Erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara pada Jumat, 8 Mei 2026, bukan hanya menjadi kabar bencana alam biasa. Peristiwa ini juga memperlihatkan sisi lain yang semakin mengkhawatirkan di era media sosial: ketika pencarian konten viral mulai mengalahkan kesadaran akan keselamatan.
Sebanyak 17 pendaki berhasil dievakuasi setelah letusan besar terjadi. Namun, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan proses evakuasi sempat terhambat karena gunung terus mengalami erupsi. Di tengah situasi berbahaya itu, muncul fakta yang memprihatinkan: kawasan pendakian sebenarnya sudah ditutup dan larangan mendaki telah dipasang jauh sebelumnya.
Tragedi ini memunculkan pertanyaan besar. Mengapa masih ada orang yang nekat mendaki gunung aktif yang jelas-jelas berada dalam status waspada?
Ketika Peringatan Resmi Kalah oleh Sensasi Media Sosial
Gunung Dukono bukan gunung biasa. Gunung ini dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitas erupsinya terjadi hampir terus-menerus dan dalam beberapa kasus dapat berubah menjadi letusan besar secara tiba-tiba.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bahkan telah menetapkan radius bahaya empat kilometer dari kawah. Spanduk larangan pendakian juga sudah dipasang di jalur masuk. Namun semua itu ternyata tidak cukup menghentikan sebagian orang untuk tetap mendaki.
Kapolres Halmahera Utara bahkan menyebut ada dugaan pendaki tetap naik karena ingin membuat konten. Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menggambarkan fenomena sosial yang lebih serius.
Di era digital, tempat berbahaya sering kali berubah menjadi objek wisata ekstrem demi kebutuhan media sosial. Semakin ekstrem lokasi dan semakin dekat dengan bahaya, semakin besar pula potensi perhatian yang didapat di internet. Akibatnya, banyak orang mulai menganggap risiko sebagai bagian dari sensasi.
Masalahnya, alam tidak pernah peduli pada jumlah penonton atau viralnya sebuah video.
Viral Tidak Berarti Aman
Salah satu bagian paling penting dari peristiwa ini datang dari penjelasan Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) mengenai fenomena survivorship bias. Publik sering melihat video pendaki yang berhasil naik ke lokasi berbahaya lalu pulang dengan selamat. Konten tersebut perlahan membentuk ilusi bahwa aktivitas itu aman dilakukan.
Padahal, keselamatan seseorang dalam satu video tidak pernah bisa dijadikan ukuran bahwa risiko telah hilang.
Fenomena ini sangat berbahaya karena media sosial sering hanya memperlihatkan hasil akhir yang dramatis tanpa menunjukkan ancaman nyata di baliknya. Orang melihat foto indah letusan gunung, tetapi tidak melihat gas beracun, lontaran batu pijar, atau kemungkinan erupsi mendadak.
Akibatnya, banyak orang merasa lebih percaya pada pengalaman konten kreator dibanding rekomendasi resmi dari ahli vulkanologi dan otoritas kebencanaan. Inilah bentuk baru infodemik di era digital. Informasi viral lebih cepat dipercaya dibanding informasi ilmiah.
Alam Selalu Memberi Tanda, Tetapi Manusia Sering Mengabaikannya
Kesaksian pemandu lokal bernama Aleksius Djangu memperlihatkan bahwa alam sebenarnya telah memberikan tanda-tanda bahaya sebelum erupsi besar terjadi. Gunung Dukono yang biasanya aktif justru terlihat lebih senyap. Bagi orang yang memahami karakter gunung api, kondisi itu bukan pertanda aman, melainkan tanda tekanan sedang terkumpul di dalam kawah.
Ia bahkan mendengar suara seperti aliran air dari dalam gunung sebelum akhirnya letusan besar terjadi. Berdasarkan pengalaman puluhan tahun mendampingi wisatawan, Aleksius memilih jalur yang lebih aman dan melarang tamunya mendekati kawah.
Namun, tidak semua orang memiliki kesadaran serupa. Banyak pendaki justru terlalu fokus mengambil gambar dan merekam momen erupsi tanpa memperhatikan perubahan aktivitas gunung.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pengalaman, pengetahuan lokal, dan disiplin terhadap prosedur keselamatan sering kali lebih penting dibanding keberanian.
Wisata Alam Ekstrem Perlu Regulasi yang Lebih Tegas
Kasus Gunung Dukono juga membuka kelemahan dalam pengawasan wisata alam ekstrem di Indonesia. Berbeda dengan taman nasional yang memiliki sistem registrasi dan pengawasan ketat, Gunung Dukono disebut tidak memiliki pos keluar-masuk resmi.
Akibatnya, larangan pendakian sulit diawasi secara maksimal. Pendaki masih bisa masuk melalui berbagai jalur tanpa pemeriksaan yang jelas.
Padahal, wisata berbasis gunung api aktif memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dibanding wisata alam biasa. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat regulasi pendakian di kawasan rawan bencana, termasuk pengawasan jalur ilegal dan sanksi bagi pihak yang mengabaikan larangan keselamatan.
Tragedi seperti ini seharusnya tidak terus berulang hanya karena lemahnya pengawasan dan rendahnya disiplin terhadap aturan.
Keselamatan Harus Lebih Penting daripada Konten
Erupsi Gunung Dukono menjadi pengingat keras bahwa alam tidak bisa diperlakukan sebagai latar hiburan semata. Gunung aktif bukan studio konten, melainkan wilayah dengan risiko yang sewaktu-waktu dapat berubah mematikan.
Media sosial memang telah mengubah cara manusia menikmati alam. Namun, ketika pencarian validasi digital mulai membuat orang mengabaikan peringatan keselamatan, maka yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar konten, melainkan nyawa.
Indonesia adalah negara yang hidup berdampingan dengan gunung api. Karena itu, budaya sadar bencana harus menjadi bagian penting dalam masyarakat, terutama di era ketika informasi viral sering lebih dipercaya dibanding peringatan resmi.
Sebab pada akhirnya, tidak semua hal ekstrem layak didekati hanya demi mendapatkan perhatian di internet.
Sumber BBC
Baca lainya Mahasiswa Unpam Kembangkan Sistem E-Commerce Berbasis Laravel pada PT. Sarana Veterinaria Jaya Abadi
Penulis : Nasywa






