Ketika inflasi naik dan harga kebutuhan pokok melonjak, banyak orang langsung merasa daya belinya tergerus. Uang yang sama tidak lagi bisa membeli barang sebanyak sebelumnya. Namun di tengah tekanan itu, harga emas sering justru tetap stabil bahkan naik. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari pola ekonomi global yang sudah terjadi berulang kali.
Emas tidak bergerak seperti harga cabai atau beras. Emas bereaksi terhadap sentimen, kepercayaan pasar, dan ketidakpastian ekonomi. Itulah sebabnya emas sering terlihat “tenang” saat kondisi ekonomi justru tidak tenang.
Emas Dipandang Sebagai Safe Haven
Saat inflasi meningkat, investor aktif mencari aset yang bisa menjaga nilai kekayaan. Mereka tidak ingin uang yang mereka simpan kehilangan daya beli terlalu cepat. Di sinilah emas berperan sebagai safe haven.
Konsep ini menjelaskan bahwa emas cenderung menjadi tempat berlindung ketika ekonomi tidak stabil. Banyak analis menjelaskan hubungan ini dalam kajian soal hubungan inflasi dan harga emas yang menunjukkan bahwa emas sering dipilih sebagai pelindung nilai saat tekanan inflasi meningkat.
Karena permintaan naik, harga emas pun terdorong naik atau setidaknya bertahan lebih stabil dibanding aset lain yang lebih volatil.
Emas Tidak Bergantung Pada Satu Mata Uang
Inflasi sering melemahkan mata uang. Ketika nilai mata uang turun, orang mulai mencari aset yang nilainya tidak langsung terikat pada satu negara.
Emas diperdagangkan secara global dan dihargai dalam dolar AS, tetapi permintaannya datang dari seluruh dunia. Jika mata uang melemah, emas justru terlihat lebih menarik. Mekanisme ini menjelaskan kenapa emas sering naik saat mata uang mengalami tekanan.
Inilah yang membuat emas berbeda dari instrumen yang sangat bergantung pada kondisi domestik.
Permintaan Bank Sentral Menguatkan Harga
Selain investor ritel, bank sentral juga aktif membeli emas untuk diversifikasi cadangan devisa. Ketika ketidakpastian global meningkat, banyak negara memilih memperkuat cadangan emas mereka.
Pembelian skala besar dari institusi ini memberikan dukungan struktural terhadap harga emas. Selama permintaan global kuat, harga emas sulit turun drastis meski kondisi ekonomi berubah.

Emas dan Suku Bunga Punya Hubungan Kompleks
Meski emas sering naik saat inflasi tinggi, hubungan ini tidak selalu sederhana. Harga emas juga dipengaruhi suku bunga.
Ketika suku bunga riil tinggi, investor bisa lebih tertarik pada obligasi atau instrumen berbunga. Namun ketika suku bunga riil rendah atau negatif akibat inflasi, emas kembali menjadi pilihan.
Banyak pembahasan ekonomi global mengenai gold vs inflation and interest rates menjelaskan bahwa emas bereaksi terhadap kombinasi inflasi dan suku bunga, bukan hanya satu faktor saja.
Emas Bukan Mesin Uang Instan
Penting untuk diingat, emas bukan alat cepat kaya. Emas tidak memberikan dividen atau bunga. Nilainya naik karena permintaan dan sentimen pasar, bukan karena menghasilkan arus kas.
Orang yang memahami emas sebagai inflation hedge biasanya menempatkannya sebagai bagian dari strategi jangka panjang, bukan spekulasi jangka pendek.
Kesimpulan
Harga emas tetap stabil atau naik saat inflasi tinggi karena investor aktif mencari perlindungan nilai, mata uang melemah, dan permintaan global tetap kuat. Emas mencerminkan tingkat kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi.
Ketika orang mulai meragukan stabilitas uang, mereka kembali pada aset yang dianggap lebih tahan lama. Dalam situasi itulah emas menunjukkan kekuatannya
SBaca lainya : Skandal Kekuasaan di Zaman Media Sosial
Penulis : Nasywa



