Kita sering merasa hidup kita sibuk.
Bangun pagi, kerja, kuliah, rapat, proyek, nongkrong, bahkan scroll media sosial pun terasa produktif. Tapi pernahkah kamu bertanya: semua kesibukan ini benar-benar berarti, atau cuma cara halus untuk menghindar dari sesuatu?
Ada kalanya kita terlalu takut pada diam, karena di sanalah pikiran mulai berisik. Maka kita memilih sibuk — bukan karena perlu, tapi karena takut melihat apa yang tersisa di dalam diri.
Mari kita bedah satu per satu.
1. Terlalu Banyak Proyek
Katanya aktif, padahal adiktif.
Setiap kali selesai satu urusan, buru-buru cari yang baru. Bukan karena ingin berkembang, tapi karena takut kehilangan rasa sibuk. Dalam sunyi, kita takut berhadapan dengan pertanyaan: “Kenapa aku sebenarnya melakukan ini?”
2. Nongkrong yang Berulang
Kopi bisa jadi ritual kebersamaan, tapi juga cara kabur dari keheningan.
Kita bilang, “biar gak stres.” Tapi kadang, justru karena kita gak pernah tenang sendiri, kita cari keramaian agar tak perlu memikirkan apa yang sedang kosong.
3. Pekerjaan yang Disembah
Bekerja keras itu mulia. Tapi bekerja sampai lupa diri? Itu candu.
Kita sering membenarkan diri dengan kalimat, “Aku sibuk cari rezeki.” Padahal dalam hati, mungkin kita hanya menunda menghadapi perasaan gagal, kecewa, atau kehilangan arah.
4. Aktivisme yang Tanpa Diri
Bela isu, ikut gerakan, kampanye sosial — semua tampak heroik.
Namun tanpa refleksi, ia bisa menjelma pelarian. Kita marah pada dunia karena lebih mudah dibanding menghadapi luka pribadi. Kadang kita ingin menyelamatkan banyak hal, padahal belum sempat menolong diri sendiri.
5. Produktivitas yang Tidak Seimbang
Setiap hari ada target baru. Buku harus selesai, proyek harus jadi, konten harus naik. Tapi kalau semua dicatat tanpa makna, bukankah itu hanya daftar pelarian?
Kita takut disebut malas, padahal yang kita butuhkan mungkin bukan kerja lebih keras — tapi jeda yang sadar.
📘 Refleksi
Tidak semua kesibukan salah. Tapi banyak kesibukan yang tumbuh dari rasa takut.
Takut ditinggal, takut dianggap gagal, takut tak diakui.
Dan sering kali, kita baru sadar setelah energi habis, hasilnya nihil, dan hati terasa kosong.
Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak aktivitas, tapi keberanian untuk berhenti sejenak — melihat ke arah dalam, bukan keluar.
Rayantara adalah ruang bagi mereka yang ingin menulis, bukan sekadar sibuk.
Kalau kamu punya refleksi, keresahan, atau catatan kecil tentang hidup, kirimkan tulisanmu.
Karena barangkali, dari kejujuran itu, kita belajar kembali: sibuk boleh, tapi jangan sampai kehilangan arah.
Penulis: Sandyaka
Sumber gambar: Freepik.com






