Home / Agama / Obat Anxiety Gen Z: Prasangka Baik ke Allah

Obat Anxiety Gen Z: Prasangka Baik ke Allah

www.dreamstime.com

Gen Z sering dikenal sebagai generasi yang paling sadar soal mental health. Banyak anak muda sekarang berani bicara tentang overthinking, anxiety, insecure, burnout, sampai rasa takut menghadapi masa depan. Namun, di balik semua istilah modern itu, ada satu pertanyaan sederhana yang sering muncul diam-diam:

“Nanti hidup gue gimana?”

Karier belum stabil. Harga kebutuhan makin naik. Media sosial penuh pencapaian orang lain. Semua orang terlihat seperti sudah “lebih dulu sampai.”

Rasa cemas pun datang hampir setiap hari. Menariknya, jauh sebelum kata anxiety populer, Islam sudah memberi fondasi mental yang sangat kuat lewat Hadis Qudsi:

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

Kalimat ini singkat, tetapi maknanya dalam sekali. Hadis ini seperti mengajarkan bahwa cara kita memandang Allah akan memengaruhi cara kita menjalani hidup.

Overthinking Selalu Bicara tentang Kontrol

thewell.northwell.edu

Overthinking muncul ketika seseorang ingin mengontrol semuanya. Gen Z ingin memastikan hidup berjalan aman, rezeki lancar, karier cepat naik, masa depan jelas, hidup tidak berantakan. Namun hidup tidak pernah berjalan serapi rencana.

Dalam Hadis Qudsi itu, Allah juga berfirman:

“Wahai anak Adam, jangan takut kepada siapa pun selama kekuasaan-Ku ada.”

Kalimat ini terasa relevan sekali. Gen Z sering merasa kecil di tengah sistem yang besar. Banyak anak muda takut gagal, takut tertinggal, takut tidak cukup baik. Hadis ini mengingatkan satu hal penting bahwa kekuasaan tertinggi bukan di tangan manusia. Manusia bisa menilai, menolak, atau mengkritik. Namun Allah tetap memegang kendali atas hidup seseorang.

Rezeki Tidak Selalu Datang Sesuai Timeline

Media sosial membuat standar sukses terasa makin sempit. Teman seumuran sudah punya bisnis. Ada yang sudah menikah. Ada yang viral. Ada yang kelihatan hidupnya mulus. Lalu muncul pertanyaan yang sangat manusiawi “Kenapa gue belum?”

Hadis ini menjawab dengan cara yang menenangkan. Allah menegaskan bahwa rezeki sudah ditentukan. Bahkan, Allah menggambarkan orang yang tidak rida sebagai orang yang akan dibuat mengejar dunia seperti hewan buas mengejar mangsa di padang pasir. Ia terus berlari. Ia terus capek. Namun ia tidak pernah puas.

Fenomena ini sangat mirip dengan culture hustle hari ini. Gen Z memang rajin bekerja, tetapi banyak juga yang diam-diam burnout karena merasa harus selalu mengejar sesuatu. Padahal, hidup bukan lomba cepat-cepatan.

Rida Bukan Pasrah, Tapi Stabil

Namun hati tidak terus-terusan panik. Hadis ini mengajarkan bahwa ketenangan tidak datang karena semua keinginan terpenuhi, tetapi karena seseorang percaya bahwa Allah tidak pernah salah memberi atau menahan sesuatu.

Ramadhan Mengajarkan Cara Menenangkan Pikiran

Ramadhan selalu datang sebagai momen reset. Di bulan ini, Gen Z sering mulai bertanya ulang:

  • Apa yang sebenarnya dicari?
  • Kenapa hati terasa kosong padahal hidup sibuk?
  • Kenapa pencapaian tidak selalu bikin tenang?

Ramadhan mengajarkan bahwa manusia bukan hanya butuh produktif, tetapi juga butuh arah. Puasa melatih seseorang menahan diri. Tarawih melatih seseorang kembali pada Allah. Doa melatih seseorang percaya bahwa hidup tidak harus ditanggung sendirian. Hadis tentang prasangka baik terasa semakin kuat di bulan ini. Karena Ramadhan mengingatkan bahwa Allah dekat, bahkan saat hidup terasa berat.

Allah Tidak Pernah Lupa Mengurus Hidup Manusia

Dalam hadis itu, Allah juga menyampaikan pesan yang sangat menenangkan Allah menciptakan langit dan bumi tanpa kesulitan. Maka Allah juga tidak pernah kesulitan mengurus rezeki manusia.

Kalimat ini seperti tamparan lembut bagi generasi yang sering merasa sendirian. Gen Z sering merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri. Padahal iman mengajarkan seseorang berusaha dengan tubuh, tetapi seseorang bertawakal dengan hati.

Sulit Mendapatkan Ketenangan

Gen Z punya banyak potensi yaitu cepat belajar, kreatif, adaptif, dan berani mencoba. Namun banyak anak muda juga kehilangan rasa tenang karena hidup terasa seperti kompetisi tanpa akhir.

Hadis Qudsi ini sebenarnya menjelaskan dalam menguatkan mental, mengurangi overthinking, mengajarkan optimisme spiritual, dan menggeser fokus dari kontrol ke kepercayaan.

Jika seseorang berprasangka baik, ia melihat musibah sebagai proses. Jika seseorang berprasangka buruk, ia melihat hidup sebagai ancaman.

Penutup: Tenang Itu Mahal, dan Islam Menawarkannya

Hadis ini tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Namun hadis ini menjanjikan sesuatu yang lebih penting adalah ketenangan bagi orang yang percaya. Di era yang serba cepat, ketenangan justru menjadi hal paling mahal, dan mungkin, Ramadhan menjadi waktu terbaik untuk belajar kembali percaya, tenang, dan berprasangka baik kepada Allah.

Referensi : Takdirmu adalah apa yang kamu fikirkan

Baca lainya : Emas Jadi Safe Haven Saat Ekonomi Tidak Pasti

Penulis : Nasywa

Tag: