Beranda / Ekonomi / Dolar Naik, Dompet Menjerit? Ini Dampaknya Buat Kita

Dolar Naik, Dompet Menjerit? Ini Dampaknya Buat Kita

unair.ac.id

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp18.049 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Pelemahan ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tingginya suku bunga Amerika Serikat, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Bagi sebagian orang, angka rupiah yg melemah mungkin terdengar seperti urusan ekonom, investor, atau pejabat bank sentral. Namun kenyataannya, pelemahan rupiah memiliki dampak yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi Gen Z dan milenial yang sangat bergantung pada teknologi, konsumsi digital, dan mobilitas tinggi.

Ini Bukan Sekadar Dolar Naik

Ketika banyak orang mendengar kabar rupiah melemah, respons yang sering muncul adalah, “Saya kan tidak punya dolar.”

Padahal dampaknya tidak berhenti pada nilai tukar mata uang.

Rupiah yang melemah berarti Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli barang dan jasa dari luar negeri. Akibatnya, biaya produksi naik, harga impor meningkat, dan pada akhirnya masyarakat ikut menanggung kenaikan tersebut melalui harga barang dan layanan yang lebih mahal.

Dengan kata lain, yang naik bukan hanya dolar, tetapi juga potensi biaya hidup.

Gadget dan Teknologi Bisa Semakin Mahal

Gen Z dan milenial merupakan kelompok yang paling dekat dengan teknologi. Sayangnya, sebagian besar perangkat elektronik yang digunakan sehari-hari masih bergantung pada komponen impor.

Dampak yang mungkin dirasakan:

  • Harga smartphone baru menjadi lebih mahal.
  • Laptop dan perangkat gaming berpotensi naik harga.
  • Biaya perbaikan perangkat meningkat.
  • Harga aksesoris elektronik ikut terdorong naik.

Bahkan jika suatu produk dirakit di Indonesia, banyak komponennya tetap berasal dari luar negeri dan dibeli menggunakan dolar AS.

Langganan Digital Bisa Ikut Terpengaruh

Saat ini banyak anak muda mengalokasikan pengeluaran untuk layanan digital.

Contohnya:

  • Netflix
  • Spotify
  • YouTube Premium
  • Google One
  • ChatGPT Plus
  • Game online dan pembelian item digital

Karena sebagian besar perusahaan tersebut berbasis global dan bertransaksi menggunakan dolar AS, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya operasional maupun harga layanan dalam jangka panjang.

Mungkin kenaikannya tidak terjadi besok pagi, tetapi tekanan kurs yang berlangsung lama biasanya akan ikut tercermin pada harga yang dibayar konsumen.

Tiket Liburan dan Studi ke Luar Negeri Jadi Lebih Berat

Kelompok muda saat ini semakin aktif mengikuti program pertukaran pelajar, kuliah luar negeri, perjalanan wisata, hingga bekerja secara remote dengan klien internasional.

Ketika rupiah melemah:

  • Tiket pesawat internasional menjadi lebih mahal.
  • Biaya pendidikan luar negeri meningkat.
  • Biaya hidup di negara tujuan bertambah tinggi.
  • Pengeluaran selama perjalanan ikut membengkak.

Artinya, target yang sebelumnya terasa terjangkau bisa membutuhkan anggaran yang jauh lebih besar.

Daya Beli Bisa Menjadi Korban Utama

Menurut saya, dampak terbesar justru berada pada daya beli masyarakat.

Data menunjukkan inflasi Mei 2026 naik menjadi 3,08 persen, salah satunya dipengaruhi kenaikan harga barang impor. Jika tren pelemahan rupiah berlanjut, tekanan terhadap harga berbagai kebutuhan juga berpotensi meningkat.

Bagi Gen Z yang baru memulai karier dan milenial yang sedang membangun keluarga, kondisi ini bisa terasa melalui:

  • Pengeluaran bulanan yang lebih besar.
  • Tabungan yang tumbuh lebih lambat.
  • Target membeli rumah yang semakin berat.
  • Biaya pendidikan dan kesehatan yang meningkat.

Kenaikan harga sering kali terjadi lebih cepat dibandingkan kenaikan gaji.

Namun Tidak Semua Kabar Buruk

Pelemahan rupiah juga menciptakan peluang bagi sebagian kelompok.

Misalnya:

  • Freelancer yang dibayar dalam dolar.
  • Kreator digital dengan klien luar negeri.
  • Eksportir produk lokal.
  • Pekerja remote untuk perusahaan internasional.

Pendapatan mereka dalam dolar akan bernilai lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.

Karena itu, kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa kemampuan berkompetisi di pasar global semakin penting bagi generasi muda Indonesia.

Baca lainya Pencopotan Kepala BGN: Evaluasi Kepemimpinan dan Arah Baru Program MBG

Penulis : Nasywa

Tag: