Home / UMKM / Memahami Grade Matcha Culinary, Premium, dan Ceremonial

Memahami Grade Matcha Culinary, Premium, dan Ceremonial

Bagi banyak orang, matcha hanyalah “minuman hijau” yang rasanya mirip teh biasa. Padahal, di balik warna hijaunya, ada dunia panjang tentang tanah, panen, umur daun, hingga cara menggilingnya. Semua itu menentukan “grade”—kelas kualitas matcha yang tidak hanya memengaruhi rasa, tapi juga pengalaman meminum itu sendiri.

Dalam artikel ini, kita membaca ulang tiga grade matcha yang paling dikenal: culinary, premium, dan ceremonial. Bukan untuk memilih mana yang “lebih baik”, tetapi memahami bahwa setiap grade punya ruangnya masing–masing dalam keseharian kita.


🧁 Matcha Culinary Grade: Diracik Bukan untuk Diseruput

Culinary grade adalah matcha yang paling sering hadir di dapur. Warnanya biasanya lebih gelap, aromanya lebih kuat, dan rasa umaminya lebih tebal. Inilah alasan kenapa culinary grade cocok dicampur:

  • dalam adonan roti dan kue,
  • di brownies atau cookies,
  • dalam minuman manis yang menggunakan banyak susu atau gula.

Rasa matcha-nya tetap muncul meski bercampur banyak bahan lain. Culinary grade bukan dibuat untuk diminum murni, melainkan untuk “bekerja keras” di belakang layar.


☕ Matcha Premium Grade: Ruang Tengah untuk Latte Harian

Iced Matcha Latte (sumber gambar: loveandlemons.com)

Jika culinary terlalu kuat dan ceremonial terlalu halus, premium grade berada di tengah. Warnanya lebih cerah, teksturnya lebih halus, dan rasanya lebih seimbang antara bold, creamy, dan sedikit bitter.

Ini adalah matcha yang paling sering direkomendasikan untuk:

  • matcha latte harian,
  • minuman dingin atau panas,
  • konsumen yang ingin kualitas bagus dengan harga yang bersahabat.

Premium grade cocok untuk banyak orang, terutama yang tidak ingin terlalu kompleks tetapi ingin rasa matcha yang “bersih”.


🌱 Matcha Ceremonial Grade: Daun Termuda dan Kehalusan yang Tidak Bisa Disembunyikan

Ceremonial grade adalah kelas tertinggi. Bukan karena harganya, tetapi karena prosesnya:

  • memakai daun teh paling muda di pucuk tanaman,
  • digiling sangat halus dengan batu granit,
  • warnanya hijau cerah vibrant,
  • rasanya lembut, sweet-natural, tanpa pahit berlebih,
  • aromanya segar dan bersih.

Awalnya ceremonial grade diseduh untuk usucha, minuman matcha tradisional Jepang yang hanya menggunakan air panas tanpa campuran lain. Inilah bentuk matcha paling “jujur”.

Namun, banyak kedai modern menggunakan ceremonial grade untuk latte. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi karena hasil akhirnya memang berbeda:

  • latte lebih halus,
  • rasa matcha lebih bersih,
  • aftertaste lebih lembut,
  • warnanya jauh lebih cerah dan indah.

Sehingga kalau ada kedai yang memilih ceremonial grade untuk matcha latte, itu bukan “gimmick”, tetapi pilihan kualitas.


🍵 Tentang Usucha: Cara Terbaik Menikmati Ceremonial Grade

Sajian Matcha untuk Ceremonial (Sumber gambar: ujido.com)

Bagi yang ingin merasakan matcha paling otentik, usucha adalah cara paling sederhana untuk mengenal karakter asli ceremonial grade: lembut, ringan, dan bersih.

Usucha biasanya paling tepat dicoba langsung di kedai, karena teknik whisking-nya memengaruhi rasa dan busa. Bukan ajakan membeli apa pun — hanya rekomendasi pengalaman yang lebih utuh.


🌿 Akhirnya, Semua Kembali ke Tujuan

Culinary bukan rendah. Premium bukan tanggung. Ceremonial bukan sekadar gaya.
Mereka hanya berbeda tujuan:

  • culinary untuk kreasi,
  • premium untuk minuman harian,
  • ceremonial untuk sensasi terlembut dari daun teh termuda.

Yang terpenting adalah bagaimana kita menikmati matcha—apakah untuk rileks setelah hari panjang, untuk menemani kerja, atau untuk sekadar mencari warna hijau yang menenangkan.

Karena pada akhirnya, matcha bukan soal grade… tetapi soal rasa yang ingin kita temukan di dalam secangkir hijau itu.


✍️ Punya Pandangan atau Pengalaman Soal Matcha?

Rayantara selalu membuka ruang bagi siapa pun yang ingin berbagi cerita, opini, atau edukasi seputar minuman, kuliner, hingga budaya harian.

Kalau kamu punya tulisan yang ingin dipublikasikan, kirimkan naskahmu dan jadilah bagian dari gerakan literasi mandiri di Rayantara.

Klik di sini!

Penulis: Rifat Ardan Sany

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *