Setelah berbulan-bulan memantau perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, para ilmuwan semakin yakin bahwa fenomena El Niño akan kembali berkembang tahun ini. World Meteorological Organization (WMO) memperkirakan peluang terjadinya El Niño mencapai sekitar 80 persen pada pertengahan tahun dan meningkat hingga lebih dari 90 persen untuk bertahan setidaknya sampai akhir tahun. Artinya, perhatian dunia kini bukan lagi apakah El Niño akan terjadi, melainkan seberapa kuat dampaknya terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia. (WMO).
Mengapa El Niño Selalu Menjadi Perhatian?
El Niño merupakan fenomena iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menghangat di atas kondisi normal. Perubahan tersebut memengaruhi pola angin dan curah hujan di berbagai belahan dunia.
Bagi Indonesia, dampak yang paling sering dirasakan adalah berkurangnya curah hujan, musim kemarau yang lebih panjang, hingga meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran hutan. BMKG menjelaskan bahwa setiap kejadian El Niño memiliki kekuatan yang berbeda sehingga dampaknya juga tidak selalu sama. (BMKG).
Indonesia Perlu Bersiap Sejak Sekarang
Meskipun kekuatan El Niño tahun ini masih terus dipantau, berbagai sektor sudah mulai meningkatkan kewaspadaan. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan karena berkurangnya pasokan air dapat memengaruhi masa tanam hingga hasil panen.
Selain pertanian, ketersediaan air bersih, pembangkit listrik tenaga air, hingga potensi kebakaran hutan juga menjadi perhatian. Karena itu, kesiapsiagaan jauh lebih penting dibandingkan menunggu dampaknya benar-benar terjadi.
Apakah El Niño Berarti Semua Daerah Akan Kekeringan?
Jawabannya tidak.
Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan karakter cuaca yang berbeda-beda. Ada daerah yang mengalami penurunan hujan cukup signifikan, tetapi ada pula wilayah yang masih memperoleh curah hujan normal.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung menganggap seluruh Indonesia akan mengalami kekeringan ekstrem. Yang lebih penting adalah mengikuti informasi resmi dari BMKG agar dapat menyesuaikan langkah antisipasi sesuai kondisi di daerah masing-masing.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Menghadapi El Niño bukan hanya tugas pemerintah. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat mulai dilakukan sejak sekarang, antara lain:
- Menghemat penggunaan air bersih.
- Menampung air hujan ketika memungkinkan.
- Tidak melakukan pembakaran lahan saat musim kemarau.
- Mengikuti informasi cuaca dari BMKG.
- Menggunakan air secara lebih bijak dalam aktivitas sehari-hari.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi dampak apabila musim kemarau berlangsung lebih lama dibandingkan biasanya.
Jangan Menunggu Sampai Air Sulit Didapat
Setiap kali mendengar istilah El Niño, banyak orang langsung membayangkan kekeringan ekstrem seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Padahal, pesan terpenting dari para ilmuwan bukanlah menciptakan kepanikan, melainkan mengajak masyarakat untuk lebih siap menghadapi kemungkinan yang ada.
El Niño bukan sesuatu yang bisa dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi jika pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat mulai melakukan antisipasi sejak dini. Menghemat air, menjaga lingkungan, dan mengikuti informasi resmi mungkin terdengar sederhana, tetapi justru itulah langkah pertama yang paling realistis.
Perubahan iklim membuat cuaca semakin sulit diprediksi. Karena itu, kesiapsiagaan seharusnya menjadi kebiasaan, bukan hanya ketika El Niño datang. Indonesia memang tidak bisa mengendalikan fenomena alam, tetapi kita masih bisa mengendalikan cara kita meresponsnya.
Penulis : Naswa
Baca lainya Suara AI Tak Pernah Tidur, Data Center 24 Jam Digugat Warga Michigan





