rayantara.com – Tangerang Selatan, 13 Desember 2025 – Masalah terbesar hari ini bukan kurangnya orang pintar. Masalahnya adalah terlalu banyak ide baik yang gagal dipahami.
Kita hidup di era di mana informasi berlimpah, pendidikan semakin tinggi, dan teknologi semakin canggih. Tapi anehnya, salah paham justru makin sering terjadi. Diskusi berujung debat. Penjelasan berujung kebingungan. Niat baik berujung konflik.
Bukan karena orang lain bodoh.
Sering kali karena kita lupa satu hal penting: berpikir paham tidak sama dengan benar-benar dipahami.
Saat Pintar Tidak Otomatis Sampai
Banyak orang yang menguasai bidangnya dengan sangat baik. Mereka paham teknis, detail, dan konsep rumit. Tapi di titik tertentu, pengetahuan yang tinggi justru menciptakan jarak.
Bukan karena mereka tidak bisa berkomunikasi.
Melainkan karena mereka berbicara dari sudut pandang yang sudah terlalu jauh melangkah.
Ketika seseorang terbiasa dengan istilah teknis, logika kompleks, atau konteks tertentu, otaknya menganggap semua itu “dasar”. Padahal bagi orang lain, itu bisa terasa asing, berat, bahkan membingungkan.
Di sinilah masalahnya muncul.
Kita sering mengira sudah menjelaskan dengan sederhana, padahal yang kita lakukan hanya menyederhanakan menurut standar kita sendiri.
Kesenjangan yang Tidak Terlihat
Komunikasi yang gagal jarang disebabkan oleh niat buruk.
Lebih sering disebabkan oleh asumsi.
Asumsi bahwa:
- orang lain punya latar belakang yang sama
- orang lain menangkap maksud kita secepat kita memahaminya
- orang lain “pasti ngerti” karena menurut kita ini logis
Padahal setiap orang datang dengan:
- pengalaman yang berbeda
- tingkat literasi yang berbeda
- cara berpikir yang berbeda
Tanpa sadar, asumsi-asumsi ini menciptakan kesenjangan. Bukan kesenjangan intelektual, tapi kesenjangan bahasa dan empati.

Sumber : freepick.com
Komunikasi Bukan Soal Bicara, Tapi Menyampaikan
Komunikasi yang baik bukan tentang seberapa pintar kita berbicara.
Tapi seberapa jauh pesan kita benar-benar sampai.
Orang yang mampu berkomunikasi dengan baik bukan yang paling banyak tahu, melainkan yang mau menurunkan egonya untuk naikkan pemahaman orang lain.
Ia tidak merasa lebih rendah saat menjelaskan hal dasar.
Ia tidak tersinggung saat harus mengulang.
Ia tidak tergesa-gesa ingin terlihat pintar.
Karena tujuannya bukan terlihat hebat, tapi membuat orang lain mengerti.
Kenapa Ini Penting?
Karena komunikasi adalah jembatan.
Tanpa komunikasi yang baik:
- ilmu hanya berputar di lingkaran kecil
- teknologi tidak digunakan maksimal
- kebijakan tidak dipahami masyarakat
- kerja tim berubah jadi saling menyalahkan
Sebaliknya, ketika seseorang mampu menjembatani bahasa, ia sedang membuka akses.
Akses ke pengetahuan, ke pemahaman, dan ke kemajuan bersama.
Belajar Menjadi Jembatan
Mungkin kita tidak perlu menjadi yang paling pintar di ruangan.
Tapi kita bisa memilih menjadi orang yang paling bisa menjelaskan.
Mulai dari hal sederhana:
- bertanya apakah penjelasan kita sudah jelas
- menghindari istilah yang tidak perlu
- mendengarkan sebelum menjelaskan
- menyesuaikan bahasa dengan lawan bicara
Karena kepintaran sejati bukan diukur dari seberapa rumit kita bicara,
melainkan seberapa banyak orang yang bisa ikut melangkah bersama kita.
Sebelum merasa sudah menjelaskan dengan baik, coba berhenti sejenak dan tanyakan ini:
“Apakah orang di depanku benar-benar memahami maksudku?”
Jika jawabannya belum tentu, mungkin bukan pesannya yang salah —
tapi cara kita menyampaikannya yang perlu diperbaiki.
Penulis : Muhammad Nur Imam
Baca Juga : Politik Infrastruktur Digital: Siapa yang Paling Diuntungkan di Era Teknologi?






