Home / Teknologi / Agentic AI dan Dampaknya ke Dunia Kerja

Agentic AI dan Dampaknya ke Dunia Kerja

aici-umg.com

Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) berkembang jauh lebih cepat dari yang banyak orang bayangkan. Jika dulu AI hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan atau membantu menulis teks, kini teknologi ini sudah berubah menjadi sistem yang bisa bekerja lebih mandiri. AI tidak hanya merespons perintah, tetapi juga mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas yang lebih rumit secara otomatis. Perkembangan ini dikenal sebagai Agentic AI, yaitu bentuk AI yang mulai berperan bukan sekadar alat bantu, melainkan seperti mitra kerja digital yang dapat bergerak berdasarkan tujuan tertentu.

Evolusi yang Nyata AI Agent vs. Agentic AI

Perjalanan AI dimulai dari sistem yang hanya merespons permintaan manusia (seperti chatbot). Lalu muncul AI agents — program yang dapat merespons lingkungan sekitar dan mengeksekusi langkah-langkah untuk mencapai tujuan tertentu secara otomatis. Mereka bisa menjadwalkan rapat, membalas email, atau memberi rekomendasi sederhana berdasarkan data yang tersedia.

Namun Agentic AI adalah lompatan berikutnya. Bukan hanya merespons, tetapi merencanakan, belajar, dan bertindak berdasarkan tujuan yang lebih kompleks tanpa pengawasan manusia terus-menerus. Artinya, AI bisa mengatur beberapa langkah kerja sekaligus, memantau hasilnya, dan menyesuaikan strategi ketika diperlukan — mirip dengan cara manusia bekerja dalam tim.

Mengapa Ini Bukan Sekadar Trend Teknologi

Dulu, AI dianggap sebagai alat yang membantu kita menghasilkan teks atau gambar. Generative AI seperti ChatGPT memberi kita kemampuan untuk berbicara dengan mesin dalam bahasa manusia. Agentic AI melangkah lebih jauh lagi — dari sekadar berbicara, AI bertindak.

Bayangkan AI yang:

  • Menentukan tugas yang perlu dilakukan berdasarkan tujuan yang lebih besar.
  • Menggabungkan data dari berbagai sumber untuk mengambil keputusan.
  • Mengelola beberapa subagent untuk menyelesaikan misi yang kompleks.
    Itu bukan hanya teori — ini mulai diimplementasikan di berbagai sistem teknologi modern.

Dan bahkan pengguna biasa sudah bisa melihat contoh nyata: proyek OpenClaw memungkinkan pengguna membuat AI agents lokal yang terhubung dengan aplikasi sehari-hari seperti WhatsApp maupun Slack untuk menyelesaikan tugas seperti mengatur kalender dan email secara otomatis.

Sumber : rooma21.com

Contoh Aplikasi Agentic AI yang Mungkin Kamu Kenal

Banyak perusahaan besar telah mengembangkan atau mengintegrasikan sistem seperti ini:

  • OpenClawAI agent open-source yang bisa kamu jalankan secara lokal untuk mengelola tugas digital sehari-hari seperti email dan jadwal tanpa perintah langsung.
  • Baidu AI Agent di Aplikasi Pencarian — pengguna di China bisa berinteraksi dengan agen AI langsung dari aplikasi pencarian, mengerjakan tugas seperti penjadwalan atau organisasi file.
  • Microsoft Agent 365 — platform yang membantu perusahaan mengelola AI agents layaknya karyawan digital, lengkap dengan kontrol keamanan dan integrasi dengan aplikasi seperti Microsoft 365.
  • AI di sektor kesehatan dan industri — organisasi kesehatan semakin banyak yang mulai menguji coba agentic AI untuk tugas seperti pengambilan keputusan klinis atau manajemen operasi.

Ini semua menunjukkan bahwa Agentic AI bukan sekadar konsep futuristik — ia mulai masuk ke kehidupan nyata dan pekerjaan sehari-hari.

Tantangan Etika, Keamanan, dan Kendali

Kendati potensinya besar, Agentic AI juga membawa tantangan nyata. Otonomi tinggi AI berarti sistem ini bisa bertindak tanpa instruksi langsung manusia, sehingga kontrol keamanan, etika, dan transparansi menjadi krusial. Misalnya, jika AI harus mengambil keputusan strategis dalam perusahaan, siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan? Dan bagaimana memastikan AI itu adalah mitra yang dapat dipercaya, bukan risiko baru?

Selain itu, isu seperti privasi data, bias algoritma, dan dampaknya terhadap pekerjaan manusia tidak boleh diabaikan. Agentic AI tidak hanya mengubah teknologi — ia juga menggeser paradigma kerja manusia dan cara kita memandang kolaborasi dengan mesin.

Masa Depan Kerja dan AI: Kolaborasi, Bukan Pergantian

Kita sering membayangkan AI sebagai pengganti pekerja manusia. Namun perkembangan Agentic AI yang kita lihat sekarang lebih menunjukkan satu hal AI menjadi kolaborator, bukan sekadar pengganti.

AI dapat mengambil alih tugas-tugas berulang atau kompleks, memberi ruang bagi manusia untuk fokus pada kreativitas, strategi, dan inovasi. Tetapi untuk itu terjadi, kita harus lebih dulu memahami bagaimana AI bekerja, bukan hanya apa yang bisa dilakukannya.

Kesimpulan: Abad Baru Kecerdasan Buatan

Perkembangan AI dari chatbot sederhana hingga Agentic AI yang proaktif menandai perubahan besar dalam hubungan kita dengan teknologi. Saat ini, AI tidak lagi hanya menunggu instruksi — ia bisa merencanakan, belajar, dan bertindak. Integrasi yang semakin luas di aplikasi nyata menunjukkan bahwa era intelligent automation benar-benar tengah tiba.

Tantangan etika, kendali, dan keamanan harus dijawab dengan serius. Namun satu hal jelas: Agentic AI bukan sekadar jargon teknis — ia adalah masa depan kolaborasi manusia dan mesin.

Baca lainya : Warkop: Tempat Rakyat Mengatur Negara

Penulis : Nasywa

Tag: