Memasuki tahun 2026, UMKM Indonesia menghadapi medan persaingan yang semakin kompleks. Platform raksasa bergerak cepat, algoritma berubah tanpa aba-aba, dan biaya berjualan online terus naik dari tahun ke tahun.
Di tengah dinamika itu, muncul satu pertanyaan besar:
apakah UMKM masih punya ruang untuk bertahan, atau justru semakin tersisih oleh dominasi platform digital?
Pertanyaan ini penting, bukan hanya untuk pelaku usaha, tetapi juga bagi ekosistem ekonomi nasional yang 61% PDB-nya digerakkan oleh UMKM.
Platform Raksasa: Ekosistem Serba Praktis, Tapi Tak Selalu Adil
Marketplace dan platform digital memang menawarkan kemudahan luar biasa: infrastruktur, logistik, pembayaran, hingga promosi yang sudah terintegrasi.
Namun, semakin matang sebuah platform, semakin ketat pula kontestasinya.
Tren yang muncul sepanjang 2024–2025 memperlihatkan:
- biaya iklan yang terus naik,
- perang harga yang makin tak terkendali,
- brand besar masuk segmen UMKM,
- dominasi UMKM oleh toko-toko berkekuatan modal,
- algoritma yang mendorong seller untuk “bayar lebih banyak agar terlihat.”
Akhirnya, UMKM yang seharusnya menikmati fasilitas digital justru terjebak dalam ekosistem yang membuat margin makin tipis.
Risiko Ketergantungan: Satu Platform, Satu Sumber Nafas
Menurut Data INDEF.or.id, Sebanyak 5,12 persen UMKM memanfaatkan platform digital sebagai satusatunya sarana dalam berjualan
Artinya:
jika algoritma berubah, biaya iklan naik, atau aturan komisi diperketat—pendapatan UMKM bisa runtuh dalam hitungan minggu.
Ketergantungan ini bukan hanya soal teknis, tetapi soal kerentanan ekonomi.
UMKM butuh akses, tetapi juga butuh kedaulatan.
Dan di sinilah strategi 2026 harus dimulai.
2026: Tahun Konsolidasi Identitas dan Diversifikasi Kanal

Untuk bertahan, UMKM tidak cukup mengandalkan platform. Mereka harus membangun identitas, komunitas, dan kanal mandiri.
Rayantara mencatat beberapa pola UMKM yang berhasil melawati turbulensi digital dalam dua tahun terakhir:
1. Membangun Brand, Bukan Sekadar Lapak
UMKM mulai memenangkan pasar ketika mereka menawarkan:
- cerita produk,
- pengalaman pelanggan,
- keunikan lokal,
- kualitas yang konsisten.
Marketplace hanya menjadi etalase, bukan rumah utama.
2. Diversifikasi Kanal Penjualan
Tren 2025 menunjukkan peningkatan besar pada:
- penjualan WhatsApp Commerce,
- landing page pribadi,
- website toko kecil,
- komunitas pelanggan melalui grup privat,
- TikTok Shop setelah regulasi stabil.
Ke depannya, UMKM yang mandiri secara kanal akan lebih tahan terhadap perubahan algoritma.
3. Konten Menjadi Senjata Utama
Konten bukan sekadar promosi, tetapi penguat reputasi.
Mulai dari foto real, cerita produksi, testimoni jujur, hingga edukasi produk—semakin personal sebuah konten, semakin besar kepercayaan yang muncul.
4. Kolaborasi Lokal Lebih Kuat dari Iklan Mahal
Di 2026, kolaborasi antarpelaku UMKM, komunitas kampus, dan event offline kembali naik.
Biayanya lebih murah, dampaknya lebih panjang.
UMKM yang mampu memadukan online dan offline cenderung lebih resilien.
Bisnis Kecil Harus Menjadi Pemain, Bukan Korban Lanskap Digital
Dominasi platform raksasa tidak bisa dihentikan—tapi UMKM bisa menentukan bagaimana cara mereka memanfaatkan ekosistem itu tanpa terjebak seluruhnya.
Tantangan terbesar UMKM tahun 2026 bukan hanya soal bersaing, tetapi soal mengambil kembali kendali atas:
- data,
- pelanggan,
- kanal,
- dan identitas brand.
Jika UMKM mampu membangun pondasi mandiri, platform akan menjadi alat—bukan penguasa.
Pandangan Rayantara
Rayantara percaya bahwa suara pelaku UMKM, mahasiswa, dan pembuat kebijakan harus hadir dalam percakapan digital Indonesia.
Kami mengundang kamu—pelaku usaha, peneliti, mahasiswa, atau praktisi—untuk menulis pengalaman, opini, atau analisis tentang masa depan UMKM di era teknologi.
Ingin menerbitkan tulisanmu di Rayantara? Kirim tulisanmu.
Penulis: Rifat Ardan Sany
Baca juga: Politik Infrastruktur Digital: Siapa yang Paling Diuntungkan di Era Teknologi?






