Beranda / UMKM / Warung Kopi Boris: Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Bahan Baku dan Persaingan Usaha

Warung Kopi Boris: Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Bahan Baku dan Persaingan Usaha

Rayantara.com — Tangerang Selatan, 17 Oktober 2026 – Warung kopi atau warkop masih menjadi salah satu tempat favorit mahasiswa untuk berkumpul, berdiskusi, hingga menyelesaikan tugas perkuliahan. Tidak hanya menawarkan makanan dan minuman dengan harga terjangkau, keberadaan warkop juga sering menjadi ruang alternatif untuk belajar di luar lingkungan kampus. Salah satu usaha yang menyediakan fasilitas tersebut adalah Warung Kopi Boris yang berlokasi di kawasan Pamulang Barat, Kota Tangerang Selatan.

Berdiri sejak 2021, Warung Kopi Boris merupakan usaha keluarga yang menggabungkan konsep warung kopi dengan sajian makanan ala warteg. Selain menyediakan kopi, mi instan, dan gorengan, warung ini juga menawarkan berbagai pilihan makanan berat seperti nasi putih, lauk matang, dan nasi goreng. Kehadiran pilihan menu tersebut memberikan alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati makanan dengan harga terjangkau.

Nama Boris sendiri diambil dari nama panggilan anak pemilik. Usaha ini awalnya dibangun dari keinginan pemilik untuk menyediakan tempat berkumpul bagi anak dan teman-temannya yang merupakan mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam). Seiring waktu, tempat tersebut berkembang menjadi usaha yang turut melayani mahasiswa dan masyarakat di sekitarnya.

Dokumentasi Tampak Depan Warkop Boris

Menyediakan Tempat Nyaman bagi Mahasiswa

Salah satu hal yang menjadi daya tarik Warung Kopi Boris adalah jam operasionalnya yang menyesuaikan aktivitas mahasiswa. Warung ini buka Senin hingga Sabtu mulai pukul 07.00 sampai 01.00 dini hari. Sementara pada hari Minggu, operasional dimulai pukul 17.00 hingga 01.00 dini hari.

Jam buka yang cukup panjang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk datang setelah mengikuti perkuliahan maupun mengerjakan tugas hingga malam hari. Untuk menunjang kenyamanan pengunjung, pemilik menyediakan fasilitas berupa Wi-Fi, colokan listrik, televisi, kipas angin, hingga pulpen yang dapat digunakan pelanggan.

Jumlah pengunjung diperkirakan mencapai puluhan orang setiap hari, dengan es kopi sebagai salah satu menu yang paling banyak diminati. Selain itu, tersedia berbagai pilihan minuman dan makanan ringan yang dapat menemani mahasiswa ketika belajar, berdiskusi, maupun menyelesaikan tugas akhir.

Menariknya, pemilik juga memberikan kebebasan kepada pelanggan untuk meracik minuman sendiri sesuai selera, mulai dari mengatur rasa hingga menentukan jumlah es batu. Hal sederhana ini menjadi pengalaman tersendiri bagi pengunjung karena mereka dapat membuat minuman sesuai keinginan.

Dokumentasi Area Parkir yang Cukup Luas

Mengelola Stok dan Operasional Secara Sederhana

Dalam menjalankan usaha kuliner, pengelolaan bahan baku menjadi salah satu hal penting untuk menjaga kualitas produk sekaligus mengendalikan pengeluaran. Warung Kopi Boris memperoleh bahan baku dari agen maupun toko besar, dengan pembelian yang dilakukan setiap hari secara bergantian oleh pemilik dan anggota keluarga.

Bahan yang digunakan cukup beragam, mulai dari mi instan, kopi sachet, gula, susu, telur, roti, sayuran, hingga berbagai bumbu makanan. Untuk menjaga persediaan tetap terkendali, pemilik membatasi jumlah stok sesuai kebutuhan, terutama untuk menu makanan ala warteg. Cara tersebut membantu mengurangi kemungkinan makanan tersisa atau terbuang.

Pemilik juga membuat es batu sendiri menggunakan fasilitas kulkas yang tersedia. Keputusan ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan utama minuman sekaligus menghindari kerepotan dan tambahan pengeluaran apabila harus membeli es kristal dari luar.

Dalam kegiatan sehari-hari, usaha ini dikelola oleh empat anggota keluarga, yaitu pemilik, suami, dan dua orang anaknya. Pembagian pekerjaan dilakukan secara fleksibel sesuai kebutuhan operasional, mulai dari menjaga warung, melayani pelanggan, hingga membeli persediaan bahan baku.

Pola pengelolaan keluarga tersebut membantu menjaga kegiatan usaha tetap berjalan tanpa harus melibatkan banyak tenaga kerja dari luar.

Mengandalkan Pelanggan dan Kenyamanan Tempat

Sejak awal berdiri, Warung Kopi Boris mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Usaha ini mulai dikenal ketika anak pemilik mengajak teman-temannya untuk datang dan berkumpul. Seiring waktu, informasi mengenai keberadaan warung tersebut menyebar melalui rekomendasi antarmahasiswa.

Selain mengandalkan pelanggan tetap, keramahan pemilik juga menjadi salah satu nilai tambah. Pemilik terbuka menerima mahasiswa yang ingin melakukan wawancara maupun mengumpulkan informasi untuk keperluan tugas perkuliahan. Sikap tersebut membuat mahasiswa merasa diterima dan nyaman ketika berkunjung.

Dari sisi pelayanan, warung menyediakan pembayaran tunai maupun non-tunai melalui QRIS dan GoPay. Pelanggan juga dapat memanfaatkan layanan tarik tunai apabila membutuhkan. Sementara itu, pemilik berupaya menjaga kepercayaan pengunjung dengan menyimpan barang-barang yang tertinggal hingga pemiliknya datang kembali.

Kebersihan lingkungan juga menjadi perhatian. Area wastafel ditempatkan terpisah dari tempat duduk pelanggan agar tidak mengganggu kenyamanan. Sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali dikumpulkan untuk diangkut petugas kebersihan, sedangkan botol bekas dipisahkan untuk diberikan kepada pengepul atau pihak yang membutuhkan.

Menghadapi Kenaikan Harga dan Penurunan Penjualan

Di balik berbagai fasilitas dan upaya menjaga kenyamanan pelanggan, Warung Kopi Boris tetap menghadapi tantangan dalam menjalankan usaha. Salah satunya adalah kenaikan harga bahan baku yang tidak selalu dapat diikuti dengan kenaikan harga jual. Pemilik memilih mempertahankan harga agar produk tetap terjangkau, meskipun kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh menjadi lebih tipis.

Berdasarkan hasil wawancara, penjualan saat ini mengalami penurunan sekitar seperempat dibandingkan masa awal usaha, ketika warung masih ramai dikunjungi sejak pagi hingga malam. Beberapa faktor turut memengaruhi kondisi tersebut, termasuk berkurangnya pelanggan baru dan perubahan akses jalan keluar gerbang yang membuat sebagian mahasiswa enggan memutar jalan untuk datang.

Pengeluaran operasional juga menjadi tantangan tersendiri. Biaya listrik diperkirakan mencapai Rp600.000 hingga Rp700.000 per bulan. Penggunaan Wi-Fi, televisi, kipas angin, lampu, serta colokan listrik yang digunakan pengunjung untuk mengisi daya ponsel dan laptop turut memengaruhi besarnya pengeluaran tersebut. Selain listrik, usaha ini juga harus memenuhi kebutuhan rutin seperti air dan gas.

Di sisi lain, pencatatan keuangan belum dilakukan secara formal. Uang hasil penjualan biasanya langsung diputar kembali untuk membeli bahan baku berikutnya. Pemilik memilih untuk tidak menyampaikan rincian pendapatan maupun pengeluaran usaha, dan keputusan tersebut tetap dihormati.

Kondisi ini menjadi salah satu tantangan dalam mengukur keuntungan, biaya operasional, serta efisiensi usaha secara lebih terperinci. Pencatatan keuangan sederhana sebenarnya dapat menjadi langkah yang membantu pemilik memantau arus kas dan menentukan keputusan usaha ke depannya.

Menjaga Keberlangsungan UMKM Lokal

Perjalanan Warung Kopi Boris memperlihatkan bahwa mempertahankan usaha kecil tidak hanya bergantung pada produk yang dijual, tetapi juga pada kemampuan mengelola operasional dan memahami kebutuhan pelanggan. Pengendalian stok, pembagian tugas keluarga, fasilitas yang mendukung aktivitas mahasiswa, serta pelayanan yang ramah menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan usaha.

Meski demikian, tantangan seperti kenaikan harga bahan baku, penurunan penjualan, dan pengeluaran operasional tetap membutuhkan perhatian. Pengelolaan keuangan yang lebih terstruktur, pengendalian penggunaan listrik, serta pengembangan promosi dan variasi menu dapat menjadi beberapa langkah yang dipertimbangkan untuk mendukung perkembangan usaha.

Sebagai salah satu UMKM lokal di kawasan Pamulang, Warung Kopi Boris juga menunjukkan bahwa usaha kecil dapat memiliki peran lebih dari sekadar tempat transaksi jual beli. Kehadirannya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berdiskusi, dan membangun interaksi di luar lingkungan kampus.

Dukungan terhadap UMKM seperti ini dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu mengenal dan membeli produk yang ditawarkan. Bagi mahasiswa, pekerja, maupun masyarakat sekitar yang membutuhkan tempat untuk bersantai atau mengerjakan tugas, Warung Kopi Boris dapat menjadi salah satu pilihan dengan fasilitas yang mendukung dan harga yang terjangkau.

Pada akhirnya, keberlangsungan UMKM tidak hanya menjadi tanggung jawab pemilik usaha. Dukungan pelanggan dan masyarakat sekitar juga memiliki peran penting agar usaha lokal tetap bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan ekonomi.

Penulis: Faqih Wildan Hakim, Junita Dwi Seftiyana, dan Fauziqri Ramdhan Syah

Baca Juga : PELATIHAN DIGITALISASI ADMINISTRASI PENILAIAN PAUD MELALUI PEMANFAATAN SISTEM E-RAPOR DENGAN OTOMATISASI DESKRIPSI PERKEMBANGAN ANAK DI POS PAUD LILY PONDOK PETIR

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *