Beranda / Opini / Sengkarut Dunia Pendidikan: Ketika Sistem Tak Lagi Berpihak pada Pembelajaran

Sengkarut Dunia Pendidikan: Ketika Sistem Tak Lagi Berpihak pada Pembelajaran

Rayantara.com – Tangerang Selatan, 3 Agustus 2026 – Pendidikan selalu dipandang sebagai kunci kemajuan bangsa. Melalui pendidikan yang berkualitas, lahir harapan akan generasi yang mampu berpikir kritis, berkarakter, dan siap menghadapi perubahan zaman. Namun, hingga kini dunia pendidikan Indonesia masih dihadapkan pada berbagai persoalan yang saling berkaitan. Perubahan kebijakan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu, kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah, keterbatasan sarana, hingga beban administrasi guru menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Di satu sisi, berbagai pembaruan dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Di sisi lain, tidak sedikit sekolah, guru, dan peserta didik yang masih berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Akibatnya, perhatian terhadap proses belajar terkadang bergeser menjadi sekadar pemenuhan tuntutan administratif dan adaptasi terhadap sistem.

Guru Menjadi Kunci, Bukan Sekadar Kurikulum

Perbaikan pendidikan tidak hanya bergantung pada pergantian kurikulum. John Hattie, Profesor Pendidikan dari The University of Melbourne, Australia, melalui penelitian Visible Learning yang menganalisis ratusan studi tentang pendidikan, menyimpulkan bahwa kualitas guru merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan belajar peserta didik. Guru yang mampu membangun komunikasi yang baik, memberikan umpan balik yang efektif, dan menciptakan pembelajaran yang bermakna memiliki dampak lebih besar daripada perubahan kebijakan semata.

Pandangan tersebut mengingatkan bahwa investasi terbesar dalam pendidikan bukan hanya pembangunan fasilitas, melainkan juga peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru sebagai ujung tombak proses belajar.

Pendidikan Harus Membentuk Cara Berpikir

Ilustrasi Guru berdiskusi dengan siswa
(Sumber: Pngtree for rayantara.com)

Pandangan serupa disampaikan Paulo Freire, filsuf dan pakar pendidikan asal Brasil, melalui bukunya Pedagogy of the Oppressed. Freire menilai pendidikan tidak seharusnya hanya menjadi proses menyampaikan materi, tetapi juga membangun kesadaran, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk memahami persoalan di sekitar.

Gagasan tersebut relevan dengan kondisi saat ini. Di era digital, peserta didik tidak hanya membutuhkan kemampuan menghafal, tetapi juga kemampuan memilah informasi, menyelesaikan masalah, berkolaborasi, dan beradaptasi terhadap perubahan yang berlangsung begitu cepat.

Saatnya Berpihak pada Pembelajaran

Laporan Global Education Monitoring Report dari UNESCO juga menegaskan bahwa pemerataan akses dan kualitas pendidikan masih menjadi tantangan di banyak negara. Artinya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari tingginya angka kelulusan atau perubahan kurikulum, tetapi dari sejauh mana setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang setara dengan dukungan guru yang kompeten dan lingkungan belajar yang memadai.

Sengkarut dunia pendidikan tidak akan selesai hanya dengan menghadirkan kebijakan baru. Yang lebih dibutuhkan adalah kesinambungan kebijakan, pemerataan fasilitas, penguatan kapasitas guru, serta keberanian mengevaluasi sistem secara menyeluruh. Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar mencetak lulusan, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir, berkarakter, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Ketika proses pembelajaran benar-benar ditempatkan sebagai prioritas, pendidikan akan lebih dekat pada tujuan utamanya, yaitu memanusiakan manusia.

Baca juga: Ketimpangan Teknologi dalam Pendidikan Digital

Penulis: Fitri Nur

Sumber gambar: Minanews.net

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *