Di tengah budaya yang sering mengukur keberhasilan dari seberapa banyak pekerjaan yang selesai, menjadi produktif seolah menjadi kewajiban. Semakin banyak yang dikerjakan, semakin tinggi pula pencapaian yang dianggap berhasil.
Namun, percakapan bersama Sastia Prama Putri yang digali oleh Coach Agnes dan Yash menunjukkan sisi lain dari ambisi dan produktivitas. Perjalanan seorang perempuan dengan berbagai pencapaian tersebut justru memperlihatkan bahwa terus bergerak tanpa memberi ruang untuk diri sendiri bisa membuat seseorang kehilangan hal-hal yang sebenarnya paling penting.
Ketika Produktif Menjadi Kebiasaan
Sastia dikenal sebagai sosok dengan perjalanan akademik dan profesional yang penuh pencapaian. Dalam perbincangan tersebut, ia menceritakan bagaimana dirinya terbiasa mengejar tantangan baru dan merasa tidak nyaman ketika tidak sedang melakukan sesuatu.
Dorongan untuk terus maju pada awalnya terlihat seperti kekuatan. Namun, ketika kesibukan menjadi ukuran utama keberhasilan, seseorang bisa mulai menganggap waktu istirahat sebagai sesuatu yang tidak produktif.
Istirahat Sering Dianggap Sebagai Waktu yang Terbuang
Sastia mengungkapkan bahwa dulu ia memandang istirahat sebagai pemborosan waktu. Menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga atau teman pun sempat dianggap dapat mengurangi produktivitas.
Cara pandang seperti ini terasa dekat dengan kehidupan banyak pekerja saat ini. Ketika pekerjaan dapat dilakukan hampir kapan saja, batas antara waktu bekerja dan waktu menjalani kehidupan pribadi semakin mudah hilang.
Padahal, manusia tidak bekerja seperti mesin yang harus terus aktif selama 24 jam. Sastia kemudian menyadari bahwa tubuh, pikiran, dan kehidupan personal juga membutuhkan ruang untuk dipenuhi.
Pencapaian Tidak Selalu Membuat Seseorang Merasa Penuh
Menariknya, refleksi Sastia tidak berhenti pada persoalan kelelahan. Ia juga mempertanyakan alasan di balik ambisi yang selama ini dijalankan.
Dalam percakapan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih dalam: ketika seseorang mengatakan bekerja keras demi keluarga atau masa depan, apakah benar itu satu-satunya alasan, atau ada kebutuhan lain seperti ego dan validasi eksternal yang ikut mendorongnya?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena produktivitas dapat berubah menjadi perlombaan yang tidak memiliki garis akhir. Selalu ada pencapaian berikutnya, target berikutnya, penghargaan berikutnya, dan standar baru yang harus dikejar.
Burnout Bisa Menjadi Titik Balik
Sastia juga menceritakan bahwa dirinya mengalami burnout ketika masih berada di usia 30-an. Alih-alih melihat pengalaman tersebut semata sebagai kegagalan, ia justru menganggapnya sebagai kesempatan untuk berhenti dan melihat kembali kehidupan yang selama ini dijalani.
Pengalaman itu membuatnya kembali memperhatikan hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa. Kesehatan, keluarga, teman, dan waktu untuk diri sendiri ternyata bukan bagian tambahan dari kehidupan yang bisa disisihkan ketika pekerjaan sudah selesai.
Justru setelah kembali memberi ruang kepada berbagai aspek tersebut, Sastia merasa produktivitasnya meningkat. Ia menggambarkan bahwa dengan waktu yang sama, dampak dari pekerjaannya justru terasa jauh lebih besar.
Yang Dicari Bukan Sekadar Produktivitas
Ada perubahan cara pandang yang cukup besar dalam cerita Sastia. Jika sebelumnya pencapaian menjadi salah satu pusat kehidupan, pengalaman burnout membuatnya melihat kembali apa yang sebenarnya ingin dicapai.
Kesehatan menjadi salah satu hal yang ia tempatkan paling utama. Ia menggambarkan bahwa ketika kesehatan hilang, berbagai pencapaian lain tiba-tiba kehilangan nilainya.
Di titik ini, pertanyaan “haruskah kita selalu produktif?” tidak lagi sekadar berkaitan dengan pekerjaan. Pertanyaan tersebut berubah menjadi refleksi tentang apakah kehidupan yang dijalani masih sejalan dengan alasan seseorang bekerja keras sejak awal.
Produktif Bukan Berarti Harus Selalu Sibuk
Kisah Sastia menunjukkan bahwa produktivitas tidak selalu bisa diukur dari seberapa penuh kalender seseorang. Ada masa ketika berhenti justru dibutuhkan agar seseorang dapat kembali bergerak dengan lebih sehat dan memiliki arah yang lebih jelas.
Bagi pekerja kreatif, hal ini menjadi semakin relevan. Ide tidak hanya lahir ketika seseorang duduk di depan laptop atau terus menghasilkan karya, tetapi juga dari pengalaman hidup, hubungan dengan orang lain, percakapan, pengamatan, bahkan waktu ketika seseorang tidak sedang menghasilkan apa pun.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “Seberapa produktif kita hari ini?”, melainkan “Untuk apa kita terus produktif?”
Jangan Sampai Berhasil, Tapi Kehilangan Diri Sendiri
Percakapan Coach Agnes dan Yash bersama Sastia Prama Putri pada akhirnya memperlihatkan bahwa ambisi bukan sesuatu yang harus dimatikan. Yang perlu diperiksa adalah ketika ambisi mulai membuat kesehatan, hubungan, dan kehidupan pribadi dianggap sebagai sesuatu yang boleh dikorbankan.
Sastia sendiri menyebut pengalaman tersebut sebagai kesempatan kedua untuk kembali kepada hal-hal sederhana yang sebelumnya ia tinggalkan. Dari sana, ia justru menemukan bahwa kehidupan yang lebih seimbang tidak membuatnya kehilangan produktivitas, tetapi membuat pekerjaannya memiliki dampak yang lebih besar.
Mungkin kita memang tidak harus berhenti mengejar pencapaian. Namun, sesekali kita perlu berhenti dan bertanya apakah semua yang sedang dikejar benar-benar masih memiliki arti.
Penulis : Naswa
Baca lainya Mengapa Menjadi “Cukup” Semakin Mahal?





