Setiap tanggal 28 Oktober, kita merayakan keberanian para pemuda 1928. Mereka berkumpul, berbeda daerah, berbeda kepentingan, lalu sepakat pada satu hal yang lebih besar dari diri mereka: persatuan.
Namun jika sumpah itu ditulis kembali hari ini—seratus tahun kurang sedikit dari momentum bersejarah itu—apa bunyi yang masih sanggup kita ucapkan bersama? Dan… apa yang justru hilang?
Pemuda Dulu: Bersatu Karena Ancaman Nyata
Para pemuda 1928 tahu apa yang mereka lawan. Penjajahan adalah musuh yang jelas, keras, dan menyakitkan. Persatuan bukan pilihan romantis, melainkan jalan satu-satunya untuk merdeka.
Sekarang? Musuh kita tidak lagi berwujud seragam asing.
Kadang ia menjelma di layar ponsel: komentar yang memecah, kabar yang menyesatkan, ego yang tak mau kalah. Kita terhubung oleh teknologi—tapi sering kali tercerai oleh opini.
Persatuan kini diuji oleh hal-hal yang tak terlihat.
Pemuda Hari Ini: Suara Banyak, Arah Belum Satu
Kita punya mimpi masing-masing, kemudahan bersuara, kesempatan yang lebih luas dari generasi mana pun. Namun semua itu datang dengan friksi: perbedaan makin terasa, sikap makin cepat menyala.
Dulu: berbeda tapi bersatu.
Kini: bersuara tapi saling menjatuhkan.
Kita ingin maju bersama, tapi sering lupa bahwa “bersama” itu butuh tenggang rasa dan kesediaan untuk mendengar yang lain.
Bahasa Persatuan: Masih Ada?
Sumpah Pemuda mempersatukan kita lewat satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa. Hari ini, bahasa yang kita pakai bukan hanya kata. Ia menjelma dalam data, aksi, empati, dan solidaritas.
Tapi justru di sinilah pertanyaan itu muncul:
Apakah kita masih punya kehendak untuk mengerti satu sama lain?
Jika bahasa kini meluas tapi hati menyempit, apakah itu masih disebut persatuan?
Apa yang Hilang?
Mungkin… yang hilang bukan bunyi sumpahnya.
Teks itu masih utuh. Kita masih menghafalnya dalam upacara, dalam poster, dalam spanduk peringatan.
Yang mulai memudar adalah rasa percaya: bahwa kita bisa benar-benar menjadi “kita”.
Bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling curiga.
Bahwa mimpi anak muda daerah sama pentingnya dengan mimpi anak muda kota.
Bahwa Indonesia tidak hanya ada di pusat keramaian, tapi juga di sudut yang jauh dan sunyi.
Sumpah Pemuda Belum Selesai
Sejarah 1928 bukan penutup bab. Ia adalah awal perjalanan.
Mereka sudah mengikat simpulnya—kitalah yang harus menjaganya agar tidak terurai.
Karena persatuan Indonesia bukan prasasti yang dipamerkan tiap tahun. Ia adalah pekerjaan harian yang melelahkan: mendengar lebih banyak, marah lebih sedikit, berani berbeda tapi tetap searah.
Jika sumpah itu ditulis ulang hari ini, semoga masih ada kita di dalamnya— dan semoga tidak ada satu pun suara yang hilang.
Rayantara percaya bahwa persatuan tidak hanya diwariskan, tapi terus diperjuangkan—setiap hari, oleh siapa saja yang berani peduli.
Jika kamu punya cerita tentang pemuda dan perubahan—kisah kecil dari kampungmu, keresahan di kampusmu, atau mimpi yang belum sempat disuarakan—kami ingin mendengarnya.
Mari menulis Indonesia bersama. Mulai dari suaramu.
Selamat Hari Sumpah Pemuda! 🇮🇩
— oleh Redaksi Rayantara, 28 Oktober 2025.







Satu Komentar