Beranda / Opini / Fresh Graduate Digaji di Bawah UMR, Kok Bisa?

Fresh Graduate Digaji di Bawah UMR, Kok Bisa?

gaji fresh graduate

Lulus Kuliah, Tapi Gaji Belum Sesuai Ekspektasi

Salah satu realita yang sering membuat fresh graduate kaget setelah lulus kuliah adalah soal gaji. Setelah bertahun-tahun belajar dan mendapatkan gelar sarjana, tidak sedikit lulusan baru menemukan lowongan kerja dengan tawaran gaji yang terasa jauh dari ekspektasi.

Pertanyaannya kemudian sederhana: kalau sudah sarjana, kenapa gajinya masih bisa rendah? Jawabannya ternyata tidak sesederhana soal gelar atau kemampuan.

Kondisi pasar kerja, pengalaman, jenis pekerjaan, lokasi perusahaan, keterampilan yang dibutuhkan industri, hingga aturan pengupahan ikut menentukan posisi seorang fresh graduate ketika memasuki dunia kerja.

UMR Bukan Patokan yang Sama untuk Semua Daerah

Sebelum membahas gaji fresh graduate, ada satu istilah yang perlu diluruskan. Masyarakat sering menggunakan istilah UMR, tetapi pemerintah saat ini menggunakan istilah Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).

Besarnya juga berbeda di setiap daerah. Pada 2026, misalnya, UMP DKI Jakarta tercatat Rp5.729.876, sedangkan UMP Banten Rp3.100.881 dan Jawa Barat Rp2.317.601. Artinya, angka yang dianggap “gaji rendah” di satu daerah belum tentu sama dengan daerah lainnya.

Karena itu, ketika seseorang mengatakan “fresh graduate digaji di bawah UMR”, pertanyaan berikutnya harus selalu muncul: di daerah mana, bekerja sebagai apa, status pekerjaannya apa, dan perusahaan seperti apa?

Kenapa Fresh Graduate Sering Mendapat Tawaran Rendah?

Salah satu alasannya adalah perusahaan tidak hanya membayar ijazah. Perusahaan juga mempertimbangkan kemampuan seseorang dalam menjalankan pekerjaan secara mandiri.

Fresh graduate biasanya belum memiliki pengalaman kerja yang panjang. Mereka mungkin memahami teori dari kampus, tetapi perusahaan masih perlu melihat kemampuan menerapkan teori tersebut dalam situasi kerja nyata.

Di sinilah muncul perbedaan antara “punya pendidikan” dan “punya pengalaman yang relevan”. Dua hal tersebut sama-sama penting, tetapi pasar kerja sering memberikan nilai yang berbeda pada keduanya.

Masalahnya Bukan Selalu Karena Fresh Graduate Kurang Pintar

Menyalahkan fresh graduate karena “kurang skill” juga tidak sepenuhnya tepat.

BPS dalam Statistical Data Story mengenai ketidaksesuaian pendidikan dan pekerjaan pemuda Indonesia mencatat bahwa lebih dari sepertiga pekerja muda berada pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya.

BPS juga menyebut ketidaksesuaian tersebut berkaitan dengan wage penalties, sehingga masalah gaji tidak bisa dilepaskan dari persoalan kecocokan antara pendidikan dan kebutuhan pekerjaan.

Artinya, seseorang bisa saja memiliki gelar sarjana tetapi masuk ke pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkan kompetensi yang ia pelajari di kampus. Ketika terjadi mismatch seperti ini, gelar saja belum tentu membuat posisi tawarnya langsung tinggi.

Dunia Kerja Tidak Membayar “Potensi” Saja

Fresh graduate sering masuk dunia kerja dengan membawa banyak potensi. Namun, perusahaan biasanya perlu melihat bukti bahwa potensi tersebut dapat menghasilkan pekerjaan yang dibutuhkan.

Misalnya, seorang lulusan informatika tidak cukup hanya menuliskan “bisa Python” di CV. Perusahaan akan lebih mudah melihat nilainya ketika kandidat dapat menunjukkan proyek, analisis data, dashboard, aplikasi, dokumentasi, atau hasil pekerjaan lain yang membuktikan kemampuan tersebut.

Hal yang sama berlaku untuk lulusan komunikasi, ekonomi, desain, teknik, maupun bidang lainnya. Skill yang bisa dibuktikan biasanya memiliki posisi tawar yang lebih kuat daripada skill yang hanya tertulis di CV.

Tapi Apakah Gaji di Bawah UMP Selalu Boleh?

Bagian ini penting karena istilah “gaji di bawah UMR” sering menimbulkan salah paham.

Kemnaker menjelaskan bahwa upah minimum merupakan batas minimum yang berlaku bagi pekerja/buruh dengan masa kerja kurang dari satu tahun pada perusahaan yang bersangkutan. Untuk pekerja dengan masa kerja lebih dari satu tahun, perusahaan menggunakan struktur dan skala upah.

Namun, aturan pengupahan juga memiliki ketentuan khusus. Regulasi pengupahan yang berlaku saat ini adalah PP Nomor 49 Tahun 2025, yang mengubah ketentuan dalam PP Nomor 36 Tahun 2021 dan mengatur kembali mekanisme upah minimum serta struktur dan skala upah.

Karena itu, fresh graduate tidak seharusnya langsung menganggap semua tawaran di bawah angka UMP sebagai hal yang otomatis sama secara hukum. Status hubungan kerja, jenis perusahaan, dan ketentuan yang berlaku perlu diperiksa terlebih dahulu.

Ada Perbedaan antara Gaji di Slip dan Angka UMP

Hal lain yang sering membuat fresh graduate bingung adalah perbedaan antara upah minimum dan upah yang benar-benar diterima di tangan.

BPS menggunakan konsep upah/gaji bersih sebagai imbalan yang diterima pekerja selama sebulan dari pekerjaan utama, termasuk komponen upah atau gaji pokok dan tunjangan dalam bentuk uang maupun barang.

Angka tersebut tentu tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan semua komponen pengupahan tanpa melihat struktur gaji masing-masing pekerjaan.

Jadi, sebelum membandingkan tawaran kerja dengan UMP, kandidat perlu melihat apakah perusahaan menyebut angka gross, net, gaji pokok, tunjangan, atau total compensation.

Pasar Kerja Fresh Graduate Memang Tidak Mudah

Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka berdasarkan pendidikan pada 2025 mencapai 5,39 persen untuk lulusan universitas. Angka ini menunjukkan bahwa memiliki pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang langsung memperoleh pekerjaan.

Pada Februari 2026, rata-rata upah buruh nasional berada di angka sekitar Rp3,29 juta per bulan. Namun, angka tersebut merupakan rata-rata seluruh pekerja dan bukan angka khusus fresh graduate, sehingga tidak tepat jika angka tersebut dianggap sebagai standar gaji lulusan baru.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Gen Z masuk ke pasar kerja dengan tantangan yang cukup kompleks. Persaingan bukan hanya terjadi antar-lulusan, tetapi juga antara kompetensi yang dimiliki pencari kerja dan kebutuhan industri yang terus berubah.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Gen Z?

Masalah gaji rendah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengatakan “jangan mau digaji kecil.” Di sisi lain, menerima semua tawaran tanpa memahami nilai diri juga dapat membuat karier berjalan tanpa arah.

Langkah pertama adalah mengetahui nilai pasar dari skill yang dimiliki. Fresh graduate dapat membandingkan beberapa lowongan dengan posisi serupa, melihat persyaratan yang paling sering muncul, lalu memetakan skill mana yang benar-benar dicari perusahaan.

Setelah itu, bangun bukti kemampuan. Portofolio sederhana yang menunjukkan hasil pekerjaan sering kali lebih membantu daripada menambahkan terlalu banyak daftar skill di CV.

Jangan Mengejar Semua Skill, Kejar Skill yang Dibutuhkan

Gen Z juga tidak harus menguasai semuanya. Jika banyak lowongan untuk posisi data analyst membutuhkan Excel, SQL, Power BI, dan kemampuan analisis, maka mempelajari empat kemampuan tersebut dengan serius bisa lebih berguna daripada mengumpulkan sepuluh sertifikat yang tidak berhubungan dengan posisi yang dituju.

BPS sendiri menyoroti pentingnya peningkatan keterampilan digital, sertifikasi, dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri untuk mengurangi risiko ketidaksesuaian pendidikan dan pekerjaan.

Dengan kata lain, jangan hanya bertanya “skill apa yang keren?”, tetapi tanyakan “skill apa yang benar-benar dibutuhkan industri yang ingin saya masuki?”

Fresh Graduate Juga Perlu Belajar Negosiasi

Banyak lulusan baru merasa tidak memiliki hak untuk bernegosiasi karena belum mempunyai pengalaman.

Padahal, negosiasi tidak selalu berarti meminta perusahaan menaikkan gaji secara agresif. Kandidat juga dapat menanyakan struktur kompensasi, tunjangan, status kerja, periode evaluasi, peluang kenaikan gaji, serta ruang pengembangan karier.

Jika perusahaan belum bisa memberikan angka yang diharapkan, kandidat setidaknya dapat memahami apa yang akan diperoleh sebagai imbalannya. Pengalaman yang relevan, mentor yang kuat, akses terhadap proyek besar, atau jalur karier yang jelas dapat menjadi pertimbangan, selama kondisi kerjanya tetap sesuai dengan aturan yang berlaku.

Jangan Terjebak dengan “Yang Penting Kerja”

Kalimat “yang penting kerja dulu” memang terdengar realistis bagi fresh graduate. Namun, kalimat tersebut bisa menjadi masalah jika membuat seseorang menerima pekerjaan tanpa memahami kontrak, beban kerja, kompensasi, dan prospek kariernya.

Pekerjaan pertama memang tidak harus menjadi pekerjaan impian. Tetapi pekerjaan pertama sebaiknya memberikan sesuatu yang bisa dibawa ke langkah berikutnya, entah itu pengalaman, keterampilan, jaringan profesional, atau pencapaian yang dapat masuk ke portofolio.

Jika setelah berbulan-bulan seseorang hanya mengerjakan pekerjaan yang sama tanpa perkembangan kompetensi, Gen Z perlu mulai mengevaluasi kembali arah kariernya.

Gaji Pertama Bukan Penentu Nilai Diri

Ada satu hal yang juga perlu dipahami fresh graduate: gaji pertama bukan ukuran akhir dari kemampuan seseorang.

Karier berjalan dalam proses. Seseorang bisa memulai dari angka yang biasa saja, kemudian meningkatkan nilai jualnya setelah memperoleh pengalaman, membangun spesialisasi, dan memahami industri yang digeluti.

Namun, kalimat tersebut juga bukan alasan bagi perusahaan untuk membayar pekerja secara tidak layak.

Perusahaan tetap memiliki tanggung jawab untuk mengikuti ketentuan pengupahan yang berlaku, sementara pekerja perlu memahami haknya dan mengetahui nilai kompetensinya.

Yang Perlu Diubah Bukan Hanya Ekspektasi Gen Z

Perdebatan mengenai gaji fresh graduate sering berakhir dengan nasihat kepada anak muda: “Turunkan ekspektasi.” Padahal, masalahnya tidak selalu berada di sisi pencari kerja.

Dunia pendidikan juga perlu semakin dekat dengan kebutuhan industri, perusahaan perlu memberikan informasi pekerjaan dan kompensasi yang lebih transparan, sementara pemerintah perlu memastikan aturan pengupahan berjalan sesuai ketentuan.

Data BPS menunjukkan bahwa ketidaksesuaian pendidikan dan pekerjaan masih menjadi persoalan bagi pekerja muda. Karena itu, solusi tidak cukup hanya meminta Gen Z belajar lebih banyak. Ekosistem transisi dari kampus ke dunia kerja juga perlu diperbaiki.

Jadi, Haruskah Gen Z Menerima Gaji Rendah?

Jawabannya bukan sekadar iya atau tidak. Fresh graduate perlu melihat tawaran kerja secara lebih lengkap: berapa kompensasinya, bagaimana status kerjanya, apa pekerjaannya, skill apa yang akan berkembang, bagaimana prospek kariernya, dan apakah perusahaan memenuhi ketentuan pengupahan yang berlaku.

Pada akhirnya, tujuan Gen Z bukan sekadar mendapatkan pekerjaan pertama. Tujuannya adalah membangun nilai diri yang terus meningkat, sehingga tawaran kerja berikutnya tidak lagi hanya bergantung pada ijazah, tetapi pada kemampuan dan pengalaman yang benar-benar dapat dibuktikan.

Karena mungkin masalah sebenarnya bukan sekadar “kenapa fresh graduate digaji kecil?”, melainkan “apa yang membuat seorang fresh graduate layak mendapatkan gaji yang lebih tinggi?”

Penulis : Naswa

Baca lainya Child Grooming di Era Digital: Ketika Kepercayaan Anak Menjadi Celah Eksploitasi

Tag: