Beranda / Sosial / Budaya “Tidak Enakan” dan Harga yang Harus Dibayar

Budaya “Tidak Enakan” dan Harga yang Harus Dibayar

Dalam kehidupan sosial, menjaga perasaan orang lain sering dianggap sebagai bentuk kedewasaan. Menolak permintaan terasa tidak nyaman, menyampaikan keberatan dianggap berisiko menyinggung, sementara mengatakan “iya” menjadi pilihan yang paling aman.

Kebiasaan semacam itu kemudian dikenal sebagai sikap “tidak enakan”.

Sekilas, tidak ada yang keliru dengan sikap tersebut. Persoalan muncul ketika keinginan untuk menjaga perasaan orang lain dilakukan terus-menerus hingga mengabaikan batas diri sendiri.

Seseorang dapat terlihat sebagai pribadi yang baik di mata lingkungan, tetapi pada saat yang sama menyimpan kelelahan, keberatan, bahkan kekecewaan yang tidak pernah disampaikan.

Ketika “Iya” Tidak Selalu Berarti Bersedia

Kata “iya” tidak selalu lahir dari kesediaan.

Dalam banyak situasi, “iya” muncul karena takut dianggap tidak peduli. Ada pula yang menerima permintaan karena khawatir hubungan menjadi renggang jika penolakan diberikan.

Di tempat kerja, misalnya, seseorang menerima pekerjaan tambahan meski tugas utama belum selesai. Dalam pertemanan, seseorang tetap membantu meski sebenarnya sedang memiliki masalah sendiri. Bahkan dalam keluarga, keputusan tertentu terkadang diterima hanya demi menghindari konflik.

Pada akhirnya, persetujuan yang diberikan bukan lagi menjadi pilihan bebas, melainkan respons terhadap tekanan sosial.

Kesopanan Tidak Seharusnya Menghapus Batas

Sikap menghargai orang lain memang penting. Namun, menghargai orang lain tidak berarti menghilangkan hak untuk memiliki batas.

Psikolog sosial C. Nathan DeWall dan rekan-rekannya dalam berbagai kajian mengenai penolakan sosial menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan kuat untuk diterima dan terhubung dengan kelompok. Rasa takut terhadap penolakan dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan dalam hubungan sosial.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kebutuhan untuk diterima tersebut dapat menjelaskan mengapa sebagian orang lebih memilih menanggung ketidaknyamanan sendiri daripada mengambil risiko mengecewakan orang lain.

Masalahnya, hubungan yang terus dipertahankan dengan cara mengorbankan diri sendiri belum tentu merupakan hubungan yang sehat.

Tidak Semua Penolakan Adalah Bentuk Keegoisan

Ada anggapan bahwa orang yang sulit mengatakan “iya” adalah orang yang egois. Padahal, penolakan dapat menjadi bentuk kejujuran.

Ketika seseorang tidak memiliki waktu, tenaga, kemampuan, atau kenyamanan untuk melakukan sesuatu, mengatakan “tidak” justru lebih sehat daripada memberikan persetujuan yang pada akhirnya dilakukan dengan terpaksa.

Batas diri bukan tembok untuk menjauh dari orang lain. Batas diri adalah penanda mengenai bagaimana seseorang ingin diperlakukan dan sejauh mana dirinya mampu memenuhi kebutuhan orang lain.

Karena itu, kemampuan mengatakan “tidak” seharusnya tidak selalu dipandang sebagai sikap negatif.

Harga dari Terlalu Sering Mengalah

Budaya “tidak enakan” memiliki harga yang sering kali tidak terlihat.

Ketika seseorang terlalu sering mengalah, orang lain dapat menganggap pengorbanan tersebut sebagai sesuatu yang normal. Bantuan yang awalnya diberikan secara sukarela perlahan berubah menjadi ekspektasi.

Dari sinilah persoalan baru muncul. Ketika suatu hari bantuan tidak lagi diberikan, justru muncul pertanyaan: mengapa sekarang berbeda?

Padahal, yang berubah bukan selalu sikap orang tersebut. Bisa jadi hanya batas yang akhirnya mulai ditegakkan.

Lebih jauh, terlalu sering memendam keberatan dapat membuat seseorang merasa tidak dihargai. Hubungan yang seharusnya dibangun atas dasar saling memahami justru berubah menjadi hubungan yang bergantung pada kemampuan satu pihak untuk terus mengalah.

Belajar Menjadi Baik Tanpa Kehilangan Diri

Menjadi pribadi yang baik tidak harus berarti selalu tersedia.

Ada kalanya membantu adalah pilihan yang tepat. Ada kalanya pula menolak merupakan keputusan yang lebih jujur. Keduanya tidak menentukan apakah seseorang merupakan pribadi baik atau buruk.

Yang perlu dibangun adalah keberanian untuk membedakan antara membantu karena ingin dan membantu karena takut.

Kalimat sederhana seperti “maaf, kali ini belum bisa” sebenarnya sudah cukup. Tidak semua penolakan harus disertai rasa bersalah, sebagaimana tidak semua permintaan harus dipenuhi.

Pada akhirnya, kehidupan sosial membutuhkan empati, tetapi juga membutuhkan batas.

Sebab, menjadi baik kepada orang lain seharusnya tidak menuntut seseorang untuk terus-menerus menjadi tidak baik kepada dirinya sendiri.

Baca juga: Relationship Sehat Bukan yang Tanpa Masalah, tetapi Tahu Cara Menyelesaikannya

Penulis: Fitri Nur

Sumber gambar: magnific.com

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *