Yang Terhormat Para Pengambil Kebijakan,
Statistik ketenagakerjaan kerap terdengar meyakinkan. Presentasi berjalan mulus, istilah “pertumbuhan” diulang dengan percaya diri, dan publik diyakinkan bahwa keadaan terkendali. Di atas kertas, semuanya tampak bergerak.
Namun di luar lembar laporan, ada kegelisahan yang tidak tercatat dalam tabel. Pencari kerja yang tak kunjung mendapat kepastian. Perusahaan yang tak kunjung menemukan kandidat yang sesuai. Lowongan tersedia, pelamar melimpah, tetapi keduanya seperti dua garis sejajar yang berjalan beriringan tanpa pernah benar-benar bertemu.
Rahasia umum yang dirasakan pencari kerja.
Dari sisi pencari kerja, ironi itu nyata dan berulang. Posisi “entry level” meminta pengalaman tiga tahun. Fresh graduate diharapkan siap kerja seolah kampus adalah miniatur industri yang sepenuhnya presisi. Sertifikasi tambahan dianjurkan—kadang menjadi syarat tidak tertulis—meski biayanya tidak murah dan relevansinya tidak selalu jelas.
Ada yang lebih menarik: kita memproduksi sarjana dalam jumlah besar setiap tahun, merayakan kelulusan dengan toga dan kebanggaan, lalu menyerahkan mereka ke pasar kerja yang meminta pengalaman yang bahkan belum sempat mereka miliki. Seolah-olah sistem ini berkata, “Selamat datang di dunia kerja—silakan kembali setelah Anda berpengalaman.”
Rekrutmen pun menjadi perjalanan panjang. Tes demi tes, wawancara demi wawancara. Profesional, tentu saja. Modern, tanpa diragukan. Tetapi ketika proses berakhir tanpa kabar, efisiensi terasa seperti kemewahan sepihak. Bagi pelamar, ketidakpastian bukan sekadar prosedur—ia adalah tekanan yang menumpuk.
Lebih jauh lagi, tuntutan kompetensi terus meningkat. Multitasking dianggap standar. Fleksibilitas tanpa batas dipuji sebagai loyalitas. Ketahanan mental menjadi syarat diam-diam. Namun kompensasi sering kali tidak bergerak dengan kecepatan yang sama. Kita meminta performa kelas atas, tetapi menawarkan stabilitas sekadarnya.
Apakah ini semata kesalahan perusahaan? Atau ada ekosistem yang membentuk pola ini secara kolektif?
Perusahaan pun memiliki kegelisahannya sendiri.

Banyak manajemen mengeluhkan kesenjangan antara teori dan praktik. Lulusan datang dengan indeks prestasi yang baik, tetapi belum tentu dengan kesiapan teknis yang matang. Adaptasi memakan waktu. Pelatihan ulang menjadi biaya tambahan. Di tengah persaingan bisnis yang ketat, perusahaan menginginkan kandidat yang dapat langsung berkontribusi.
Namun di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih besar: jika lulusan dianggap belum siap, lalu siapa yang bertanggung jawab memastikan kesiapan itu? Jika industri merasa kurikulum kurang relevan, mengapa jembatan antara pendidikan dan kebutuhan pasar belum dibangun dengan sungguh-sungguh?
Ada pula kekhawatiran tentang budaya kerja, tentang etos, tentang loyalitas yang semakin cair. Perusahaan berhati-hati, kadang terlalu berhati-hati. Karena merekrut bukan sekadar menambah orang, tetapi menambah risiko—administratif, finansial, bahkan reputasi.
Maka seleksi diperketat. Standar dinaikkan. Ekspektasi diperluas. Dan tanpa disadari, lingkaran itu kembali menekan mereka yang baru ingin memulai.
Di sinilah peran negara seharusnya menjadi sentral.
Pendidikan berbicara tentang capaian akademik. Industri berbicara tentang produktivitas. Pencari kerja berbicara tentang kesempatan. Perusahaan berbicara tentang kualitas. Tetapi sering kali, percakapan-percakapan itu berjalan sendiri-sendiri, seperti rapat koordinasi yang tidak pernah benar-benar sinkron.
Link and match kerap menjadi istilah populer. Pelatihan dan sertifikasi diumumkan sebagai solusi. Namun jika sertifikasi menjadi sekadar formalitas administratif, dan pelatihan tidak benar-benar terintegrasi dengan kebutuhan riil industri, maka kita hanya menambah lapisan baru dalam birokrasi kompetensi.
Negara tidak cukup hanya menciptakan regulasi. Negara perlu menjadi arsitek ekosistem: memastikan lulusan tidak hanya siap wisuda, tetapi siap bekerja; memastikan perusahaan tidak hanya menuntut kualitas, tetapi juga mendapat dukungan untuk membina; memastikan pencari kerja tidak berubah menjadi angka statistik yang nyaman dipresentasikan.
Karena selama pekerjaan dan pekerja terus berada di dua ujung yang berbeda, kita akan terus sibuk menyalahkan satu sama lain—tanpa pernah memperbaiki simpul di tengahnya.
Surat ini bukan untuk menunjuk siapa yang salah. Pencari kerja sedang berjuang. Perusahaan sedang bertahan. Keduanya bergerak dalam sistem yang sama.
Namun jika ketenagakerjaan ingin benar-benar menjadi fondasi pembangunan, maka ia tidak boleh berhenti pada angka pertumbuhan. Ia harus terasa dalam proses rekrutmen yang lebih rasional, dalam standar yang lebih realistis, dan dalam peluang yang lebih setara.
Sebab di balik setiap grafik yang menanjak atau menurun, ada generasi yang sedang menunggu kesempatan. Dan kesempatan, semestinya, bukan sekadar narasi optimistis—melainkan kebijakan yang benar-benar mempertemukan pekerjaan dan pekerja.
Hormat kami,
Yang masih percaya bahwa negara bisa menjadi jembatan, bukan hanya pencatat.
Penulis: Rifat Ardan Sany
Referensi:
- Lapangan Kerja Informal dan Upah Kurang Layak Picu Overwork di Indonesia by ugm.ac.id
- Bagaimana Menilai Kecocokan Kandidat dengan Budaya Perusahaan? by myrobin.id
- Banyak Gen Z ‘Idealis’ yang Sulit Direkrut Perusahaan, Pakar Beri Saran ini by detikcom
Baca Juga: Kenapa Manusia Butuh Jatuh Cinta?






