rayantara.com – Sawangan, Kota Depok, 27 Juni 2026 – Tim dosen Program Studi Teknik Informatika Universitas Pamulang (UNPAM) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Pelatihan Pembelajaran Interaktif Bahasa Inggris dan Nilai-Nilai Islami bagi Santri TPQ Cahaya Kasih Sawangan. Kegiatan ini dilaksanakan di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Cahaya Kasih, Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, berlangsung selama enam hari pada 25 hingga 30 April 2026.
Tim pelaksana kegiatan terdiri dari:
- Neneng Misliyah, S.Pd., M.Pd. (Ketua, Program Studi Teknik Informatika)
- Darmawati, S.Kom., M.Pd. (Anggota, Program Studi Sastra Inggris)
- Wildan Toyib, S.T., M.Eng. (Anggota, Program Studi Teknik Informatika)
- Septian Dharma Saputra Solichin (Mahasiswa)
- Silviana Agustin (Mahasiswa)
Kegiatan ini terlaksana atas dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pamulang melalui Surat Tugas Nomor 0001/D5/ST/LPPM/UNPAM/III/2026, serta atas izin dan kerja sama pengelola TPQ Cahaya Kasih, Karimah Azzahra, S.K.M., S.S.
Berangkat dari Pembelajaran Bahasa Inggris yang Masih Konvensional
TPQ Cahaya Kasih merupakan lembaga pendidikan nonformal berbasis keagamaan yang berdiri sejak tahun 2015 di tengah permukiman padat penduduk Sawangan. Lembaga ini membina sekitar 40 santri aktif berusia 7 hingga 12 tahun yang terbagi dalam beberapa kelompok belajar sesuai tingkat kemampuan membaca Al-Qur’an, dengan kegiatan belajar berlangsung setiap Senin sampai Jumat pada sore hingga menjelang magrib.
Selama ini pembelajaran di TPQ Cahaya Kasih masih berfokus pada pengajaran Al-Qur’an dan ibadah praktis, sementara bahasa Inggris belum menjadi bagian kurikulum tetap dan baru disisipkan sesekali melalui metode ceramah serta hafalan kosakata tanpa konteks yang menarik. Fasilitas pembelajaran yang tersedia pun masih terbatas, berupa aula sederhana dengan papan tulis serta meja dan kursi kecil, tanpa perangkat multimedia maupun media pembelajaran interaktif seperti kartu bergambar atau bahan ajar audio visual.
Berdasarkan observasi awal serta wawancara dengan pengelola dan pengajar TPQ pada Januari 2026, teridentifikasi tiga permasalahan prioritas yang disepakati bersama mitra. Pertama, metode pembelajaran bahasa Inggris yang masih konvensional dan kurang interaktif membuat santri cepat bosan dan kurang termotivasi. Kedua, materi pembelajaran bahasa Inggris belum terintegrasi dengan nilai-nilai Islami, padahal sebagai lembaga berbasis Al-Qur’an, TPQ ini memiliki visi membentuk santri yang cerdas berbahasa sekaligus berakhlak mulia. Ketiga, kelima pengajar TPQ yang merupakan warga sekitar dengan latar belakang pendidikan umum belum memiliki pengalaman formal maupun pelatihan khusus dalam menerapkan strategi pembelajaran bahasa Inggris yang inovatif.
Tujuan Kegiatan
Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan PkM ini dirancang untuk mencapai tiga tujuan utama. Pertama, meningkatkan kemampuan dasar bahasa Inggris santri, khususnya penguasaan kosakata dan keterampilan berbicara. Kedua, meningkatkan motivasi belajar serta menguatkan karakter Islami santri melalui pembelajaran bahasa yang terintegrasi nilai keagamaan. Ketiga, meningkatkan kompetensi pengajar TPQ dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran interaktif yang inovatif, sehingga metode tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan dan berpotensi direplikasi oleh TPQ lain dengan karakteristik serupa.
Pelaksanaan Kegiatan Berlangsung dalam Empat Tahap
Kegiatan PkM dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif, kolaboratif, dan berbasis pemberdayaan melalui empat tahap utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, pendampingan, dan evaluasi.
Pada tahap persiapan, tim dosen melakukan koordinasi dan sosialisasi program dengan pengelola TPQ, mengidentifikasi kebutuhan melalui observasi dan wawancara, melakukan asesmen awal terhadap kompetensi pengajar dan kemampuan dasar santri, serta menyusun perangkat pelatihan berupa modul pembelajaran interaktif, materi ajar terintegrasi nilai Islami, media flashcards tematik, naskah storytelling, contoh rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan instrumen evaluasi.

Sumber: Tim PkM UNPAM for rayantara.com
Tahap pelaksanaan dilakukan dalam tiga sesi pelatihan yang diikuti oleh lima pengajar TPQ. Sesi pertama berupa pelatihan metode pembelajaran interaktif berbasis student-centered learning, mencakup bermain peran (role-play), permainan edukatif (games-based learning), mendongeng (storytelling), dan latihan dialog (dialog practice), disertai praktik pembuatan media pembelajaran sederhana. Dalam sesi ini, pengajar bersama tim fasilitator juga mempraktikkan latihan pengucapan atau tongue twister berbahasa Inggris sebagai salah satu teknik melatih kepercayaan diri berbicara di depan santri.
Sesi kedua berupa pelatihan integrasi nilai-nilai Islami ke dalam pembelajaran bahasa Inggris, meliputi penyusunan kosakata Islami tematik, penyampaian storytelling Islami dalam bahasa Inggris sederhana, serta pembiasaan pengucapan ungkapan-ungkapan Islami. Sesi ketiga berupa microteaching, di mana setiap pengajar mempraktikkan pembelajaran secara langsung dan memperoleh umpan balik konstruktif dari fasilitator maupun peserta lain.

Sumber: Tim PkM UNPAM for rayantara.com
Setelah sesi pelatihan tatap muka selesai, kegiatan dilanjutkan dengan tahap pendampingan selama satu bulan dengan frekuensi kunjungan dua kali seminggu disertai komunikasi daring. Pendampingan ini mencakup observasi pembelajaran di kelas, bimbingan dan diskusi reflektif bersama pengajar, serta fasilitasi pembentukan komunitas belajar pengajar TPQ. Tahap terakhir adalah evaluasi, yang dilakukan terhadap proses, hasil, dan dampak kegiatan secara keseluruhan.

Sumber: Tim PkM UNPAM for rayantara.com
Hasil dan Dampak Kegiatan
Seluruh tahapan kegiatan terlaksana sesuai rencana dengan tingkat kehadiran peserta yang tinggi dan respons positif terhadap materi pelatihan. Hasil microteaching menunjukkan bahwa seluruh pengajar mampu menerapkan minimal satu teknik pembelajaran interaktif yang dipadukan dengan muatan nilai Islami, dan selama masa pendampingan, pengajar secara bertahap mampu mengimplementasikan metode tersebut secara lebih mandiri di kelas.
Pengukuran yang dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan peningkatan pada seluruh indikator capaian. Skor kompetensi pengajar meningkat dari rata-rata 52 menjadi 84, atau naik sekitar 61,5 persen, melampaui target minimal peningkatan sebesar 40 persen yang ditetapkan di awal program. Penguasaan kosakata santri meningkat dari rata-rata 45 menjadi 78, atau naik sekitar 73,3 persen, jauh melampaui target peningkatan 30 persen. Partisipasi aktif santri di kelas meningkat dari 40 persen menjadi 85 persen, sementara pemahaman santri terhadap nilai-nilai Islami yang dipelajari melalui kegiatan berbahasa Inggris mencapai 80 persen.
Selain capaian kuantitatif tersebut, kegiatan ini menghasilkan sejumlah luaran konkret yang diserahkan kepada mitra, di antaranya modul pembelajaran interaktif, materi ajar terintegrasi nilai Islami, buku panduan storytelling Islami, media flashcards tematik, serta sejumlah rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disusun oleh pengajar sendiri. Kegiatan ini juga menumbuhkan komunitas belajar pengajar TPQ yang menyepakati pertemuan rutin sebagai wadah berbagi praktik pembelajaran yang baik, serta mendorong tumbuhnya kebiasaan penggunaan ungkapan Islami berbahasa Inggris, seperti salam dan ungkapan syukur, dalam kegiatan sehari-hari di TPQ.
Sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan, tim dosen menyerahkan modul pembelajaran dan materi ajar secara simbolis kepada pengelola TPQ Cahaya Kasih, Karimah Azzahra, S.K.M., S.S., yang turut disaksikan oleh para santri.

Sumber: Tim PkM UNPAM for rayantara.com
“Modul dan media yang telah disusun bersama diharapkan dapat terus dipakai dan dikembangkan secara mandiri oleh pengajar TPQ, sehingga manfaatnya tidak berhenti ketika program pendampingan selesai,” demikian disampaikan dalam laporan akhir tim pengabdi terkait keberlanjutan program.
Penutup
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini membuktikan bahwa kombinasi pelatihan berbasis praktik dan pendampingan berkelanjutan dapat menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoritis dan keterampilan mengajar di lapangan, sekaligus menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang lebih bermakna karena terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman yang menjadi ruh pendidikan di TPQ.
Ke depan, mitra disarankan untuk terus menerapkan metode pembelajaran interaktif yang telah dilatihkan dan mengaktifkan komunitas belajar pengajar yang telah terbentuk. Bagi pelaksana program pengabdian berikutnya, disarankan memperpanjang masa pendampingan dan mempertimbangkan pemanfaatan media digital sederhana agar dampak program dapat menjangkau lebih luas. Model kegiatan ini dinilai berpotensi direplikasi pada TPQ lain dengan karakteristik serupa, sebagai salah satu bentuk sinergi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Penulis: Neneng Misliyah,
Baca Juga : PKM TI UNPAM Hadirkan Website untuk UMKM TWINS CELL






