JAKARTA, Rayantara – Jika kamu selama ini berpikir bikin aplikasi butuh programming rumit, sekarang mungkin bisa berubah. Google Opal adalah alat terbaru dari Google Labs yang diluncurkan pada 24 Juli 2025 secara publik dalam versi beta terbatas di Amerika Serikat.
Apa itu Google Opal?
Opal menargetkan pengguna yang bukan pengembang profesional — kreator, pelajar, bisnis kecil — untuk membuat mini-app berbasis AI hanya dengan menuliskan deskripsi menggunakan bahasa alami (“prompt”), kemudian memakai editor visual untuk mengatur workflow aplikasi tersebut.
Fitur inti yang dijanjikan Google:
- Pembuatan workflow: kamu cukup menulis “buat aplikasi yang…” dan Opal membangun alur input-proses-output.
- Editor visual + prompt: kamu bisa edit alur lewat visual drag-and-drop atau lewat prompt tambahan.
- Publikasi & sharing: setelah jadi, kamu bisa langsung share aplikasi dengan link melalui akun Google.
Kenapa Ini Penting untuk Indonesia?
Beberapa alasan kenapa Opal punya potensi besar di pasar Indonesia:
- Akses ke no-code tool semakin dicari: banyak pelajar, mahasiswa, atau kreator konten yang ingin eksperimen aplikasi tapi tidak punya latar coding.
- Infrastruktur mulai mendukung: internet makin luas, perangkat makin canggih — kelompok muda sangat siap untuk eksplorasi.
- Ekonomi kreatif makin naik: kalau kamu bisa bikin mini-app sendiri, bisa jadi peluang bisnis digital. Opal bisa jadi pintu masuk.
- Bahasa alami + visual workflow cocok untuk pemula: ini membuktikan bahwa aplikasi tidak hanya domain developer elite.

sumber : google for developer
Peluang yang Bisa Dimanfaatkan
- Pelajar atau mahasiswa bisa mengembangkan aplikasi tugas atau proyek kreatif dengan cepat.
- Business kecil bisa bikin tool internal sederhana (misalnya: formulir survey, kalkulator harga, aplikasi pelanggan) tanpa harus sewa developer.
- Kreator konten bisa gunakan Opal untuk bikin interaksi atau game mini di kanal mereka.
- Pengajar bisa eksperimen menggunakan Opal sebagai media ajar: buat kuis interaktif, simulasi pembelajaran, atau mini-game edukatif.
Tantangan yang Harus Diketahui
Walaupun menarik, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai:
- Saat ini Opal masih beta terbatas di AS saja. Belum ada kepastian kapan dirilis secara global atau spesifik ke Indonesia.
- Masih eksperimen: sebagai produk “Labs”, artinya fitur bisa berubah atau ada batasan.
- Kebutuhan pengguna lokal: apakah mendukung bahasa Indonesia, apakah template lokal banyak, atau integrasi dengan layanan Indonesia (misalnya pembayaran lokal) — ini bisa jadi hambatan adopsi cepat.
- Kompetisi ketat: banyak platform no-code dan low-code lainnya yang juga terus berkembang (canva, Figma, Replit). Opal harus punya kelebihan yang jelas.
Bagaimana Kamu Bisa Mulai?
- Kunjungi situs resmi Opal: opal.withgoogle.com opal.withgoogle.com
- Coba gunakan templat yang disediakan atau mulai dari nol: tulis prompt seperti “Buat aplikasi chatbot untuk sekolah saya”.
- Edit workflow visual, tambahkan langkah jika perlu.
- Publikasikan dan share link ke teman/teman sekelas — minta feedback.
- Eksplorasi lokal: cobalah bahasa Indonesia, coba aplikasi yang relevan di konteksmu (komunitas, kampus, UMKM lokal).
Kesimpulan
Google Opal adalah pernyataan bahwa era pengembangan aplikasi tidak hanya untuk developer. Ia bisa jadi alat kreator, pelajar, bisnis kecil, siapakah pun yang punya ide. Untuk Indonesia, ini membuka peluang baru: kreativitas digital tidak lagi dibatasi oleh kode.
Tapi, seperti semua alat baru, kuncinya ada dalam adaptasi lokal: bagaimana komunitas kita menggunakan, menyesuaikan, dan memaksimalkan potensi tersebut.
👉 Sudah siap eksperimen dengan Opal? Coba sekarang dan bagikan pengalamanmu — mungkin aplikasi pertama kamu bisa jadi sesuatu yang besar.
Punya ide aplikasi yang ingin dibangun tanpa coding? Yuk bagikan idemu dan lihat hasil eksperimenmu. Ikuti juga artikel-artikel teknologi dan inovasi lainnya hanya di Rayantara.
Penulis : Muhammad Nur Imam






