Psikolog sekaligus dosen UIN Palangka Raya, Ari Pamungkas, mengajak masyarakat menyikapi fenomena laki-laki yang berperilaku atau berpenampilan feminin secara bijak tanpa stigma maupun penghakiman. Menurutnya, masyarakat tidak boleh langsung menganggap laki-laki yang tampak feminin mengalami gangguan psikologis, penyimpangan, atau memiliki orientasi seksual tertentu.
Banyak Faktor Membentuk Perilaku Feminin
Ari menjelaskan bahwa banyak faktor memengaruhi gaya bicara, gerak tubuh, pilihan pakaian, hingga cara seseorang bergaul. Faktor tersebut meliputi temperamen yang lembut, pola asuh keluarga, lingkungan pergaulan, pengalaman masa kecil, media sosial, figur yang menjadi panutan, serta keinginan untuk diterima dalam kelompok sosial.
Ia menambahkan bahwa anak dan remaja memiliki kecenderungan kuat untuk meniru perilaku orang lain selama proses tumbuh kembang. Mereka dapat meniru gaya bicara, ekspresi tubuh, maupun kebiasaan dari orang yang sering mereka lihat dan kagumi.

Orang Tua Harus Mengedepankan Komunikasi
Ari meminta orang tua tetap memberikan arahan agar anak memahami nilai, batasan, dan peran sosial yang berlaku di keluarga maupun masyarakat. Namun, ia mengingatkan agar orang tua menghindari hinaan, ejekan, maupun kekerasan saat membimbing anak.
Ia menyarankan orang tua berbicara secara pribadi dengan anak, mendengarkan alasan mereka, memahami lingkungan pergaulannya, kemudian memberikan nasihat secara tegas sekaligus manusiawi.
Pengaruh Sosial Bukan Penularan
Ari juga meluruskan anggapan bahwa perilaku feminin dapat menular. Menurutnya, psikologi tidak mengenal istilah tersebut. Ia menilai istilah “pengaruh sosial” lebih tepat untuk menjelaskan fenomena itu.
Anak atau remaja memang dapat meniru gaya berpakaian, bahasa tubuh, cara berbicara, maupun kebiasaan teman sebaya. Namun, proses meniru tersebut tidak otomatis mengubah kepribadian seseorang.
Sebagian anak hanya mengikuti tren pergaulan, sebagian sedang mencari jati diri, sebagian ingin tampil berbeda, sedangkan sebagian lainnya memang memiliki kecenderungan mengekspresikan diri dengan cara tertentu sejak kecil.
Hindari Stigma Demi Menjaga Kesehatan Mental
Ari mengingatkan orang tua dan masyarakat agar menghindari stigma, perundungan, maupun penolakan terhadap individu yang dianggap berbeda. Menurutnya, perlakuan tersebut dapat memicu rendah diri, kecemasan, kesulitan bersosialisasi, hingga menghambat perkembangan kepribadian.
Karena itu, Ari mengajak orang tua membangun komunikasi yang hangat, mempererat kedekatan emosional, serta melakukan pengawasan yang sehat terhadap anak, bukan sekadar melarang mereka bergaul.
“Perilaku boleh dikoreksi, tetapi harga diri anak tetap harus dijaga. Bimbingan yang baik adalah bimbingan yang tegas dalam nilai, tetapi tidak kasar dalam cara,” pungkas Ari.
Penulis : Nasywa
Baca lainya Mahasiswa TI UNPAM Serahkan Website untuk MTS Baitis Salmah






