Beranda / Sosial / Guru tanpa Komputer yang Mengajarkan Teknologi dengan Kapur

Guru tanpa Komputer yang Mengajarkan Teknologi dengan Kapur

daaitv.co.id

Di era ketika pendidikan semakin identik dengan teknologi canggih, kisah seorang guru di Ghana justru mengingatkan dunia bahwa inti pendidikan sebenarnya bukan terletak pada perangkat mahal, melainkan pada semangat mengajar.

Richard Appiah Akoto, seorang guru berusia 33 tahun dari Ghana, menjadi perhatian dunia setelah fotonya viral di media sosial. Dalam foto tersebut, ia terlihat menggambar tampilan Microsoft Word secara detail menggunakan kapur di papan tulis hitam. Bukan karena ingin tampil kreatif semata, tetapi karena sekolah tempat ia mengajar tidak memiliki komputer yang dapat digunakan murid-muridnya.

Ironis sekaligus menyentuh, di saat banyak sekolah di dunia berbicara tentang kecerdasan buatan dan transformasi digital, masih ada ruang kelas yang bahkan belum memiliki satu perangkat komputer layak pakai. Namun dari keterbatasan itulah muncul pelajaran besar tentang arti dedikasi seorang guru.

Pendidikan Tidak Selalu Ditentukan oleh Fasilitas

Kisah Richard memperlihatkan realitas yang masih terjadi di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia: ketimpangan akses pendidikan teknologi. Digitalisasi pendidikan sering dipromosikan sebagai solusi masa depan, tetapi tidak semua sekolah memiliki kesiapan infrastruktur yang sama.

Di beberapa daerah, komputer masih menjadi barang langka, akses internet terbatas, bahkan listrik belum stabil. Dalam kondisi seperti itu, guru sering dipaksa mencari cara sendiri agar murid tetap dapat belajar.

Richard memilih menggambar monitor, keyboard, toolbar, hingga tampilan Microsoft Word menggunakan kapur berwarna di papan tulis. Apa yang bagi sebagian orang terlihat sederhana, sebenarnya adalah bentuk kreativitas luar biasa dalam menghadapi keterbatasan.

Ia tidak menyerah hanya karena fasilitas tidak tersedia. Justru ia berusaha memastikan murid-muridnya tetap mengenal keterampilan digital agar tidak tertinggal dari dunia modern.

Kisah ini memperlihatkan bahwa teknologi memang penting, tetapi semangat seorang guru tetap menjadi faktor paling menentukan dalam pendidikan.

Dunia Modern Kadang Terlalu Fokus pada Teknologi, tetapi Lupa pada Guru

Ketika kisah Richard viral, dunia memujinya sebagai simbol inovasi pendidikan. Microsoft bahkan mengundangnya menjadi tamu dalam acara Education Exchange di Singapura dan menjanjikan bantuan fasilitas komputer untuk sekolahnya.

Namun di balik apresiasi tersebut, ada ironi yang perlu direnungkan. Dunia sering begitu sibuk membicarakan teknologi pendidikan, tetapi lupa bahwa keberhasilan pendidikan tetap bergantung pada manusia yang mengajarkannya.

Sekolah bisa memiliki laboratorium komputer modern, internet cepat, dan perangkat terbaru. Namun tanpa guru yang berdedikasi, teknologi hanya menjadi alat tanpa makna.

Sebaliknya, Richard membuktikan bahwa bahkan dengan papan tulis sederhana, seorang guru tetap dapat menanamkan semangat belajar kepada murid-muridnya.

Hal ini menjadi kritik halus terhadap cara dunia memandang pendidikan hari ini. Banyak kebijakan terlalu fokus pada pengadaan alat, tetapi kurang memperhatikan kesejahteraan, pelatihan, dan dukungan terhadap guru.

Padahal, teknologi tidak pernah benar-benar bisa menggantikan peran pendidik.

Kreativitas Guru Sering Lahir dari Keterbatasan

Salah satu hal paling menarik dari kisah ini adalah bagaimana keterbatasan justru memunculkan kreativitas. Richard tidak menunggu fasilitas datang terlebih dahulu untuk mulai mengajar. Ia menggunakan apa yang tersedia dan mengubahnya menjadi metode pembelajaran yang efektif.

Fenomena seperti ini sebenarnya juga banyak ditemukan di negara berkembang. Tidak sedikit guru yang harus membuat alat peraga sendiri, menggunakan barang bekas sebagai media belajar, atau mencari cara kreatif agar murid tetap memahami pelajaran.

Sayangnya, kreativitas semacam ini sering dianggap biasa karena lahir dari keterpaksaan. Padahal, kemampuan beradaptasi dalam kondisi terbatas adalah bentuk kompetensi luar biasa yang jarang mendapat penghargaan setimpal.

Kisah Richard akhirnya viral bukan hanya karena unik, tetapi karena dunia melihat ketulusan yang jarang terlihat di tengah pendidikan modern yang semakin berorientasi pada sistem dan angka.

Ketimpangan Digital Masih Menjadi Tantangan Global

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa kesenjangan digital masih menjadi persoalan besar dunia. Ketika sebagian negara sudah berbicara tentang pembelajaran berbasis AI, masih ada jutaan pelajar yang bahkan belum pernah menggunakan komputer secara langsung.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa transformasi digital pendidikan tidak bisa hanya diukur dari perkembangan teknologi global, tetapi juga dari pemerataan akses.

Jika ketimpangan ini terus dibiarkan, maka dunia pendidikan justru akan menciptakan jurang baru antara mereka yang memiliki akses teknologi dan mereka yang tertinggal karena keterbatasan fasilitas.

Karena itu, investasi pendidikan seharusnya tidak hanya fokus pada kota besar atau sekolah unggulan, tetapi juga menyentuh daerah yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Guru Tetap Menjadi Jantung Pendidikan

Pada akhirnya, kisah Richard Appiah Akoto mengingatkan dunia bahwa inti pendidikan bukan sekadar perangkat digital atau teknologi modern, melainkan manusia yang memiliki kemauan untuk mengajar.

Teknologi memang dapat membantu proses belajar menjadi lebih cepat dan efisien. Namun tanpa guru yang peduli terhadap murid-muridnya, pendidikan kehilangan makna utamanya.

Richard mengajarkan satu hal sederhana tetapi penting: keterbatasan fasilitas seharusnya tidak mematikan semangat belajar. Justru dalam kondisi sulit, peran guru menjadi semakin berharga.

Di tengah dunia yang semakin digital, mungkin kita perlu kembali mengingat bahwa masa depan pendidikan tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh ketulusan para pendidik yang tetap mengajar bahkan ketika mereka hampir tidak memiliki apa pun.

Sumber microsoft

Berita lainya Kendaraan Listrik Makin Dilirik, Ini Alasannya

Penulis : Nasywa

Tag: