Beranda / Teknologi / Saat Popularitas Mengalahkan Kebenaran

Saat Popularitas Mengalahkan Kebenaran

Di era media sosial, sesuatu yang ramai sering kali dianggap penting. Sebuah unggahan dapat menyebar dalam hitungan menit, membentuk opini, bahkan memengaruhi cara seseorang memandang suatu persoalan.

Namun, persoalan muncul ketika popularitas mulai menjadi ukuran kebenaran. Semakin banyak yang melihat dan membagikan, semakin mudah pula sebuah informasi dipercaya.

Viral Bukan Berarti Benar

Konten yang kontroversial, mengejutkan, atau memancing emosi cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian. Padahal, banyaknya orang yang membicarakan sesuatu tidak otomatis menjadikannya benar.

UNESCO menempatkan literasi media dan informasi sebagai kemampuan penting untuk menghadapi misinformasi dan disinformasi. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk terlibat secara kritis dengan informasi, bukan sekadar menerima apa yang muncul di layar.

Hal ini menjadi semakin relevan karena UNESCO mencatat bahwa dua dari tiga kreator konten digital tidak secara sistematis melakukan pemeriksaan fakta sebelum membagikan informasi secara daring.

Ketika Emosi Mengalahkan Fakta

Informasi yang memancing kemarahan, ketakutan, atau rasa penasaran sering kali lebih cepat menyebar. Dalam keadaan emosional, keinginan untuk segera membagikan sesuatu dapat mengalahkan keinginan untuk memeriksa kebenarannya.

WHO juga mengingatkan bahwa perkembangan media sosial membuat informasi menyebar lebih cepat, tetapi pada saat yang sama dapat memperkuat pesan yang keliru atau berbahaya.

Satu tombol share mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Namun, dampak dari informasi yang salah dapat bertahan jauh lebih lama.

Berhenti Sebelum Membagikan

Di tengah arus informasi yang semakin cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi bentuk kecerdasan digital.

Tidak semua yang muncul di linimasa harus dipercaya. Tidak semua yang viral harus diikuti. Dan tidak semua yang ramai layak dianggap benar.

Yang ramai belum tentu benar, dan yang benar tidak selalu ramai.

Pada akhirnya, masyarakat tidak kekurangan informasi. Yang semakin dibutuhkan adalah kemampuan untuk memilahnya.

Popularitas dapat membuat sesuatu dikenal banyak orang, tetapi hanya fakta yang membuatnya layak dipercaya.

Baca juga: Selain Scroll, Ini Hobi Offline yang Cocok untuk Gen Z

Penulis: Fitri Nur

Sumber gambar: Tirto.id

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *