Beranda / Sosial / 7.908 Loker Palsu, Pencari Kerja Harus Waspada

7.908 Loker Palsu, Pencari Kerja Harus Waspada

pencari kerja mencari informasi lowongan pekerjaan melalui internet dan perlu memastikan keaslian informasi sebelum melamar.

Penipuan Lowongan Kerja Bukan Lagi Masalah Sepele

Mencari pekerjaan di tengah persaingan yang ketat sudah menjadi tantangan bagi banyak orang. Namun, pencari kerja kini juga harus menghadapi ancaman lain, yaitu penipuan berkedok lowongan kerja.

Pemerintah melalui Kemkomdigi dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia atau BP2MI mencatat 7.908 konten iklan lowongan kerja luar negeri fiktif telah diturunkan sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Angka 7.908 Seharusnya Menjadi Peringatan

Angka tersebut bukan sekadar statistik yang muncul dalam pemberitaan. Jumlah itu menunjukkan bahwa pelaku penipuan melihat pencari kerja sebagai kelompok yang dapat mereka targetkan melalui ruang digital.

Wakil Menteri P2MI Christina Aryani sebelumnya mengatakan bahwa iklan lowongan kerja fiktif sering dikemas secara menarik sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.

Mengapa Loker Palsu Mudah Menarik Korban?

Pelaku tidak selalu menawarkan sesuatu yang terlihat mencurigakan. Mereka justru dapat menggunakan nama perusahaan, posisi pekerjaan, gaji, persyaratan, hingga desain pengumuman yang membuat lowongan terlihat profesional.

Dalam kondisi seseorang sedang membutuhkan pekerjaan, tawaran dengan gaji tinggi, proses cepat, dan persyaratan sederhana dapat membuat calon pelamar mengabaikan proses verifikasi.

Jangan Menganggap Semua Loker di Internet Aman

Kemudahan mencari pekerjaan melalui media sosial memang membantu pencari kerja menemukan lebih banyak peluang. Namun, kemudahan tersebut juga membuka ruang bagi pelaku untuk menyebarkan informasi palsu dengan cepat.

Kemkomdigi bahkan masih menemukan berbagai klaim lowongan palsu pada 2026, termasuk tautan yang meminta calon pelamar memasukkan data pribadi melalui halaman yang tidak resmi.

Cek Perusahaan Sebelum Mengirim Data

Pencari kerja seharusnya tidak langsung mengirim KTP, nomor rekening, alamat lengkap, atau data pribadi lainnya hanya karena sebuah lowongan terlihat meyakinkan.

Sebelum melamar, lakukan beberapa pemeriksaan sederhana:

  • Cari website resmi perusahaan.
  • Periksa halaman karier perusahaan.
  • Cocokkan posisi dengan informasi di kanal resmi.
  • Periksa alamat email perekrut.
  • Jangan mudah percaya pada tautan dari akun pribadi.
  • Jangan membayar biaya rekrutmen.

Jangan Tergoda Gaji Besar dan Proses Cepat

Pelaku penipuan dapat menggunakan iming-iming gaji tinggi untuk menarik perhatian pencari kerja. Mereka juga dapat menciptakan kesan bahwa kesempatan tersebut sangat terbatas sehingga korban merasa harus segera mengambil keputusan.

Menurut saya, tekanan untuk segera mengirim uang atau data pribadi justru harus menjadi tanda bahaya. Rekrutmen yang legitimate seharusnya memberikan informasi yang dapat diverifikasi, bukan memaksa calon pelamar mengambil keputusan secara terburu-buru.

Perhatikan Kanal Resmi Perusahaan

Salah satu cara paling sederhana untuk menghindari loker palsu adalah membandingkan informasi yang beredar dengan kanal resmi perusahaan.

Kemkomdigi, misalnya, menemukan kasus tautan lowongan palsu yang meminta data pribadi melalui formulir mencurigakan, sementara informasi rekrutmen resmi perusahaan sebenarnya tersedia melalui kanal karier perusahaan.

Jangan Sembarangan Mengklik Tautan

Tautan lowongan kerja dapat mengarahkan seseorang ke halaman yang meminta data pribadi. Dalam beberapa kasus, tautan tersebut dapat menjadi bagian dari modus phishing untuk memperoleh informasi korban.

Karena itu, jangan langsung memasukkan data hanya karena halaman tersebut menggunakan logo atau nama perusahaan yang terlihat resmi.

Perusahaan Terkenal Pun Bisa Dipakai dalam Penipuan

Nama perusahaan besar tidak otomatis membuat sebuah lowongan menjadi asli. Pelaku dapat menggunakan nama dan identitas perusahaan yang dikenal untuk meningkatkan kepercayaan korban.

Kemkomdigi bahkan telah mengklarifikasi beberapa klaim lowongan palsu yang menggunakan nama perusahaan besar dan mengarahkan pengguna ke halaman mencurigakan.

Jangan Bayar untuk Mendapatkan Pekerjaan

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah permintaan pembayaran yang dikaitkan dengan proses mendapatkan pekerjaan. Pencari kerja perlu mempertanyakan biaya administrasi, biaya pelatihan, biaya pemberangkatan, atau pembayaran lain yang tidak dapat diverifikasi.

Pekerjaan seharusnya menjadi sumber penghasilan, bukan alasan bagi pelamar untuk mentransfer uang kepada pihak yang tidak jelas.

Kalau Mencurigakan, Jangan Hanya Diabaikan

Masyarakat juga dapat mengambil langkah setelah menemukan dugaan penipuan. Kemkomdigi mengimbau masyarakat melaporkan konten mencurigakan melalui kanal Aduan Konten dengan menyertakan tautan dan tangkapan layar yang relevan.

Dengan melaporkan informasi mencurigakan, masyarakat tidak hanya melindungi dirinya sendiri tetapi juga membantu mengurangi kemungkinan orang lain menjadi korban.

Pencari Kerja Juga Harus Memiliki Literasi Digital

Menurut saya, persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan meminta pemerintah memblokir lebih banyak konten. Pencari kerja juga perlu memiliki kemampuan dasar untuk memeriksa informasi sebelum mempercayainya.

Literasi digital dalam mencari kerja kini sama pentingnya dengan kemampuan membuat CV dan menghadapi wawancara.

Jangan Sampai Kebutuhan Pekerjaan Menjadi Celah Penipuan

Pencari kerja berada dalam posisi yang rentan ketika mereka sangat membutuhkan pekerjaan. Kondisi tersebut tidak boleh dimanfaatkan oleh pihak yang ingin mengambil uang atau data pribadi.

Karena itu, jangan hanya bertanya “Apakah saya diterima?”, tetapi biasakan bertanya “Apakah perusahaan dan lowongan ini benar-benar ada?”

7.908 Loker Palsu Harus Mengubah Cara Kita Mencari Kerja

Pemerintah memang perlu memperkuat pengawasan dan menindak pelaku penipuan digital. Namun, pencari kerja juga harus mengambil peran dengan melakukan verifikasi sebelum memberikan data atau mengikuti proses rekrutmen.

Pada akhirnya, mencari pekerjaan bukan hanya tentang menemukan kesempatan secepat mungkin. Kita juga harus memastikan bahwa kesempatan tersebut benar-benar pekerjaan, bukan jebakan yang dikemas sebagai peluang.

Penulis : Naswa

Baca lainya Warga Bantaran Sungai Banjarmasin Rasakan Air Mulai Asin

Tag: