Rayantara.com – Tangerang Selatan, 9 Februari 2026 – Maraknya penipuan lowongan kerja (LOKER) atau job scam kembali menjadi sorotan setelah laporan investigatif yang diangkat oleh Metro TV mengungkap bahwa Indonesia menempati posisi teratas sebagai target penipuan lowongan kerja di kawasan Asia Pasifik.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam program Kontroversi, sekitar 38 persen kasus penipuan lowongan kerja di Asia Pasifik terjadi di Indonesia. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor utama, seperti keterbatasan lapangan kerja formal, tingginya kebutuhan ekonomi, serta masih rendahnya literasi dan kesadaran keamanan digital di masyarakat.
Modus Job Scam: Gaji Tinggi, Kerja Ringan, Berujung Deposit
Penipuan lowongan kerja umumnya memanfaatkan iming-iming yang tampak menggiurkan. Pelaku menawarkan pekerjaan ringan dengan gaji tinggi, sering kali disebarkan melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook, atau aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram.
Salah satu modus yang paling sering digunakan adalah sistem komisi dan deposit. Korban awalnya diminta mengerjakan tugas sederhana dan diberikan komisi kecil untuk membangun kepercayaan. Setelah itu, korban diarahkan untuk melakukan top up atau menyetor uang dengan alasan biaya pelatihan, aktivasi akun, atau syarat pencairan dana.
Tak jarang, pelaku juga mencatut nama dan logo perusahaan besar, dengan sedikit perubahan penulisan agar tampak meyakinkan. Dalam kasus yang lebih serius, penipuan ini bahkan terhubung dengan jaringan internasional dan berujung pada Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), di mana korban dikirim ke luar negeri dan dipaksa bekerja di sektor ilegal seperti judi online.
Kisah Korban: Kehilangan Hingga Rp19 Juta
Salah satu korban, Benita, menceritakan pengalamannya terjebak loker palsu yang ia temukan melalui iklan freelance di Instagram. Awalnya, Benita diminta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp15.000 dan diarahkan mengerjakan tugas-tugas berbasis top up di sebuah situs yang menyerupai dompet digital.
Meski sempat menerima keuntungan kecil di awal, Benita akhirnya terus diminta menyetor dana dalam jumlah yang semakin besar. Harapan untuk menarik uang yang sudah terkumpul justru menjadi jebakan. Total kerugian yang dialami Benita mencapai sekitar Rp19 juta.

Sumber : [FULL] KONTROVERSI – KU TERTIPU LOKER PALSU
Upaya Pencegahan dan Solusi dari Pemerintah
Menanggapi maraknya kasus ini, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mencari pekerjaan. Masyarakat disarankan menggunakan platform resmi milik pemerintah, seperti KarirHub Kemnaker, yang menyediakan informasi lowongan kerja terverifikasi.
Beberapa ciri lowongan kerja palsu yang perlu diwaspadai antara lain:
- Meminta uang di muka dalam bentuk biaya pendaftaran, pelatihan, atau deposit
- Menawarkan gaji tidak masuk akal untuk kualifikasi rendah
- Menggunakan email pribadi (seperti Gmail atau Yahoo), bukan domain resmi perusahaan
Bagi korban yang sudah terlanjur tertipu, pemerintah menyarankan untuk segera melapor ke kepolisian siber, Satgas OJK, atau melalui kanal pengaduan resmi Kemnaker yang telah bekerja sama dengan aparat penegak hukum.
Literasi Digital Jadi Kunci Perlindungan Diri
Kasus penipuan lowongan kerja ini menjadi pengingat bahwa di era digital, peluang dan risiko berjalan beriringan. Tawaran kerja yang terasa “terlalu indah untuk menjadi kenyataan” patut dicurigai.
Meningkatkan literasi digital, membiasakan verifikasi informasi, serta tidak mudah tergiur janji instan menjadi langkah penting untuk melindungi diri dari jerat job scam yang semakin canggih.
Sumber : KONTROVERSI – KU TERTIPU LOKER PALSU
Baca Juga : Harga RAM Naik Lagi, Apa Penyebabnya?
Penulis : Muhammad Nur Imam






