Beranda / Opini / Warga Bantaran Sungai Banjarmasin Rasakan Air Mulai Asin

Warga Bantaran Sungai Banjarmasin Rasakan Air Mulai Asin

Rayantara.com – Banjarmasin 14 Agustus 2026 – Puncak musim kemarau memicu intrusi air laut yang membuat air sungai di sejumlah kawasan Banjarmasin mulai terasa asin. Kondisi tersebut dirasakan warga yang tinggal di bantaran Sungai Martapura dan Sungai Alalak.

Arpah, warga Jalan RK Ilir, Banjarmasin Selatan, mengatakan perubahan rasa air sungai mulai terasa dalam beberapa hari terakhir. Warga yang tinggal di bantaran Sungai Martapura itu selama ini memanfaatkan air sungai untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.

Namun, karena air mulai terasa asin, Arpah tidak lagi berani menggunakannya untuk mandi.

“Hanya dipakai untuk cuci piring dan baju. Itu pun setelah dicuci pakai air sungai, tetap harus dibilas lagi menggunakan air leding,” ujar Arpah, Selasa (11/8/2026).

Selain untuk kebutuhan rumah tangga, air sungai juga digunakan Arpah untuk membersihkan peralatan warung makan miliknya yang berada di dekat Rumah Sakit Sultan Suriansyah.

Kondisi serupa dirasakan Lia, warga kawasan Sungai Alalak. Ia mengaku rasa asin pada air sungai semakin terasa dalam beberapa hari terakhir.

Meski masih memanfaatkan air sungai untuk membersihkan rumah, halaman, mencuci pakaian, dan peralatan dapur, Lia tetap menggunakan air PAM untuk proses pembilasan.

Sementara itu, meningkatnya kadar garam pada sumber air baku turut berdampak pada pelanggan PAM Bandarmasih. Erlina, warga Jalan Sutoyo S, Banjarmasin Barat, mengaku air PAM di rumahnya cenderung terasa asin dan keruh.

Kondisi tersebut telah berlangsung selama beberapa hari. Ia juga mengeluhkan tekanan air yang menurun dan tidak sederas biasanya.

“Tekanan airnya juga turun, tidak sederas biasanya,” ungkapnya.

Lurah Alalak Selatan, Muhammad Liqa Syuhada, mengatakan air leding di kantor kelurahan juga mulai terasa hampir asin. Meski demikian, tekanan air di lokasi tersebut masih normal.

“Sejak beberapa hari lalu agak berubah jadi hampir asin, untuk tekanannya normal,” ujarnya.

Kondisi tersebut terjadi setelah kadar garam pada sumber air baku PAM Bandarmasih meningkat tajam hingga mencapai 2.119 PPM pada Senin (10/8/2026).

Angka tersebut jauh di atas batas konsentrasi klorida yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan RI untuk air minum, yakni 250 PPM.

Baca juga: ASEAN Melesat, Benarkah Indonesia Tertinggal?

Penulis: Fitri Nur

Sumber gambar:commons.wikimedia.org

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *