Beranda / Opini / Harga Pangan dan Nasib Petani: Mengapa Keduanya Sering Tidak Seimbang?

Harga Pangan dan Nasib Petani: Mengapa Keduanya Sering Tidak Seimbang?

Rayantara.com – Tangerang Selatan 2 September 2026 – Harga pangan menjadi persoalan yang selalu dekat dengan masyarakat. Ketika harga beras, cabai, sayur, atau bahan pangan lainnya naik, perhatian biasanya langsung tertuju pada konsumen.

Namun, ada pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah kenaikan harga di tingkat konsumen selalu berarti petani mendapatkan keuntungan yang lebih besar?

Harga Naik, Petani Belum Tentu Sejahtera

Harga pangan terbentuk melalui perjalanan panjang dari lahan hingga meja makan. Di dalamnya terdapat biaya produksi, transportasi, distribusi, penyimpanan, hingga margin perdagangan. Karena itu, harga yang dibayar konsumen tidak selalu sama dengan pendapatan yang diterima petani.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2026 berada di angka 129,19, naik 1,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi karena harga yang diterima petani meningkat lebih besar dibandingkan kenaikan harga yang harus mereka bayar.

Angka tersebut tentu menjadi kabar positif. Namun, NTP tetap perlu dilihat sebagai gambaran daya tukar petani, bukan semata-mata ukuran bahwa seluruh persoalan kesejahteraan petani telah selesai.

Rantai Pangan yang Panjang

Ada persoalan yang sering luput ketika harga pangan dibicarakan: siapa yang mendapatkan bagian terbesar dari harga akhir sebuah produk?

Petani berada di awal rantai pasok, sementara konsumen berada di ujungnya. Di antara keduanya terdapat berbagai proses yang membutuhkan biaya. FAO menjelaskan bahwa harga di tingkat konsumen memang mencakup biaya dan margin setelah produk meninggalkan tingkat usaha tani, seperti transportasi, penyimpanan, pengolahan, hingga perdagangan.

Karena itu, persoalan harga pangan tidak cukup diselesaikan hanya dengan meminta konsumen membeli lebih murah atau petani menjual lebih mahal.

Yang perlu dibenahi adalah rantainya.

Petani Bukan Sekadar Penghasil Pangan

Ketahanan pangan tidak mungkin dibangun tanpa petani. Namun, petani juga membutuhkan ekosistem yang membuat kegiatan produksi tetap layak secara ekonomi.

Akses terhadap pupuk, teknologi, pembiayaan, informasi harga, pasar, infrastruktur, hingga posisi tawar menjadi bagian penting dari persoalan tersebut.

Ketika petani memiliki posisi tawar yang lemah, kenaikan harga pangan belum tentu sepenuhnya menjadi keuntungan di tingkat produksi.

Pada akhirnya, harga pangan yang adil bukan hanya tentang berapa murah makanan dapat dibeli konsumen, tetapi juga tentang berapa layak pendapatan yang diterima orang yang menghasilkan makanan tersebut.

Sebab pangan yang terjangkau bagi masyarakat seharusnya tidak dibangun dengan mengorbankan kesejahteraan petani.

Baca juga: Kopdes Merah Putih: Harapan Baru Ekonomi Desa

Penulis: Fitri Nur

Sumber gambar: magnific.com

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *