Gen Z hidup di zaman paling cepat dalam sejarah. Informasi melimpah, peluang terbuka, koneksi tanpa batas. Namun ironisnya, semakin banyak anak muda justru merasa kehilangan arah.
Media sosial memamerkan standar sukses yang instan. Karier harus cepat naik. Finansial harus mapan sebelum 30. Personal branding harus kuat sejak kuliah. Akibatnya, tekanan mental meningkat dan makna hidup sering kabur.
Di sinilah krisis itu bermula: kita sibuk mengejar, tapi lupa bertanya, untuk apa semua ini?
Puasa Bukan Ritual, Tapi Pembuktian Iman
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [1]
Ayat ini (QS. Al-Baqarah: 183) menegaskan bahwa puasa memiliki tujuan jelas: membentuk takwa.
Artinya, iman bukan sekadar keyakinan di kepala atau status di bio Instagram. Iman menuntut pembuktian. Sama seperti cinta yang perlu tindakan, keimanan butuh amal.
Gen Z paham soal “proof of work”. Dalam spiritualitas, takwa adalah proof of iman.
Takwa: Algoritma Sukses Sejati
Sering kali takwa dipahami sempit sebagai kesalehan ritual. Padahal Al-Qur’an menjelaskan bahwa dalam jiwa manusia terdapat potensi baik dan buruk:
“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya.” [2]
(QS. Asy-Syams: 7–8)
Artinya, setiap orang punya “software internal”. Jika takwa diaktifkan, keputusan hidup lebih terarah. Etika lebih kuat. Mental lebih stabil.
Banyak Gen Z ingin sukses finansial, karier, bahkan sosial. Itu sah. Namun tanpa fondasi takwa, sukses bisa terasa hampa. Sebaliknya, takwa membuat ambisi tetap sehat dan terkendali.
Takwa bukan menghambat mimpi. Ia justru menata arah mimpi.
Koneksi Spiritual dan Solusi Nyata
Tekanan hidup tidak akan hilang. Nabi pun menghadapi ujian. Namun Al-Qur’an memberi janji tegas:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” [3]
(QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Ini bukan motivasi kosong. Ini prinsip kehidupan. Masalah tetap ada, tetapi solusi dipermudah.
Gen Z sering berbicara tentang networking. Logikanya sederhana: semakin kuat koneksi, semakin mudah akses. Lalu bagaimana dengan koneksi kepada Allah?
Jika koneksi spiritual diperkuat melalui salat, sedekah, disiplin moral, dan konsistensi ibadah, maka ketenangan lahir dari dalam. Keputusan lebih bijak. Risiko lebih terkalkulasi. Hasil pun lebih bermakna.
Ramadan Sebagai Momentum Reset Diri
Mengapa Ramadan terasa berbeda? Karena dalam satu bulan, semua elemen takwa diaktifkan bersamaan.
Salat meningkat. Sedekah lebih ringan. Al-Qur’an lebih sering dibaca. Empati tumbuh. Jiwa terasa lebih lembut.
Ramadan adalah ruang reset. Ia mengembalikan manusia pada desain awalnya: makhluk yang punya instrumen sukses dan bahagia.
Masalahnya, banyak Gen Z menjadikan Ramadan musiman. Spirit naik, lalu turun drastis setelahnya. Padahal esensinya adalah membentuk karakter jangka panjang.
Strategi Konkret untuk Gen Z
Pertama, jadikan salat sebagai anchor harian. Bukan sekadar kewajiban, tetapi ruang refleksi dan kalibrasi arah hidup.
Kedua, bangun kebiasaan berbagi. Tidak harus besar. Konsistensi lebih penting daripada nominal.
Ketiga, tingkatkan literasi spiritual. Baca dan pahami Al-Qur’an, bukan hanya tilawah, tetapi juga makna dan aplikasinya.
Keempat, selaraskan ambisi dunia dan visi akhirat. Target karier boleh tinggi, namun integritas tidak boleh ditawar.
Sukses yang Tidak Kosong
Gen Z adalah generasi cerdas, adaptif, dan penuh potensi. Namun kecerdasan tanpa arah bisa melelahkan.
Takwa bukan konsep kuno. Ia adalah sistem internal yang menjaga mental tetap waras, ambisi tetap etis, dan hidup tetap bermakna.
Krisis arah tidak selesai dengan motivasi sesaat. Ia butuh fondasi.
Dan Ramadan memberi kita rahasia itu.
Referensi
[1] Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183
[2] Al-Qur’an Surah Asy-Syams ayat 7–8
[3] Al-Qur’an Surah Ath-Thalaq ayat 2–3
Khutbah Jum’at: Hakikat Takwa dari Tujuan Puasa – Ustadz Adi Hidayat
Baca Lainya : Kerja Kamu Aman dari AI? Cek Skill Ini
Penulis : Nasywa



