Setiap kali kita membuka ChatGPT, meminta Gemini merangkum dokumen, atau menghasilkan gambar dengan AI, ada satu hal yang hampir tidak pernah kita pikirkan. Di balik layar, ratusan ribu server bekerja tanpa henti selama 24 jam sehari.
Server-server tersebut berada di dalam bangunan raksasa yang disebut hyperscale data center. Bangunan ini menjadi jantung berbagai layanan digital modern, mulai dari AI, cloud computing, hingga media sosial.
Namun, bagi sebagian warga di Dowagiac, Michigan, keberadaan data center bukan sekadar simbol kemajuan teknologi. Mereka justru menyebutnya sebagai tetangga yang tidak pernah berhenti bersuara. Suara dengungan mesin yang terus terdengar siang dan malam kini menjadi alasan utama munculnya gugatan class action terhadap perusahaan pengelola data center tersebut.
AI Ternyata Tidak Diam, Infrastruktur di Belakangnya Sangat Berisik
Banyak orang membayangkan komputer hanya mengeluarkan suara kipas kecil.Kenyataannya jauh berbeda. Satu hyperscale data center dapat berisi puluhan hingga ratusan ribu server. Seluruh server tersebut menghasilkan panas luar biasa sehingga membutuhkan sistem pendingin industri berukuran besar. Bayangkan ratusan AC gedung perkantoran, kipas industri, pompa air, dan cooling tower bekerja bersamaan sepanjang waktu.
Itulah suara yang didengar warga setiap hari. Beberapa warga menggambarkan bunyinya seperti vacuum cleaner raksasa yang tidak pernah dimatikan. Yang lain menyebutnya mirip suara mesin pesawat dari kejauhan yang terus-menerus terdengar bahkan saat tengah malam. Menurut gugatan yang diajukan, suara itu membuat mereka sulit menikmati halaman rumah, membuka jendela, bahkan mengganggu waktu istirahat. (Spectrum News)
Mengapa Data Center Tidak Pernah Dimatikan?
Berbeda dengan komputer di rumah yang bisa dimatikan saat malam hari, data center harus beroperasi 24 jam sehari, 365 hari dalam setahun. Alasannya sederhana. Jika data center berhenti bekerja hanya beberapa menit saja, jutaan layanan digital dapat ikut berhenti. Email tidak bisa diakses. Cloud storage menjadi offline.
Transaksi digital terganggu. Bahkan layanan AI seperti ChatGPT atau Gemini juga dapat mengalami gangguan. Karena itu, sistem pendingin harus terus menyala agar suhu server tetap stabil. Semakin besar penggunaan AI di seluruh dunia, semakin besar pula kebutuhan pendinginan yang harus disediakan. (Tom’s Hardware)
Ketika AI Bertemu Kehidupan Sehari-hari
Selama ini diskusi tentang AI sering berfokus pada kecanggihan teknologi. Padahal, ada sisi lain yang mulai muncul, yaitu dampak fisik dari infrastruktur AI terhadap masyarakat.
Bagi warga Dowagiac, persoalannya bukan AI itu sendiri. Mereka tidak menggugat ChatGPT, Gemini, atau teknologi AI yang mereka gugat adalah dampak lingkungan dari bangunan yang membuat AI dapat berjalan.
Menurut gugatan tersebut, kebisingan terus-menerus telah mengurangi kenyamanan hidup dan bahkan diduga menurunkan nilai properti di sekitar lokasi data center. Kasus ini mewakili sekitar 1.300 rumah yang berada dalam radius sekitar satu mil dari fasilitas tersebut. (WNDU)
AI Ternyata Membutuhkan “Biaya Lingkungan”
Selama ini banyak orang hanya mengetahui bahwa AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Padahal, data center juga membutuhkan:
- air untuk sistem pendingin,
- lahan yang luas,
- jaringan listrik berkapasitas tinggi,
- generator cadangan,
- serta sistem ventilasi dan kipas industri yang bekerja tanpa henti.
Semua kebutuhan tersebut merupakan bagian dari biaya lingkungan yang mulai menjadi perhatian para peneliti dan pemerintah di berbagai negara.
Seiring meningkatnya penggunaan AI, pembangunan data center diperkirakan akan terus bertambah. Tantangannya bukan lagi sekadar menyediakan listrik yang cukup, tetapi juga memastikan fasilitas tersebut tidak mengganggu masyarakat di sekitarnya.
Bukan Kasus Pertama
Dowagiac bukan satu-satunya wilayah yang menghadapi persoalan ini. Di Wisconsin, Amerika Serikat, sekelompok warga juga mengajukan gugatan terhadap fasilitas data center Microsoft. Mereka mengeluhkan suara dari sistem pendingin dan generator yang beroperasi tanpa henti, serta polusi cahaya yang muncul sepanjang malam. (PC Gamer)
Sementara itu, proyek AI milik xAI di Mississippi juga menghadapi gugatan terkait dugaan gangguan terhadap lingkungan sekitar. (Reuters) Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan AI kini tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga mulai menyentuh aspek tata kota, lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat.
AI Tidak Hanya Mengubah Dunia Digital, tetapi Juga Lingkungan Sekitarnya
Setiap kali seseorang menggunakan AI, proses tersebut sebenarnya melibatkan infrastruktur fisik yang sangat besar. Semakin canggih model AI yang digunakan, semakin besar pula kebutuhan terhadap data center.
Kasus di Michigan menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga tantangan baru yang sebelumnya jarang dibahas.
Masa depan AI bukan hanya tentang model yang lebih pintar atau respons yang lebih cepat, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan teknologi membangun infrastruktur yang mampu hidup berdampingan dengan masyarakat di sekitarnya.
Karena pada akhirnya, AI mungkin bekerja dalam dunia digital, tetapi dampaknya mulai terdengar nyata di dunia nyata.
Penulis : Naswa
Baca lainya Jika Gubernur BI Mundur, Apa Dampaknya ke Rupiah?






