Anak kecil sering dianggap belum memahami banyak hal. Ketika menangis, marah, atau menolak perintah, perilaku tersebut terkadang langsung dicap sebagai kenakalan. Padahal, anak masih belajar mengenali perasaan, mengendalikan emosi, dan menyampaikan keinginannya.
Berbeda dengan orang dewasa, anak belum selalu mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Rasa kecewa, takut, lelah, atau frustrasi dapat muncul melalui tangisan dan perilaku yang sulit dipahami orang di sekitarnya.
Karena itu, memahami perilaku anak tidak cukup hanya dengan menuntut mereka untuk patuh. Orang tua juga perlu memperhatikan kebutuhan emosional yang mungkin melatarbelakanginya.
Mengapa Anak Bisa Tantrum?
Tantrum dapat terjadi ketika anak kesulitan mengelola emosi atau belum mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata. Misalnya, anak menangis keras karena keinginannya tidak terpenuhi atau karena merasa lelah.
Dalam situasi seperti ini, membentak atau mempermalukan anak bukanlah solusi yang tepat. American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan pendekatan disiplin positif, seperti menetapkan batasan yang jelas, memberikan contoh perilaku yang baik, dan menggunakan komunikasi yang tenang.
Bentakan yang keras dan berulang dapat berdampak buruk pada hubungan emosional anak dengan orang tua serta berkaitan dengan masalah perilaku dan kesehatan mental. Meski demikian, dampaknya tidak selalu sama pada setiap anak.
Mendidik Anak Tanpa Harus Membentak
Orang tua tetap perlu bersikap tegas ketika anak melakukan kesalahan. Namun, ketegasan tidak harus disertai kata-kata yang merendahkan atau hukuman yang mempermalukan.
Ketika anak mengamuk, orang tua dapat membantunya menenangkan diri terlebih dahulu, lalu menjelaskan batasan setelah situasi lebih terkendali. Kalimat sederhana seperti, “Ibu tahu kamu kecewa, tetapi memukul tidak boleh,” dapat membantu anak memahami perasaannya sekaligus mengenali perilaku yang tidak dapat diterima.
Anak juga belajar melalui contoh. Ketika orang tua mampu mengendalikan kemarahan, mendengarkan, dan meminta maaf setelah melakukan kesalahan, mereka menunjukkan cara menyelesaikan konflik secara sehat.
Memahami Anak Adalah Bagian dari Proses Mendidik
Mendidik anak bukan sekadar membuatnya patuh terhadap aturan, tetapi juga membantu mereka memahami perasaan, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Anak kecil bukanlah orang dewasa dalam tubuh mini. Mereka masih berada dalam tahap perkembangan dan membutuhkan bimbingan yang sesuai dengan usianya. Memberikan ruang untuk bercerita, menetapkan aturan secara konsisten, dan menunjukkan kasih sayang dapat membantu membangun rasa aman.
Pada akhirnya, memahami emosi anak bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Melalui komunikasi yang sehat dan disiplin positif, anak dapat belajar membedakan perasaan dengan tindakan serta mengembangkan kemampuan mengelola emosinya.
Baca juga: Psikolog, Laki-Laki Feminin Perlu Dibimbing Tanpa Stigma?
Penulis: Fitri Nur
Sumber gambar: Ciputra.ac.id
Sumber rujukan: American Academy of Pediatrics (AAP), What’s the Best Way to Discipline My Child?






