Autoimun bukan penyakit yang hanya dialami perempuan. Namun, data penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang cukup jelas antara perempuan dan laki-laki. National Institutes of Health (NIH) menyebut sekitar empat dari lima orang yang didiagnosis penyakit autoimun adalah perempuan.
Temuan penelitian yang diterbitkan pada 2025 juga menunjukkan bahwa dari lebih dari 581 ribu pasien yang teridentifikasi memiliki salah satu dari 105 penyakit autoimun dalam enam sistem kesehatan di Amerika Serikat, 63 persen adalah perempuan dan 37 persen laki-laki. Peneliti memperkirakan prevalensi pada perempuan sekitar 5,8 persen, dibandingkan 3,5 persen pada laki-laki.
Ketika Sistem Pertahanan Tubuh Salah Mengenali
Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang sel atau jaringan tubuh sendiri. Jenisnya sangat beragam, mulai dari lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, hingga penyakit tiroid autoimun.
Mengapa perempuan lebih banyak terdampak? Jawabannya ternyata tidak sesederhana faktor hormon.
NIH menjelaskan bahwa perempuan cenderung memiliki respons imun yang lebih kuat. Faktor hormon, genetik, kromosom X, serta lingkungan juga diduga berkontribusi. Namun, mekanisme pastinya masih terus diteliti.
Gejala yang Tidak Selalu Terlihat
Persoalan autoimun tidak berhenti pada diagnosis. Banyak keluhan dapat terasa tetapi tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang mungkin tampak sehat, tetapi mengalami kelelahan, nyeri, atau gangguan lain yang membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih berat.
Karena itu, keluhan yang berulang sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kurang tidur atau sekadar kelelahan. Di sisi lain, tidak setiap rasa lelah atau nyeri berarti autoimun. Diagnosis tetap membutuhkan pemeriksaan dan penilaian tenaga medis.
Perempuan Tidak Harus Selalu Terlihat Kuat
Bisakah Autoimun Dicegah?
Tidak ada cara yang dapat menjamin seseorang terbebas dari penyakit autoimun. Faktor genetik dan berbagai faktor lingkungan dapat berinteraksi dalam perkembangan penyakit tersebut.
Meski begitu, menjaga kesehatan tetap penting untuk membantu menurunkan berbagai risiko penyakit. Pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, mengelola stres, dan tidak merokok merupakan kebiasaan yang mendukung kesehatan secara umum.
Menghindari paparan tertentu juga perlu diperhatikan. NIEHS, misalnya, mencatat adanya hubungan antara beberapa paparan lingkungan seperti asap rokok dan paparan silika dengan risiko penyakit autoimun tertentu.
Perempuan Tidak Harus Selalu Terlihat Kuat
Tingginya angka autoimun pada perempuan seharusnya mendorong perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan perempuan, bukan membuat setiap keluhan langsung diberi label sebagai penyakit.
Tubuh memiliki cara sendiri untuk memberikan sinyal. Mendengarkan perubahan yang terus muncul, mencatat keluhan, dan berkonsultasi dengan dokter ketika diperlukan jauh lebih penting daripada melakukan diagnosis sendiri berdasarkan informasi di media sosial.
Pada akhirnya, autoimun mengingatkan bahwa seseorang tidak harus terlihat sakit untuk benar-benar sedang berjuang dengan kondisi kesehatan tertentu. Memahami hal ini bukan hanya soal pengetahuan medis, tetapi juga tentang membangun lingkungan yang lebih empatik terhadap penyakit yang tidak selalu terlihat.
Baca juga: Makanan Cepat Saji dan Tantangan Pola Makan Modern
Penulis: Fitri Nur
Sumber gambar: Magnific.com





