Home / Sosial / Kenapa Banyak Siswa Salah Pilih Jurusan Kuliah?

Kenapa Banyak Siswa Salah Pilih Jurusan Kuliah?

Di banyak sekolah menengah di Indonesia, pilihan jurusan kuliah sering kali bukan hasil refleksi mendalam—melainkan sekadar hasil dari tekanan lingkungan, ikut-ikutan teman, atau dorongan keluarga. Fenomena gap antara minat siswa dan jurusan yang akhirnya mereka pilih bukanlah hal baru, tetapi justru semakin terasa di era digital, ketika informasi melimpah, ekspektasi meningkat, dan persaingan karier semakin kompleks.

Salah pilih jurusan bukan sekadar “salah ambil jalan”, tetapi bisa berujung pada hilangnya motivasi belajar, tingginya angka pindah jurusan, hingga ketidaksesuaian kompetensi saat memasuki dunia kerja. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik fenomena ini?


1. Tekanan Lingkungan: Ketika Pilihan Bukan Lagi Milik Siswa

Banyak siswa mengakui bahwa keputusan mereka dipengaruhi oleh faktor eksternal:

  • “Jurusan itu katanya banyak peluang kerja.”
  • “Teman-teman pada ambil itu, jadi ikut saja.”
  • “Orang tua minta begitu.”

Minat pribadi tenggelam dalam suara-suara yang lebih keras. Padahal, setiap siswa memiliki gaya belajar, ritme berpikir, dan kecenderungan bakat yang berbeda.

Ironisnya, keputusan besar tentang masa depan sering dibuat berdasarkan asumsi, bukan evaluasi diri.


2. Kebingungan Informasi: Terlalu Banyak, tapi Tidak Terarah

Di era internet, siswa dibanjiri informasi—dari konten TikTok, influencer edukasi, hingga video kampus yang estetis. Masalahnya, informasi tersebut sering bersifat promosi, bukan panduan objektif.

Banyak siswa akhirnya:

  • keliru menilai kesulitan jurusan,
  • tidak memahami kebutuhan skill,
  • salah mengukur kesiapan diri,
  • atau tertarik pada “citra keren” jurusan tertentu.

Keterbatasan pemahaman terhadap prospek karier jangka panjang membuat mereka salah memproyeksikan masa depan akademiknya.


3. Minimnya Evaluasi Diri: Siswa Tidak Tahu Mereka Cocoknya Apa

Faktanya, sebagian besar siswa:

  • belum mengenali kecenderungan belajar,
  • tidak tahu gaya kognitifnya,
  • belum memahami bakat dominan,
  • dan tidak pernah benar-benar mengukur kemampuan akademik secara objektif.

Karena itulah, banyak sekolah mulai menggunakan sistem pakar, tes minat bakat, atau asesmen karier untuk mengisi kekosongan ini. Ketika rekomendasi diberikan secara data-driven, siswa memiliki landasan lebih kuat untuk memilih.


4. Konseling yang Terbatas di Sekolah

Guru BK sering menangani ratusan siswa. Waktu untuk konseling individual pun terbatas. Akibatnya, rekomendasi jurusan yang harusnya personal dan detail menjadi sangat umum.

Padahal, memilih jurusan kuliah adalah keputusan jangka panjang yang membutuhkan bimbingan yang berkelanjutan: melihat tren industri, potensi siswa, kondisi ekonomi keluarga, hingga kemampuan akademik.


5. Dampak Salah Pilih Jurusan: Tidak Sesederhana “Nanti Bisa Belajar Lagi”

Ketika siswa terlanjur masuk jurusan yang tidak sesuai:

  • motivasi menurun,
  • prestasi akademik melemah,
  • stres dan burnout meningkat,
  • peluang karier menyempit,
  • dan biaya pendidikan terbuang.

Banyak mahasiswa akhirnya pindah jurusan, bahkan drop out. Padahal, masalah ini bisa dicegah seandainya proses penentuan jurusan dilakukan lebih bijak sejak SMA.


6. Lalu, Solusinya Apa?

Beberapa langkah yang makin disarankan sekolah, guru, hingga kampus adalah:

✔ Edukasi karier sejak kelas 10

Siswa perlu mengenal dunia kerja lebih awal, bukan menjelang kelulusan.

✔ Menggunakan alat bantu asesmen digital

Penilaian berbasis data lebih akurat dibanding opini atau asumsi.

✔ Konsultasi intensif dengan guru BK atau konselor profesional

Perjalanan karier tidak boleh ditentukan dalam satu pertemuan.

✔ Proyek nyata untuk menguji minat

Magang ringan, lomba, atau kelas keterampilan dapat mengungkapkan apakah siswa benar-benar menyukai suatu bidang.

✔ Diskusi sehat antara siswa dan keluarga

Arah pendidikan harus menjadi keputusan bersama yang objektif, bukan paksaan sepihak.


Penutup: Pilihan Jurusan Bukan Sekadar Gelar, Tapi Identitas Masa Depan

Fenomena gap minat dan jurusan adalah cerminan bahwa sistem pendidikan kita masih dalam proses beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Namun dengan pendekatan yang lebih personal, berbasis data, dan didukung edukasi karier yang lebih matang, siswa bisa membuat keputusan yang lebih tepat—bukan sekadar mengikuti tren atau tekanan sosial.

Rayantara percaya bahwa setiap gagasan punya hak untuk bersuara—entah itu keresahan pribadi, analisis pendidikan, atau cerita kecil yang ingin kamu bagikan kepada negeri.Kami membuka ruang publikasi bagi siapa pun yang ingin menulis dan berdampak.Punya opini, esai, atau cerita yang ingin dipublikasikan? Kirim tulisanmu ke Rayantara.

Klik di sini!

Karena pada akhirnya, jurusan bukan sekadar tempat belajar, tetapi pijakan awal untuk membangun masa depan.

Penulis: Rifat Ardan Sany

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *