vegetasi alami memerlukan waktu panjang untuk tumbuh kembali, sementara satwa yang kehilangan habitat belum tentu dapat kembali ke lokasi semula.
Bahkan, beberapa spesies memilih bermigrasi ke kawasan permukiman sehingga meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar.
Kebakaran Kecil Bisa Memicu Dampak Besar
Karhutla di Samarinda memang tidak sebesar kebakaran yang pernah terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan maupun Sumatra. Namun, menganggap kebakaran berskala kecil sebagai hal biasa justru menjadi kesalahan terbesar.
Kebakaran yang terjadi berulang setiap musim kemarau akan terus menggerus luas tutupan hijau di sekitar kota. Akibatnya, kemampuan alam menyerap karbon semakin menurun, suhu udara meningkat, dan risiko banjir pada musim hujan ikut bertambah karena berkurangnya vegetasi yang berfungsi menyerap air.
Artinya, dampak karhutla tidak berhenti pada musim kemarau, tetapi dapat dirasakan sepanjang tahun.
Faktor Manusia Masih Menjadi Penyebab Utama
Data dari aparat menunjukkan sebagian besar titik kebakaran berasal dari pembakaran sampah dan pembersihan lahan yang tidak diawasi.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan terbesar bukan semata-mata cuaca kering atau fenomena El Niño, melainkan perilaku manusia yang masih menganggap api sebagai cara paling mudah membersihkan lahan.
Jika dugaan unsur kesengajaan benar adanya, maka persoalan ini menjadi jauh lebih serius. Membakar lahan bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga merampas hak generasi mendatang untuk menikmati lingkungan yang sehat.
Kalimantan Memiliki Peran Penting bagi Indonesia
Kalimantan dikenal sebagai salah satu paru-paru Indonesia. Kawasan hutannya menyimpan cadangan karbon yang besar dan menjadi penyangga keseimbangan iklim nasional.
Di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengusung konsep kota berkelanjutan, menjaga kawasan hutan di Kalimantan seharusnya menjadi prioritas bersama.
Pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus berjalan beriringan agar pertumbuhan tidak mengorbankan alam yang menjadi fondasinya.
Opini: Menjaga Hutan Berarti Menjaga Masa Depan
Karhutla di Samarinda seharusnya menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan sering kali bermula dari kebiasaan yang dianggap sepele. Membakar sampah, membuka lahan dengan api, atau mengabaikan titik api kecil dapat berkembang menjadi bencana ekologis yang sulit dipulihkan.
Selama masyarakat masih melihat hutan sebagai lahan kosong yang bisa dibakar kapan saja, ancaman karhutla akan terus berulang setiap musim kemarau.
Sudah saatnya cara pandang tersebut berubah. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sistem kehidupan yang menyediakan udara bersih, menjaga siklus air, menyimpan keanekaragaman hayati, dan menjadi benteng alami menghadapi perubahan iklim.
Karhutla bukan hanya tentang api yang membakar lahan hari ini. Karhutla adalah tentang masa depan ekosistem Kalimantan yang perlahan memudar jika perlindungan terhadap alam terus diabaikan.
Penulis : Naswa
Baca lainya Laporan BIS soal AI Boom: Waspada Bubble, Bukan Ramalan Global Crash





