Beranda / Opini / Di Pascasarjana, Overthinking Datang Lebih Cepat dari Jadwal Kuliah

Di Pascasarjana, Overthinking Datang Lebih Cepat dari Jadwal Kuliah

Ada satu hal yang unik dari dunia pascasarjana: tugas akhir terasa hadir bahkan sebelum perkuliahan dimulai. Sebagian orang mungkin membayangkan momen diterima kuliah S2 sebagai fase yang membanggakan—masa ketika seseorang akhirnya bisa memperdalam ilmu, memperluas relasi akademik, dan menikmati suasana belajar yang lebih serius. Namun kenyataannya, bagi banyak calon mahasiswa, bayang-bayang tesis justru datang lebih cepat daripada jadwal kuliah pertama.

Bahkan dalam beberapa kasus, topik penelitian sudah mulai dipikirkan jauh sebelum formulir pendaftaran dikirim.

“Ambil konsentrasi apa?”
“Mau tesis tentang apa?”
“Kira-kira penelitiannya nanti bahas apa?”

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu cepat, seolah dunia pascasarjana tidak memberi banyak waktu untuk sekadar menikmati rasa “diterima”. Baru saja membuka pintu masuk, kepala sudah diajak berlari menuju garis akhir.

Aneh memang. Tapi di sisi lain, itu juga menarik.

Di jenjang sarjana, banyak mahasiswa masih bisa menikmati fase “mengalir”. Tugas akhir terasa jauh, bahkan kadang baru benar-benar dipikirkan ketika semester akhir mulai mendekat. Sementara di pascasarjana, tugas akhir seperti identitas kedua. Ia tidak datang di akhir perjalanan, melainkan duduk diam sejak awal sebagai teman seperjalanan.

Mungkin karena dunia pascasarjana memang dibangun dengan ritme yang berbeda. Waktu studi relatif lebih singkat, tuntutan akademiknya lebih padat, dan sebagian besar mahasiswanya bukan lagi sekadar “mahasiswa penuh waktu”. Banyak yang datang sambil bekerja, mengurus keluarga, membangun karier, atau bahkan sedang mencoba keluar dari fase jenuh hidupnya.

Akibatnya, kuliah S2 sering kali terasa bukan hanya tentang belajar ilmu baru, tetapi juga tentang mengelola tekanan yang datang bersamaan.

Yang menarik, overthinking di pascasarjana bukan selalu soal sulitnya materi. Kadang yang melelahkan justru hal-hal yang belum benar-benar terjadi. Baru masuk semester awal, tapi pikiran sudah melompat ke:

  • revisi dosen pembimbing,
  • seminar proposal,
  • jurnal internasional,
  • sidang tesis,
  • hingga pertanyaan klasik: “kalau judul ini ditolak gimana?”

Padahal kelas pertama saja belum dimulai.

Lucunya lagi, banyak mahasiswa S2 akhirnya lebih sering mencari jurnal daripada mencari teman sekelas. Grup perkuliahan belum terlalu aktif, tapi folder referensi penelitian sudah mulai penuh. Belum hafal jadwal mata kuliah, tapi sudah sibuk memikirkan “gap penelitian”.

Dan anehnya, semua itu perlahan terasa normal.

Namun mungkin memang di situlah letak uniknya pendidikan pascasarjana. Ia bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga memaksa seseorang belajar hidup bersama ketidakpastian akademik. Belajar menerima bahwa tidak semua jawaban harus ditemukan hari ini. Bahwa kebingungan terhadap topik penelitian bukan tanda tidak mampu, melainkan bagian dari proses berpikir itu sendiri.

Karena pada akhirnya, tesis bukan sekadar dokumen ratusan halaman. Ia adalah proses panjang tentang bagaimana seseorang belajar menyusun keresahan menjadi pengetahuan.

Maka tidak heran jika banyak mahasiswa pascasarjana terlihat lebih sering termenung dibanding mahasiswa sarjana. Bukan karena tidak menikmati kuliah, tetapi karena di kepala mereka, selalu ada percakapan kecil yang belum selesai:

“Sebenarnya, penelitian apa yang benar-benar ingin saya kerjakan?”

Dan mungkin, justru dari pertanyaan itulah perjalanan akademik yang sesungguhnya dimulai.

Penulis: Rifat Ardan Sany

Baca Juga: Green Jobs dan Skill Penting di Era Ekonomi Hijau

Sumber gambar: magnific.com

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *