Krisis iklim belum menunjukkan tanda melambat. Suhu global terus naik setiap tahun. Di tengah situasi ini, muncul gagasan untuk “mendinginkan” Bumi dengan memantulkan sebagian sinar Matahari ke luar angkasa. Konsep ini dikenal sebagai solar geoengineering atau Solar Radiation Management (SRM).
Sebagian orang menyebutnya solusi darurat. Sebagian lain menganggapnya langkah berisiko. Perdebatan ini makin ramai karena nama Bill Gates ikut disebut dalam pendanaan risetnya.
Solar Geoengineering: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
SRM bekerja dengan menyebarkan partikel kecil di atmosfer atas. Partikel itu memantulkan sebagian sinar Matahari sebelum mencapai permukaan Bumi. Ilmuwan terinspirasi dari letusan gunung berapi besar yang pernah menurunkan suhu global sementara.
Para peneliti ingin memahami apakah efek itu bisa dikendalikan secara ilmiah. Mereka menguji konsep ini melalui eksperimen terbatas seperti SCoPEx. Harvard memimpin proyek tersebut untuk mempelajari dampak partikel di stratosfer.
Namun, banyak ilmuwan menekankan bahwa SRM tidak menghilangkan penyebab utama krisis iklim. Teknologi ini hanya menekan suhu, bukan mengurangi emisi karbon.
Kenapa Nama Bill Gates Ikut Terseret?
Bill Gates mendukung pendanaan riset iklim, termasuk penelitian geoengineering. Dukungan itu memicu spekulasi di media sosial. Banyak orang menyimpulkan bahwa ia ingin “mengendalikan cuaca”.
Faktanya, ia tidak mengendalikan eksperimen tersebut. Ia mendukung riset melalui pendanaan, bukan menjalankan proyek teknis di lapangan. Namun, publik sering mencampuradukkan pendanaan dengan kontrol langsung.
Isu ini menunjukkan satu hal: masyarakat semakin curiga terhadap proyek besar yang melibatkan tokoh berpengaruh.

Risiko Ilmiah dan Dampak Global
SRM membawa potensi dampak serius. Teknologi ini bisa mengubah pola hujan dan memengaruhi pertanian. Beberapa wilayah mungkin mendingin, tetapi wilayah lain bisa mengalami gangguan cuaca.
Selain itu, jika dunia menghentikan SRM secara tiba-tiba, suhu bisa melonjak drastis. Ilmuwan menyebut skenario ini sebagai “termination shock”. Risiko ini membuat banyak pakar meminta regulasi ketat sebelum uji coba besar dilakukan.
National Academies of Sciences juga menekankan pentingnya tata kelola global sebelum eksperimen berkembang lebih jauh.
Solusi Cepat atau Gangguan Fokus?
Sebagian pihak khawatir SRM mengalihkan perhatian dari solusi utama. Dunia masih harus menurunkan emisi karbon. Negara-negara perlu beralih ke energi bersih dan memperbaiki sistem transportasi.
Jika publik terlalu fokus pada teknologi pendingin Bumi, komitmen terhadap pengurangan emisi bisa melemah. Padahal, akar masalah tetap berasal dari pembakaran bahan bakar fosil.
SRM mungkin berfungsi sebagai opsi darurat. Namun, teknologi ini tidak bisa menggantikan mitigasi dan adaptasi iklim.
Kesimpulan
Solar geoengineering memicu perdebatan global. Ilmuwan terus meneliti potensinya. Aktivis lingkungan tetap menuntut kehati-hatian. Publik pun semakin kritis terhadap proyek besar yang melibatkan tokoh berpengaruh.
Teknologi ini menawarkan kemungkinan baru. Namun, sains tetap harus berjalan bersama transparansi dan pengawasan ketat. Krisis iklim membutuhkan solusi berlapis, bukan satu jawaban instan.
Baca lainya : Gen Z Pilih Cashless untuk Transaksi Harian
Penulis : Nasywa





