Beranda / Edukasi / Pendidikan Tidak Selalu Dimulai dari Gedung Megah: Belajar dari Isrodin di Lereng Gunung Slamet

Pendidikan Tidak Selalu Dimulai dari Gedung Megah: Belajar dari Isrodin di Lereng Gunung Slamet

Rayantara.com – Tangerang Selatan, 6 Agustus 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, digitalisasi pembelajaran, dan berbagai inovasi pendidikan, masih ada wilayah di Indonesia yang menghadapi persoalan paling mendasar, yaitu akses terhadap sekolah. Bagi sebagian anak, pendidikan bukan soal memilih sekolah terbaik, melainkan bagaimana mereka dapat bersekolah.

Realitas tersebut pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di lereng Gunung Slamet, Kabupaten Banyumas. Di tengah keterbatasan itu, hadir sosok Isrodin yang memilih menjawab persoalan dengan tindakan nyata. Ia mendirikan MTs Pakis sebagai ruang belajar bagi anak-anak yang kesulitan mengakses pendidikan karena faktor ekonomi maupun jarak.

Langkah tersebut membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu diawali oleh kebijakan berskala nasional atau bangunan yang megah. Perubahan sering kali lahir dari keberanian seseorang yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Pendidikan yang Menyatu dengan Kehidupan

MTs Pakis dibangun dengan filosofi bahwa pendidikan harus dekat dengan kehidupan masyarakat. Sekolah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemandirian.

Di sekolah ini, keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan untuk menutup pintu pendidikan. Masyarakat dilibatkan sebagai bagian dari ekosistem sekolah, sementara peserta didik diajak memahami pentingnya menjaga alam melalui pertanian dan pelestarian hutan. Pendidikan tidak diposisikan sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan sebagai bekal untuk membangun masa depan tanpa kehilangan akar budaya dan lingkungan.

Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat anak agar berkembang menjadi manusia yang merdeka, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan sejatinya tidak hanya mencetak individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang memiliki empati dan tanggung jawab sosial.

Ketika Dedikasi Mendapat Pengakuan

Perjuangan Isrodin tidak berhenti pada berdirinya MTs Pakis. Dedikasinya dalam memperluas akses pendidikan memperoleh berbagai bentuk apresiasi.

Pada tahun 2013, ia dinobatkan sebagai Tutor Berprestasi Kabupaten Banyumas atas kontribusinya dalam pendidikan masyarakat. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kiprahnya yang konsisten mendampingi masyarakat memperoleh hak atas pendidikan.

Dokumentasi Bapak Isrodin mendapat Peringkat III
(Sumber: myinfo.id for Rayantara.com)

Komitmennya dalam memadukan pendidikan dengan pelestarian lingkungan juga mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2026, Isrodin menerima Peringkat III Kategori Penyelamat Lingkungan Hidup berkat pengembangan pendidikan berbasis agroforestri yang mengajarkan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari proses belajar.

Dokumentasi acara Liputan6 Awards 2026
(Sumber: uinsaizu.ac.id for rayantara.com)

Di tahun yang sama, dedikasinya memperoleh pengakuan di tingkat nasional melalui Liputan6 Awards 2026. Penghargaan tersebut diberikan kepada sosok-sosok inspiratif yang menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. Pengakuan itu menunjukkan bahwa upaya sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak yang jauh melampaui batas wilayah tempat perjuangan itu dimulai.

Namun, penghargaan bukanlah tujuan utama. Nilai terbesar dari perjuangan Isrodin terletak pada terbukanya kesempatan belajar bagi anak-anak yang sebelumnya hampir kehilangan harapan untuk melanjutkan pendidikan.

Pendidikan Tidak Hanya Diukur dari Kemegahan Fasilitas

Kemajuan pendidikan sering kali diukur melalui gedung yang megah, laboratorium modern, atau teknologi yang canggih. Semua itu memang penting, tetapi belum cukup menggambarkan kualitas pendidikan secara utuh.

UNESCO menegaskan bahwa pendidikan yang inklusif dan berkualitas merupakan hak setiap orang tanpa memandang kondisi ekonomi maupun lokasi tempat tinggal. Prinsip tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan juga diukur dari sejauh mana setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.

Dalam wawancara lain, Isrodin juga menegaskan pentingnya mendampingi peserta didik, bukan sekadar mengajar.


“Kalau kerja menggunakan passion, saya yakin peserta didik paling tidak punya angan-angan setelah lulus mau ke mana. Terus kita dampingi anak-anak itu jangan sampai putus sekolah.”

Kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menumbuhkan harapan dan membuka jalan bagi masa depan mereka.

Refleksi bagi Pendidikan Indonesia

Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pemerataan pendidikan. Ketimpangan akses, keterbatasan tenaga pendidik, dan kondisi geografis masih menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan perhatian bersama.

Kisah MTs Pakis menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus menunggu kebijakan besar. Kepedulian, kolaborasi, dan keberanian untuk memulai sering kali menjadi fondasi lahirnya perubahan yang berkelanjutan.

Filosofi Jawa yang sering disampaikan Isrodin, “Kacang jere, aja kelalen karo lanjarane” (jangan lupa pada asal-usul), mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya tidak memutus hubungan manusia dengan lingkungan, budaya, dan masyarakat yang membesarkannya.

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar proses mencetak lulusan dengan nilai tinggi. Pendidikan adalah ikhtiar memanusiakan manusia, membuka kesempatan, dan memastikan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermimpi.

Di lereng Gunung Slamet, Isrodin telah membuktikan bahwa sebuah sekolah sederhana mampu menjadi cahaya bagi banyak kehidupan. Kisahnya mengajarkan bahwa fondasi pendidikan yang paling kokoh bukanlah beton atau teknologi, melainkan kepedulian. Selama masih ada orang-orang yang memilih mengabdi demi masa depan generasi berikutnya, harapan bagi pendidikan Indonesia akan selalu menyala.

Baca juga: Akses pendidikan Indonesia

Penulis: Fitri Nur

Sumber gambar:myinfo.id

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *