Beranda / Opini / Kita Terlalu Sering Membandingkan Bab 3 Kita dengan Bab 20 Orang Lain

Kita Terlalu Sering Membandingkan Bab 3 Kita dengan Bab 20 Orang Lain

Ada satu kebiasaan yang mungkin hampir pernah dilakukan semua orang: membuka media sosial, melihat kehidupan orang lain, lalu tiba-tiba merasa hidup sendiri agak tertinggal.

Teman sudah lulus kuliah. Teman yang lain sudah bekerja di perusahaan besar. Ada yang sudah punya bisnis, membeli rumah, menikah, bahkan mungkin sudah sibuk mengurus anak.

Sementara kita?

Masih berkutat dengan tugas kuliah, mencari pekerjaan, membangun usaha yang belum jelas hasilnya, atau bahkan masih bingung sebenarnya hidup mau dibawa ke mana.

Lalu muncul satu pertanyaan yang cukup menyebalkan:

“Kok dia sudah sejauh itu, sedangkan aku masih di sini?”

Kita Hanya Melihat Bab yang Sudah Jadi

Masalahnya, kita sering membandingkan hidup dengan cara yang tidak adil.

Kita melihat pencapaian orang lain seperti sedang membaca Bab 20, sementara kita sedang berada di Bab 3.

Kita melihat seseorang sudah memiliki pekerjaan impian, tetapi tidak melihat berapa banyak lamaran yang pernah ditolak sebelum mendapatkannya.

Kita melihat seseorang punya bisnis yang berjalan, tetapi tidak melihat berapa kali usahanya hampir tutup.

Kita melihat seseorang tersenyum di depan rumah barunya, tetapi tidak tahu berapa tahun ia menabung untuk membelinya.

Media sosial membuat semuanya terlihat lebih sederhana. Satu foto bisa membuat perjalanan bertahun-tahun seseorang terlihat seperti sesuatu yang terjadi dalam satu hari.

Padahal hidup tidak pernah sesingkat caption Instagram.

Setiap Orang Punya Timeline Masing-Masing

Ada orang yang menemukan passion-nya sejak kuliah.

Ada juga yang baru menemukannya setelah bekerja bertahun-tahun.

Ada yang menikah di usia dua puluhan. Ada yang memilih menunggu lebih lama. Ada yang sudah memiliki rumah ketika teman-temannya masih sibuk membayar kos.

Tidak ada satu jadwal kehidupan yang berlaku untuk semua orang.

Kita sering merasa harus mencapai sesuatu pada usia tertentu karena melihat orang lain sudah mendapatkannya. Seolah-olah hidup memiliki kalender yang sama untuk semua manusia.

Padahal tidak.

Kita memiliki kondisi keluarga yang berbeda, kesempatan yang berbeda, lingkungan yang berbeda, kemampuan yang berbeda, bahkan jalan hidup yang berbeda.

Maka wajar jika waktunya juga berbeda.

Bab 3 Bukan Berarti Kita Gagal

Ada masa ketika kita masih belajar.

Masih mencoba.

Masih salah memilih.

Masih mengirim lamaran kerja yang tidak mendapat balasan.

Masih membangun sesuatu yang belum menghasilkan.

Masih belajar mengatur uang.

Masih mencari tahu sebenarnya kita ingin menjadi siapa.

Dan itu bukan kegagalan.

Itu hanya berarti kita masih berada di bagian awal cerita.

Tidak ada yang memaksa sebuah buku harus langsung menarik pada halaman ketiganya. Beberapa cerita memang membutuhkan banyak halaman sebelum pembaca memahami ke mana arahnya.

Begitu juga dengan hidup.

Mungkin sekarang kita belum melihat hasil dari apa yang sedang dikerjakan. Mungkin usaha kita belum terlihat oleh banyak orang. Mungkin pencapaian kita belum cukup menarik untuk diunggah ke media sosial.

Tidak masalah.

Sebab sesuatu yang sedang tumbuh memang tidak selalu terlihat dari luar.

Jangan Menjadikan Hidup Orang Lain sebagai Penggaris

Membandingkan diri sesekali mungkin manusiawi.

Yang menjadi masalah adalah ketika perbandingan tersebut membuat kita lupa menghargai perjalanan sendiri.

Kita mulai menganggap pencapaian orang lain sebagai standar mutlak. Ketika mereka naik satu langkah, kita merasa tertinggal. Ketika mereka membeli sesuatu, kita merasa harus punya juga. Ketika mereka mencapai sesuatu lebih dulu, kita merasa hidup sedang memperlakukan kita dengan tidak adil.

Padahal kita tidak sedang mengikuti perlombaan yang sama.

Bahkan bisa jadi, kita tidak sedang menuju tempat yang sama.

Jadi, daripada terus bertanya “Kenapa aku belum seperti dia?”, mungkin pertanyaan yang lebih sehat adalah:

“Apa yang bisa aku lakukan dari tempatku berdiri sekarang?”

Pertanyaan itu jauh lebih sederhana, tetapi juga jauh lebih berguna.

Teruslah Menulis Cerita Sendiri

Kalau hari ini kita masih berada di Bab 3, tidak perlu malu.

Bab 3 tetap bagian dari buku.

Di sana mungkin ada banyak kesalahan, kebingungan, kegagalan, dan keputusan yang belum sempurna. Tetapi justru dari sanalah cerita mulai berkembang.

Orang yang sekarang kita lihat sudah jauh di depan juga pernah berada di halaman yang belum selesai.

Kita hanya tidak melihatnya.

Jadi, tidak perlu buru-buru menutup buku sendiri hanya karena melihat buku orang lain terlihat lebih menarik.

Teruslah belajar. Teruslah mencoba. Rayakan kemajuan kecil yang mungkin tidak dilihat siapa-siapa.

Tidak apa-apa kalau hari ini kita masih berada di Bab 3. Yang penting, jangan berhenti menulis hanya karena melihat orang lain sudah sampai di Bab 20.

Baca juga: AI Ciptakan Pekerjaan Baru? Jensen Huang Punya Pandangan Berbeda

Penulis: Rifat Ardan Sany

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *