Perbedaan seharusnya menjadi sesuatu yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, ketika perbedaan pendapat berubah menjadi alasan untuk saling menjauh, masyarakat mulai kehilangan satu hal penting: tenggang rasa.
Di tengah kondisi tersebut, budaya tepo sliro kembali menemukan relevansinya. Tepo sliro mengajarkan seseorang untuk mempertimbangkan perasaan dan posisi orang lain sebelum bertindak. Bukan berarti harus selalu mengalah, tetapi memahami bahwa orang lain juga memiliki hak untuk berbeda.
Ketika Perbedaan Menjadi Sekat
Polarisasi tidak selalu dimulai dari konflik besar. Ia bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana: terlalu cepat menghakimi, enggan mendengarkan, atau merasa pendapat sendiri paling benar.
Di media sosial, perbedaan pandangan mudah berubah menjadi serangan pribadi. Di lingkungan warga, perbedaan kepentingan dapat membuat hubungan yang sebelumnya dekat menjadi renggang.
Padahal, berbeda tidak harus bermusuhan.
Penelitian Erna Istikomah dan Hardiyanto dari Universitas Negeri Yogyakarta menunjukkan bahwa tepa salira merupakan tuntunan dalam berinteraksi sosial dan dapat diterapkan dalam berbagai tingkat kehidupan bermasyarakat. Mereka menempatkan nilai ini sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih damai.
Artinya, tenggang rasa bukan sekadar nilai budaya masa lalu. Ia masih relevan ketika masyarakat menghadapi perbedaan dan semakin mudah terpecah oleh berbagai persoalan.
Menghidupkan Kembali Tepo Sliro

(Sumber gambar: gramedia.com)
Menghidupkan tepo sliro tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dengan mendengarkan sebelum menilai, berpikir sebelum berbicara, dan menahan diri untuk tidak mempermalukan orang lain hanya karena berbeda.
Masyarakat tidak harus memiliki pandangan yang sama untuk hidup rukun. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menghormati perbedaan.
Pada akhirnya, tepo sliro bukan tentang siapa yang harus mengalah, tetapi bagaimana perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Di tengah zaman ketika orang semakin mudah berbicara tetapi semakin sulit mendengarkan, mungkin nilai sederhana inilah yang perlu kembali dihidupkan.
Baca juga: Tradisi Selapanan: Warisan Budaya Jawa yang Sarat Doa dan Harapan
Penulis: Fitri Nur
Sumber gambar: Gramedia.com





